Tuhan, Lihatlah Penderitaanku

Renungan Harian | 22 Okt 2026

Tuhan, Lihatlah Penderitaanku

Bayangkan kita sedang menceritakan sebuah masalah yang begitu berat. Namun, sebelum selesai bercerita, seseorang sudah menyimpulkan bahwa kita sendiri yang bersalah. Alih-alih merasa lega, kita justru merasa semakin sendirian. Bukan berarti kita tidak mau mengakui kesalahan, tetapi ada kalanya kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, tanpa buru-buru menghakimi. Barangkali, itulah salah satu pergumulan yang terdengar dalam ratapan Yerusalem. Di tengah kehancuran kotanya, ia berseru kepada orang-orang yang melintas, memohon agar mereka memperhatikan penderitaannya.

 

Suara semacam itu kita temukan dalam Ratapan 1:12-22. Setelah menggambarkan kehancuran Yerusalem, penyair kini membiarkan kota itu berbicara atas namanya sendiri. “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berjalan lewat?” demikian seruannya (ay. 12). Yerusalem meminta orang-orang yang lewat untuk memperhatikan penderitaannya. Kota yang dahulu ramai dan disegani kini terpuruk, sementara orang-orang yang diharapkan dapat menghiburnya tidak kunjung datang. Bahkan, sekutu-sekutu yang dahulu diandalkannya telah meninggalkannya.

 

Namun, ratapan ini tidak hanya berisi keluhan terhadap orang lain. Yerusalem juga mengakui pemberontakannya terhadap Allah (ay. 18, 20). Ia menyadari bahwa kehancuran yang dialaminya berkaitan dengan ketidaksetiaan umat. Menariknya, pengakuan itu tidak membuatnya berhenti berseru. Ia tetap memohon agar Allah melihat kesengsaraannya. Di sinilah ketegangan teks ini terasa: Allah yang kepada-Nya Yerusalem berseru juga digambarkan sebagai pihak yang mendatangkan hukuman atasnya. Meski demikian, Yerusalem tidak memutuskan percakapannya dengan Allah. Ia terus mengadu, memohon, bahkan meminta keadilan di tengah penderitaannya.

 

Sahabat Alkitab, mengaku kesalahan tidak berarti kita harus menyangkal rasa sakit yang sedang dialami. Kita dapat mengakui kesalahan yang perlu diperbaiki sekaligus mengungkapkan luka yang membutuhkan perhatian. Kita tidak harus menyamarkan kesedihan dengan kata-kata yang terdengar saleh. Ada kalanya doa paling jujur justru berupa sebuah permohonan sederhana: “Tuhan, lihatlah penderitaanku.” Sebab, hidup beriman bukan berarti kita selalu memahami apa yang terjadi. Iman juga memberi ruang bagi kita untuk membawa pergumulan kepada Allah, bahkan saat jawaban-Nya belum kita mengerti.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia