AGAPE: KASIH YANG TULUS?

Artikel | 6 Jan 2026

AGAPE: KASIH YANG TULUS?


Bincang Alkitab | Rico Kasih, M.Th., M.A.

 

Kasih merupakan salah satu tema teologis yang paling menonjol dalam Alkitab. Injil Matius mencatat bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah hukum yang terutama, yang di atasnya seluruh Taurat dan kitab para nabi bergantung (Matius 22:37-40). Pernyataan ini menegaskan bahwa kasih bukan sekadar salah satu nilai etis di antara banyak nilai lain, melainkan poros utama yang menopang keseluruhan iman dan praktik kehidupan umat percaya.

 

Karena sentralitasnya, tema kasih terus-menerus digumulkan dalam tradisi Kristiani. Salah satu pendekatan yang kerap dilakukan adalah dengan menelusuri makna istilah “kasih” dalam bahasa asli Alkitab, khususnya dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru. Dalam konteks inilah istilah ἀγάπη (agape) memperoleh perhatian khusus dan sering kali diposisikan sebagai bentuk kasih yang paling luhur, kasih yang tidak bersyarat, tidak egois, dan rela berkorban. Bahkan, agape kerap diidentikkan dengan kasih Allah Bapa yang menyelamatkan manusia.

 

Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah Alkitab sendiri secara konsisten menggunakan agape hanya dalam makna tersebut? Atau, sebaliknya, apakah makna agape dalam Alkitab ternyata lebih luas dan beragam daripada yang sering diasumsikan? 

 

Keragaman Bahasa Kasih dalam Alkitab

Seperti bahasa Indonesia yang mengenal berbagai istilah: kasih, cinta, sayang, bahasa-bahasa Alkitab pun memiliki kekayaan kosakata untuk mengungkapkan pengalaman cinta dan kasih. Bahasa Ibrani, misalnya, mengenal istilah אַהֲבָה (’ahavah) sebagai kata yang paling umum untuk kasih, tetapi juga menggunakan istilah lain seperti רָחַם (rakham) yang bernuansa belas kasih, חָבַב (khabav), dod, ‘agav, khashaq, dan ratsah, yang masing-masing membawa nuansa relasional, afektif, maupun hasrati.

 

Bahasa Yunani pun tidak kalah kaya. Selain ἀγαπάω (agapaō) dan φιλέω (phileō) yang sering muncul dalam Perjanjian Baru, terdapat pula ἔρως (eros) dan στοργή (storgē). Namun demikian, dua istilah terakhir ini hampir tidak digunakan dalam teks kanonik Perjanjian Baru. Storgē hanya muncul dalam bentuk terikat (philostorgos, astorgos) di Roma 12:10 dan Roma 1:31, sementara eros tidak muncul sama sekali dalam teks Perjanjian Baru, meskipun ditemukan dalam terjemahan Yunani Perjanjian Lama, yaitu Septuaginta (LXX).

 

Agape dan Eros dalam Septuaginta: Menembus Dikotomi Modern

Kajian terhadap Septuaginta memperlihatkan bahwa penerjemah Yunani Perjanjian Lama menggunakan istilah ἀγάπη (agape) secara sangat luas, terutama untuk menerjemahkan kata Ibrani ’ahavah. Menariknya, dalam beberapa konteks tertentu, penerjemah justru memilih kata kerja dari ἔρως (eros) 🡪 ἐρᾶν (erân).

 

Contoh, dalam Ester 2:17, ketika kasih raja kepada Ester diterjemahkan dengan kata kerja dari eros. Padahal, teks Ibrani menggunakan ’ahavah. Demikian pula dalam Amsal 4:6, dorongan untuk “mengasihi hikmat” diterjemahkan dengan eros, yang menyiratkan intensitas hasrat dan keinginan yang kuat terhadap hikmat tersebut.

 

Fakta ini menunjukkan bahwa dalam praktik penerjemahan LXX, tidak ada pemisahan kaku antara agape sebagai kasih “rohani” dan eros sebagai kasih “duniawi” atau “hasrat”. Kedua istilah tersebut dapat digunakan untuk menerjemahkan ’ahavah, tergantung konteks dan nuansa relasi yang hendak ditekankan.

 

Tiga Pola Penggunaan Agape dalam Perjanjian Lama

Survei terhadap penggunaan ἀγάπη (agape) dalam Septuaginta menunjukkan setidaknya tiga pola utama:

 

  1. Agape dengan Subjek Ilahi

Agape digunakan untuk menggambarkan kasih Allah kepada manusia, termasuk kasih yang bersifat memilih dan menempatkan objek pada posisi istimewa. Contoh klasiknya terdapat dalam Maleakhi 1:2-3, di mana kasih Allah kepada Yakub dinyatakan secara kontras dengan Esau. Dalam konteks ini, agape tidak hanya menunjuk pada afeksi, tetapi juga pada tindakan pemilihan ilahi.

 

  1. Agape Antar-Manusia dan Kasih Manusia kepada Allah

Agape juga digunakan ketika subjeknya adalah manusia, baik dalam relasi dengan Allah maupun dengan sesama. Kasih manusia kepada Allah tampak dalam ketaatan dan ibadah (Ulangan 5:10; 11:1). Dalam relasi antar-manusia, agape digunakan untuk menggambarkan kasih suami kepada istri (Kejadian 24:67), kasih orang tua yang bersifat preferensial (Kejadian 25:28; 37:3), hingga relasi persahabatan yang erat, seperti antara Daud dan Yonatan (1 Samuel 20:17).

 

Namun, agape juga dipakai dalam kisah yang memperlihatkan sisi gelap dari apa yang disebut sebagai “kasih”, seperti cinta Amnon kepada Tamar (2 Samuel 13), yang sarat dengan hasrat egoistis dan berujung pada kebencian. Penggunaan ini menunjukkan bahwa agape, ketika dipakai untuk relasi antar-manusia, tidak secara otomatis menunjuk pada kasih yang tulus, murni, atau menyelamatkan, melainkan bergantung pada arah dan karakter relasi itu sendiri

 

  1. Agape dengan Objek Non-Personal: Dari Nilai Abstrak hingga Kepemilikan Material

Lebih jauh lagi, agape digunakan untuk menggambarkan kecintaan manusia terhadap hal-hal non-personal, seperti didikan, pengetahuan, kebaikan, bahkan uang dan suap (Amsal 12:1; Pengkhotbah 5:9; Yesaya 1:23). Hal ini semakin menegaskan luasnya cakupan makna agape dalam Alkitab Yunani.

 

Agape dalam Perjanjian Baru: Antara Model Ilahi dan Realitas Manusia

Dalam Perjanjian Baru, agape memang sering digunakan untuk menggambarkan kasih Allah yang dinyatakan melalui tindakan konkret, seperti dalam Yohanes 3:16 dan Roma 5:8. Kasih Bapa kepada Anak, kasih Yesus kepada murid-murid-Nya, dan kasih Allah kepada manusia menjadi model ideal bagi relasi kasih di antara umat percaya (Yohanes 13:34; 15:9).

 

Namun, penggunaan agape tidak terbatas pada konteks ideal tersebut. Istilah yang sama digunakan untuk menggambarkan manusia yang mengasihi kegelapan (Yohanes 3:19) atau lebih mengasihi kehormatan manusia daripada kehormatan Allah (Yohanes 12:43). Dengan kata lain, agape juga dapat menunjuk pada orientasi kasih yang keliru.

 

Agape dan Filia: Variasi Gaya Bahasa, Bukan Hirarki Kasih

Salah satu teks yang paling sering dijadikan dasar pembagian “tingkatan kasih” adalah Yohanes 21:15-19, percakapan Yesus dengan Petrus. Di sana, Yesus menggunakan kata ἀγαπάω (agapáō), sementara Petrus menjawab dengan φιλέω (phileō), dan pada pertanyaan ketiga Yesus pun menggunakan φιλέω (phileō). Pembacaan populer sering menafsirkan perbedaan ini sebagai perbedaan kualitas kasih.

 

Namun, jika memperhatikan kebiasaan linguistik Injil Yohanes, agape dan filia kerap digunakan secara sejajar dan sinonim. Yohanes menyebut “murid yang dikasihi Yesus” dengan kedua istilah tersebut (Yohanes 13:23; 20:2). Kasih Bapa kepada Anak dan kepada murid-murid-Nya pun dinyatakan dengan kedua verba tersebut (Yohanes 3:35; 5:20; 16:27). Paulus pun menggunakan agape dan filia secara sinonim dalam konteks kasih manusia kepada Allah (1 Korintus 8:3; 16:22).

 

Dengan demikian, perbedaan istilah dalam Yohanes 21 lebih tepat dipahami sebagai variasi retoris dan gaya bahasa, bukan penetapan hierarki kasih.

 

Penutup

Penelusuran terhadap penggunaan istilah ἀγάπη (agape) dalam Alkitab menunjukkan bahwa istilah ini memiliki cakupan makna yang luas dan kompleks. Agape dapat menunjuk pada kasih Allah yang menyelamatkan, tetapi juga pada preferensi manusiawi, relasi persahabatan, bahkan hasrat egoistis. Subjek dan objek agape pun sangat beragam, mencakup Allah, manusia, dan bahkan benda abstrak maupun konkret.

 

Oleh karena itu, pembacaan Alkitab yang bertanggung jawab menuntut kehati-hatian untuk tidak serta-merta memasukkan definisi populer “kasih yang tulus dan tanpa syarat” ke dalam setiap teks yang menggunakan istilah agape. Sebaliknya, setiap penggunaan istilah tersebut perlu dipahami dalam konteks naratif, relasional, dan teologisnya masing-masing.

 

Dengan cara inilah kekayaan makna kasih dalam Alkitab dapat dihayati secara lebih utuh dan jujur, bukan sebagai konsep yang disederhanakan, melainkan sebagai realitas relasional yang dinamis di hadapan Allah dan sesama.


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia