Bayangkan kita sedang menceritakan sebuah masalah yang begitu berat. Namun, sebelum selesai bercerita, seseorang sudah menyimpulkan bahwa kita sendiri yang bersalah. Alih-alih merasa lega, kita justru merasa semakin sendirian. Bukan berarti kita tidak mau mengakui kesalahan, tetapi ada kalanya kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, tanpa buru-buru menghakimi. Barangkali, itulah salah satu pergumulan yang terdengar dalam ratapan Yerusalem. Di tengah kehancuran kotanya, ia berseru kepada orang-orang yang melintas, memohon agar mereka memperhatikan penderitaannya.
Suara semacam itu kita temukan dalam Ratapan 1:12-22. Setelah menggambarkan kehancuran Yerusalem, penyair kini membiarkan kota itu berbicara atas namanya sendiri. “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berjalan lewat?” demikian seruannya (ay. 12). Yerusalem meminta orang-orang yang lewat untuk memperhatikan penderitaannya. Kota yang dahulu ramai dan disegani kini terpuruk, sementara orang-orang yang diharapkan dapat menghiburnya tidak kunjung datang. Bahkan, sekutu-sekutu yang dahulu diandalkannya telah meninggalkannya.
Namun, ratapan ini tidak hanya berisi keluhan terhadap orang lain. Yerusalem juga mengakui pemberontakannya terhadap Allah (ay. 18, 20). Ia menyadari bahwa kehancuran yang dialaminya berkaitan dengan ketidaksetiaan umat. Menariknya, pengakuan itu tidak membuatnya berhenti berseru. Ia tetap memohon agar Allah melihat kesengsaraannya. Di sinilah ketegangan teks ini terasa: Allah yang kepada-Nya Yerusalem berseru juga digambarkan sebagai pihak yang mendatangkan hukuman atasnya. Meski demikian, Yerusalem tidak memutuskan percakapannya dengan Allah. Ia terus mengadu, memohon, bahkan meminta keadilan di tengah penderitaannya.
Sahabat Alkitab, mengaku kesalahan tidak berarti kita harus menyangkal rasa sakit yang sedang dialami. Kita dapat mengakui kesalahan yang perlu diperbaiki sekaligus mengungkapkan luka yang membutuhkan perhatian. Kita tidak harus menyamarkan kesedihan dengan kata-kata yang terdengar saleh. Ada kalanya doa paling jujur justru berupa sebuah permohonan sederhana: “Tuhan, lihatlah penderitaanku.” Sebab, hidup beriman bukan berarti kita selalu memahami apa yang terjadi. Iman juga memberi ruang bagi kita untuk membawa pergumulan kepada Allah, bahkan saat jawaban-Nya belum kita mengerti.
























