Ketika seseorang sedang mengalami kehilangan atau penderitaan, kita sering merasa perlu mengatakan sesuatu untuk menghiburnya. Kita menawarkan nasehat, memberikan penjelasan, atau mengutip ayat-ayat Alkitab dengan harapan dapat meringankan bebannya. Namun, tidak semua luka dapat segera dijelaskan dan tidak setiap kesedihan membutuhkan jawaban. Ada kalanya, seseorang hanya membutuhkan kehadiran yang bersedia mendengarkan dan menemani tanpa tergesa-gesa menghakimi atau menawarkan solusi.
Pengalaman Yehezkiel dalam panggilannya sebagai nabi memperlihatkan bahwa sebelum menyampaikan firman Allah, ia harus terlebih dahulu memakan gulungan kitab yang berisi ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Anehnya, gulungan itu terasa manis seperti madu di dalam mulutnya. Tindakan ini bukan sekadar gambaran bahwa firman Allah harus diterima dan dihidupi. Melalui pendekatan mnemohistory, Prof. E. G. Singgih melihat tindakan tersebut sebagai panggilan bagi Yehezkiel untuk menyerap ingatan kolektif umat Israel yang mengalami kehilangan tanah air dan Bait Suci. Dengan demikian, firman Allah bukan hanya pesan yang harus diucapkan, melainkan juga ingatan dan pergumulan umat yang perlu menyatu dalam diri sang nabi.
Kemanisan gulungan kitab juga menghadirkan makna yang menarik. Isinya adalah ratapan dan keluh kesah, tetapi rasanya manis seperti madu. Dalam penafsiran Singgih, kontras ini menggambarkan kekuatan yang lahir dari ketaatan menerima firman Allah secara utuh. Kenyataan yang dihadapi umat memang pahit, tetapi firman Allah memberi kekuatan untuk menghadapinya dan membuka ruang bagi pengharapan. Karena itu, seorang pelayan Tuhan tidak cukup hanya berbicara tentang keadaan masyarakat. Ia perlu terlebih dahulu memahami, mencerna, dan menghayati pergumulan yang dialami mereka. Firman yang dihidupi kemudian menjadi dasar untuk berpikir dengan jernih dan bertindak dengan benar.
Yehezkiel kemudian diutus kepada orang-orang Israel yang keras hati dan tidak bersedia mendengarkan. Sekalipun menghadapi penolakan, ia harus tetap menyampaikan firman yang dipercayakan kepadanya. Namun, ada bagian menarik ketika ia dibawa oleh Roh ke Tel-Abib, tempat orang-orang buangan tinggal. Di sana, Yehezkiel duduk bersama mereka selama tujuh hari dalam keadaan termangu. Ia tidak langsung berbicara atau memberikan nasihat. Ia hadir di tengah-tengah orang-orang yang sedang mengalami keterasingan dan penderitaan.
Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa pelayanan tidak selalu dimulai dengan kata-kata. Sebelum berbicara kepada mereka yang terluka, kita perlu belajar memahami dan merasakan pergumulan mereka. Tidak semua penderitaan membutuhkan penjelasan segera. Terkadang, kehadiran yang tulus justru menjadi bentuk kepedulian yang paling dibutuhkan.
Sahabat Alkitab, mungkin kita pernah berhadapan dengan seseorang yang sedang kehilangan harapan, berduka, atau menghadapi pergumulan yang tidak mudah diungkapkan. Kita mungkin tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaannya, bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Namun, kita tetap dapat memilih untuk hadir, mendengarkan, dan menemani. Seperti Yehezkiel yang terlebih dahulu menerima dan menghayati pergumulan umat sebelum menjalankan tugasnya, kita pun diajak untuk tidak terburu-buru berbicara sebelum belajar memahami. Sebab, kasih tidak hanya dinyatakan melalui apa yang kita ucapkan, tetapi juga melalui kesediaan untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan tetap tinggal bersama mereka yang sedang terluka.
























