Seminar Alkitab | Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D
Kitab Yunus menempati posisi unik dalam korpus Perjanjian Lama. Berbeda dari kitab nabi-nabi lain yang berfokus pada kumpulan nubuat, kitab Yunus hampir sepenuhnya berbentuk narasi. Lebih jauh lagi, narasi ini menampilkan seorang nabi yang bertindak secara paradoksal: ia menolak panggilan ilahi, melarikan diri dari mandat profetik, dan secara terbuka memprotes tindakan Allah yang penuh belas kasih. Keunikan ini menunjukkan bahwa kitab Yunus tidak dimaksudkan sebagai biografi nabi atau laporan historis, melainkan sebagai teks teologis yang bersifat reflektif dan polemis.
Ketegangan utama dalam kitab ini bukan antara Yunus dan bangsa Niniwe, melainkan antara teologi yang dihidupi oleh tokoh Yunus dan teologi yang diartikulasikan oleh kitab Yunus itu sendiri. Dalam arti ini, kitab Yunus dapat dibaca sebagai kritik internal terhadap eksklusivisme religius yang berkembang dalam komunitas iman tertentu, sekaligus sebagai afirmasi atas universalitas rahmat Allah.
Masalah Historisitas dan Kekeliruan Fokus Penafsiran
Sejarah penafsiran kitab Yunus menunjukkan kecenderungan kuat untuk memusatkan perhatian pada persoalan historisitas, khususnya terkait kisah Yunus di dalam perut ikan, pertobatan massal Niniwe, dan deskripsi geografis kota tersebut. Pendekatan semacam ini biasanya terpolarisasi antara kubu maksimalis, yang mengasumsikan historisitas literal teks, dan kubu minimalis, yang memandangnya sebagai alegori, kiasan, atau perumpamaan.
Namun, perdebatan ini sering kali gagal membedakan antara kebenaran historis dan kebenaran teologis. Kitab Yunus tidak menunjukkan minat yang serius terhadap akurasi historis; sebaliknya, ia memperlihatkan ketidaktepatan faktual yang justru mengisyaratkan maksud sastra. Dengan demikian, mempertahankan pembacaan historis literal terhadap kitab Yunus berisiko menutup akses terhadap pesan teologis yang hendak disampaikan teks.
Metodologi: Kritik Ideologi dalam Perspektif Diakronik dan Sinkronik
Untuk membaca kitab Yunus secara memadai, pendekatan kritik ideologi menawarkan kerangka metodologis yang relevan. Kritik ideologi berangkat dari asumsi bahwa teks Alkitab bukanlah produk netral, melainkan hasil pergulatan gagasan dalam konteks sosial dan religius tertentu. Teks menjadi arena “pertarungan ide” (the battles of ideas), tempat berbagai visi teologis dinegosiasikan dan diperdebatkan.
Dalam dimensi diakronik, kritik ideologi menelusuri latar sosial-historis pembentukan teks: waktu penulisan, konteks komunitas pembaca awal, serta tradisi yang memengaruhi penyusunannya. Dalam dimensi sinkronik, perhatian diarahkan pada struktur naratif, karakterisasi, ironi, dan strategi retoris teks sebagaimana hadir di hadapan pembaca. Kedua dimensi ini tidak dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai saling melengkapi.
Konteks Diakronik: Waktu Penulisan dan Tujuan Kitab Yunus
Meskipun kitab Yunus mengaitkan tokohnya dengan Yunus bin Amitai (2 Raja-raja 14:25), mayoritas ahli sepakat bahwa kitab Yunus ditulis jauh setelah masa nabi tersebut. Analisis linguistik menunjukkan penggunaan bahasa Ibrani pasca-pembuangan dengan pengaruh Aram yang kuat, yang menempatkan teks ini dalam periode Bait Allah Kedua, kemungkinan sekitar abad ke-3 SM.
Lebih jauh lagi, indikasi bahwa Niniwe digambarkan sebagai entitas masa lampau (Yunus 3:3) serta penyebutan “raja Niniwe” alih-alih raja Asyur menguatkan dugaan bahwa teks ini ditulis setelah kehancuran Niniwe pada tahun 612 SM. Dengan demikian, kitab Yunus tidak dimaksudkan untuk menggambarkan peristiwa kontemporer, melainkan menggunakan figur dan simbol historis untuk menanggapi persoalan teologis yang dihadapi komunitas pasca-pembuangan, khususnya terkait identitas, pemilihan ilahi, dan relasi dengan bangsa-bangsa lain.
Karakter Sastra: Satir, Ironi, dan Humor sebagai Strategi Teologis
Secara genre, kitab Yunus paling tepat dipahami sebagai karya sastra teologis dengan nuansa satiris dan ironis. Unsur-unsur yang tampak “tidak masuk akal” secara historis, seperti kota besar yang bertobat total dalam waktu singkat, hewan yang ikut berpuasa, atau nabi yang bermazmur di perut ikan, berfungsi sebagai perangkat retoris untuk menajamkan pesan teologis.
Ironi mencapai puncaknya ketika seorang nabi Israel tampil sebagai figur yang paling tidak mencerminkan kehendak Allah, sementara bangsa kafir justru merespons Allah dengan kerendahan hati dan pertobatan. Dalam kerangka ini, Yunus menjadi cermin yang memantulkan kecenderungan eksklusivisme religius komunitas pembaca, bukan teladan iman yang patut ditiru.
Teologi Yunus: Eksklusivisme sebagai Masalah Utama
Motivasi Yunus baru diungkap secara eksplisit dalam pasal 4, ketika ia mengakui bahwa pelariannya didorong oleh pengetahuan akan karakter Allah yang pengasih dan penyayang. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yunus bukanlah nabi yang gagal memahami Allah, melainkan nabi yang menolak implikasi etis dari pengenalannya akan Allah.
Dalam teologi operatif Yunus, rahmat Allah seharusnya bersifat partikular dan selektif. Allah diharapkan bertindak sesuai dengan kategori “kami” dan “mereka”, “umat pilihan” dan “musuh”. Dengan demikian, kemarahan Yunus mencerminkan resistensi terhadap Allah yang bertindak melampaui batas-batas identitas religius dan nasional.
Teologi Kitab Yunus: Universalitas Rahmat Allah
Berhadapan dengan teologi Yunus, kitab Yunus secara konsisten menampilkan Allah yang berdaulat dan bebas dalam kasih-Nya. Allah digambarkan peduli bukan hanya kepada Israel, tetapi juga kepada bangsa asing, bahkan kepada makhluk selain manusia. Penutup kitab yang bersifat open ending menolak resolusi moral yang sederhana, dan justru mengarahkan pertanyaan etis kepada pembaca.
Dengan demikian, kitab Yunus berfungsi sebagai kritik terhadap partikularisme teologis yang mengklaim monopoli atas Allah dan kebaikan-Nya. Ia menegaskan bahwa pemilihan ilahi tidak dimaksudkan sebagai hak istimewa eksklusif, melainkan sebagai panggilan untuk merefleksikan karakter Allah yang penuh belas kasih.
Implikasi Teologis: Dari Eksklusivisme menuju Inklusivitas Kritis
Pembacaan kitab Yunus dalam perspektif kritik ideologi membuka ruang refleksi teologis yang luas. Inklusivitas yang ditawarkan kitab ini bukanlah relativisme iman, melainkan koreksi terhadap absolutisasi identitas religius. Kitab Yunus menantang komunitas beriman untuk membedakan antara kesetiaan pada Allah dan kesetiaan pada konstruksi teologis buatan manusia.
Dalam konteks kehidupan beriman kontemporer yang ditandai oleh pluralitas agama, konflik identitas, dan polarisasi social, kitab Yunus mengingatkan bahwa Allah tidak dapat direduksi menjadi simbol pembenaran kelompok. Iman yang dewasa ditandai oleh kesediaan membiarkan Allah tetap bebas menjadi Allah, bahkan ketika kebebasan itu mengguncang rasa keadilan kita sendiri.
Penutup
Kitab Yunus pada akhirnya bukanlah kisah tentang pertobatan Niniwe, melainkan tentang krisis teologis seorang nabi dan komunitas yang diwakilinya. Melalui narasi satiris dan ironis, kitab ini mengajak pembaca untuk bercermin: sejauh mana teologi kita membuka ruang bagi rahmat Allah yang universal, dan sejauh mana kita, seperti Yunus, berusaha mengendalikannya?
Dalam ketegangan inilah kitab Yunus terus berbicara, bukan hanya sebagai teks kuno, tetapi sebagai suara profetik yang relevan bagi iman dan praksis gereja masa kini.
“Mengatakan ‘Tuhan itu baik’ itu gampang, tapi pertanyaannya: masihkah kita bisa berkata Tuhan itu baik ketika kebaikan-Nya justru dialami oleh orang yang kita anggap lawan, saingan, bahkan orang yang menurut kita tidak pantas? Jangan-jangan tanpa sadar kita seperti Yunus, memonopoli kebaikan Tuhan dan bahkan memonopoli Tuhan itu sendiri, seolah-olah Dia hanya milik kita, milik kelompok kita, milik cara pikir teologi kita. Padahal kalau Tuhan kita kerangkai dalam konsep kita, yang kita sembah bukan Tuhan, tapi konsep tentang Tuhan. Maka tantangannya berat: bebaskan Tuhan sebagai Tuhan, dan biarkan kebaikan-Nya mengalir” (Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D)
























