Pdt. O.E.Ch. Wuwungan: Pegangan Satu-satunya Hanyalah Pertolongan Tuhan

Artikel | 29 Jan 2026

Pdt. O.E.Ch. Wuwungan: Pegangan Satu-satunya Hanyalah Pertolongan Tuhan


Berita yang digaungkan di situs Radio Republik Indonesia (RRI) cukup mengagetkan. Pdt. Wuwungan, Sang Penjaga Iman GPIB meninggal dunia. Bagi keluarga Lembaga Alkitab Indonesia Pdt. Olbers Elhardus Christian Wuwungan bukanlah orang asing. Beliau adalah satu-satunya anggota Tim Penerjemah Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang hampir setengah abad kemudian kembali terlibat sebagai anggota Tim Revisi Alkitab Terjemahan Baru atau dikenal sebagai Alkitab TB-2, yang terbit pada 2023.

 

Wuwungan lahir pada 28 Juni 1934 di Jakarta. Sejak kecil ia sudah diharapkan neneknya untuk menjadi pendeta. Apalagi kakek buyutnya atau ayah dari neneknya juga seorang pendeta yang mendampingi Pdt. Graafland, misionaris yang bertugas di Maliku, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Kebetulan, dua sosok pendeta yang sangat dihormati di Minahasa, yaitu, Pdt. W.J.Rumambi (mantan Sekum DGI pertama dan perintis LAI) dan Pdt. R.Luntungan (mantan Ketua Majelis Jemaat GPIB ‘Paulus’, Jakarta) saat studi di Jakarta pernah ‘indekos’ di rumah neneknya.

 

“Ayah saya pengusaha swasta, yang kemudian bekerja di bidang asuransi. Beliau ingin saya menggantikannya. Saya menolak keinginan beliau. Dambaan dan doa nenek mulai mewujud nyata”, katanya. “Saya memang sangat dekat dengan nenek,”katanya.

 

Selamat tinggal di rumah kakek neneknya, ia mendengar beragam cerita Alkitab. Kakeknya aktif dalam pelayanan gereja. Beliau merupakan seorang penatua di jemaat GPIB Imanuel, Jakarta. Bagi Wuwungan Alkitab memiliki arti penting karena mengajarkan nilai-nilai yang mendasar dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

 

Selepas menyelesaikan Sekolah Lanjutan Atas, ia masuk Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Ia lulus dari STT Jakarta pada tahun 1961 dengan predikat cum laude. Tak lama sesudahnya, dosennya di STT asal Swiss, Dr. Christoph Barth, memintanya untuk ikut terlibat dalam Proyek Penerjemahan Alkitab, yang diprakarsai oleh Lembaga Alkitab Belanda (NBG) dan kemudian nantinya diambil alih oleh LAI. “Tidak semua orang asing yang terlibat dalam tim penerjemahan Alkitab adalah orang Belanda,”terangnya.

 

Ia menerima saran Barth untuk bergabung dengan LAI. Padahal ia juga mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Seorang mahaguru STT, Dr. Müller Krüger menganjurkan Wuwungan melanjutkan studi di Jerman. Namun, Barth mengatakan supaya lebih dulu bergabung dengan LAI selama tiga tahun. Ternyata bukan tiga, namun tiga belas tahun lamanya ia terlibat dalam proyek penerjemahan Alkitab Terjemahan Baru (TB).

 

Kerja tim yang teliti dan mementingkan segi rinci menjadi salah satu sebab proyek TB ini berlangsung begitu lama. Bahkan pakar penerjemahan Alkitab dari Persekutuan Lembaga Alkitab Sedunia (UBS), Dr. Eugene Nida menyatakan tim TB LAI bekerja terlalu lambat. Ia meminta tim bekerja lebih cepat.

 

Badan Pengurus LAI kemudian menetapkan Drs. C.D. Grijns, Sekretaris Departemen Penerjemahan diganti oleh Wuwungan. Ketika mengemban jabatan itu, ia harus menghadapi dua orang mahagurunya sendiri, Prof.Dr. J.L.Ch. Abineno (Ketua Tim Penjanjian Baru) dan Prof.Dr.R. Soedarmo (Ketua Tim Perjanjian Lama). Tidak mudah berkoordinasi dengan para mantan guru, sedang Grijns adalah mantan gurunya dalam mata kuliah bahasa Yunani di STT dan Dr. Arie de Kuiper adalah mantan dosen  Perjanjian Lamanya di STT Jakarta.

 

”Perdebatan dan bentrok di antara anggota tim saat mempertahankan pendapat tak jarang terjadi, sampai-sampai dua anggota tim, Barth dan Saudara Naipospos, akhirnya meninggalkan proyek ini. Namun, Tuhan tetap memimpin kerja tim agar menghasilkan karya yang terbaik. Akhirnya pada tahun 1974, tim berhasil menyelesaikan Alkitab Terjemahan Baru,”kenangnya.

 

Pengalaman hidup memberi Wuwungan keyakinan bahwa Allah bisa memberikan banyak hal yang tidak terduga. Ia menyadari bahwa ada keinginan-keinginan yang tidak terkabulkan, namun ada banyak jalan yang menakjubkan yang Allah rancangkan. Tuntunan-Nya luar biasa. 

 

Setelah Alkitab TB terbit pada 1974, barulah Wuwungan  memperoleh kesempatan melanjutkan studi atas tawaran Lembaga Alkitab Belanda. Pada bulan Februari 1975 ia bertolak ke Belanda untuk mendalami  studi Perjanjian Lama di Rijskuniversiteit Utrecht. Gelar doktor diperoleh oleh Wuwungan dari STT Jakarta pada 1983.

 

“Selepas lulus dari STT Jakarta pada 1961 saya begitu ingin melanjutkan studi, namun keinginan itu baru dikabulkan 14 tahun kemudian. Hikmahnya, saya bisa membantu penyelesaian Alkitab Terjemahan Baru. Hal itu memperkuat wawasan saya”, lanjutnya. Ia begitu bersyukur , meskipun banyak tantangan, benturan dan pergolakan terjadi, Alkitab Terjemahan Baru akhirnya dapat terbit dan menjadi berkat bagi seluruh umat Kristen di Indonesia. Ada nilai yang diajarkan Kristus : “Jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi (Luk. 22:42),” katanya.

 

Pada tahun 1990, Pdt. Wuwungan terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), yang dijabatnya selama dua periode hingga tahun 2000. Pdt. Wuwungan juga pernah menjadi Pengurus BPK Gunung Mulia pada 1989 dan masuk dalam Komisi Teologi BPK Gunung Mulia pada 1990.

 

Lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Bekerja di LAI dan berkarya di gereja, lain pula tantangannya. Di gereja, ia pernah mengalami yang namanya tantangan maupun ancaman. Namun, Pdt. Wuwungan senantiasa berharap pada penyertaan dan tuntunan Tuhan, “Yang benar harus dinyatakan benar, yang salah harus dinyatakan salah, walaupun kita menghadapi resiko,“ tegasnya.

 

”Tuhan Yesus sendiri mengalami penghinaan, pencobaan dan perlakuan yang tidak adil, namun ia bersikap rendah hati dan tidak melakukan pembalasan. Orang yang mengikut Dia harus pula siap meneladani sikap Tuhan kita. Di saat kritis dan khawatir, pegangan dan andalan satu-satunya hanyalah pertolongan Tuhan,”lanjutnya.

 

Di usianya senjanya Pdt. Wuwungan masih sehat dalam gerak dan jernih dalam pikir. Kesehatan baginya adalah anugerah Tuhan yang memampukannya menjalankan tugas yang diberikan-Nya. Orang bertanya, apa rahasianya. Ia mengaku, hal pertama yang dilakukan adalah senantiasa berserah kepada Tuhan. Bagi Wuwungan, kepada Tuhan kita boleh meminta segala hal, termasuk kesehatan jasmani dan rohani. Yang kedua, ia secara rutin melalukan olahraga, seperti Tai-chi. Yang terakhir, makan secukupnya. “Apa yang terasa enak di lidah belum tentu berfaedah untuk tubuh,”terangnya. Berbeda dari orang-orang Manado pada umumnya, Wuwungan jarang makan daging-dagingan. Sejak muda ia lebih suka makan sayur, ikan dan buah-buahan.

 

Setelah sekian lama berkarya di Gereja hingga memasuki masa emiritat (purnabakti),  pada 2005 ia kembali diikutsertakan dalam Tim Revisi Perjanjian Lama Terjemahan Baru (1974).  Sekretaris Umum LAI pada masa itu, Drs.Supardan M.A., dan Konsultan Penerjemahan LAI, Pdt.Anwar Tjen Ph.D, memintanya untuk bergabung dalam Tim Revisi Alkitab Terjemahan Baru. Setelah puluhan tahun dipergunakan umat Kristen di Indonesia, karya yang dihasilkan timnya pada tahun 1974, telah tiba waktunya untuk diperbarui. Hasil revisi diharapkan lebih jelas dan tepat bahasanya, sehingga mudah dimengerti oleh para pembaca Alkitab pada masa kini.

 

Pdt. Wuwungan awalnya menolak undangan dari LAI. Ia beralasan sudah sedemikian lama tidak bergumul dengan persoalan-persoalan teks Kitab Suci, karena ia lebih banyak terlibat dalam pelayanan kepemimpinan praktis gerejawi. Namun, Pdt. Anwar selaku Konsultan Penerjemahan LAI masih mempercayai pengalaman dan latar belakang keilmuan beliau.

 

”Penerjemahan dan penerbitan Alkitab sedikit berbeda daripada penerbitan lainnya. Dalam terbitan Alkitab tidak tercantum nama anggota Tim Revisi sehingga tidak banyak orang yang tertarik dengan usaha ini, apalagi kalau bertahun-tahun harus menelaah naskah,”tuturnya.

 

Tentu ada perbedaan antara pekerjaan tim pada era lampau (1974) dan era Terjemahan Baru Edisi 2 (2023). Jika dulu teknologi masih terbatas, sekarang tim didukung teknologi sudah demikian canggih, misalnya bantuan dari software Paratext, yang membuat proses revisi lebih cepat. Sekarang eranya serba komputerisasi. Menurut Pak Wuwungan, catatan dan tulisan tangan memiliki ciri khas, yang membuat orang mengingat apa yang pernah dikoreksi dan bagaimana terjadi suatu perubahan.

 

Pembaruan terjemahan Alkitab Terjemahan Baru, menurut Pdt. Wuwungan memiliki arti yang penting, terutama untuk generasi penerus. Ia berharap Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2 (TB-2), yang akhirnya terbit pada 2023,  isinya lebih mudah dibaca dan dipahami. Beliau juga berharap Alkitab yang baru ini menggugah dan meresap dalam hati dan pikiran pembacanya serta membuat orang menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

Seperti halnya hasil terjemahan sebelumnya, Firman Tuhan perlu diteruskan kepada semua orang dari semua generasi yang beragam latar belakangnya. Firman tertulis sebagai tradisi yang sudah berlangsung ribuan tahun, pada masa kini masih terus dibutuhkan. Selama Tuhan berkenan, tradisi ini akan terus dikerjakan, karena banyak orang menantikan Kabar Baik dalam bahasa yang jelas dan mudah dimengerti.

 

Pada Selasa 27 Januari 2026, Pdt. (Em.) O.E.Ch. Wuwungan, D.Th. dipanggil pulang ke rumah Bapa di surga. Duka cita dan kehilangan tidak hanya dirasakan oleh kerabat terdekat, tapi juga  terasa di tengah keluarga besar LAI dan juga  Sinode GPIB yang telah puluhan tahun dilayaninya dengan setia.

 

Terucap juga syukur karena buah karyanya, baik Alkitab TB-1 (1974) maupun Alkitab TB-2 (2023), telah menginspirasi dan menguatkan iman umat kristiani di Indonesia dari berbagai generasi. Harapan Pak Wuwungan terwujud: Alkitab itu telah menemani perjalanan umat kristiani, meresap ke dalam hati dan membuat orang percaya kepada Yesus Kristus. Alkitab itu telah menghadirkan berkat bagi Indonesia. Nama Olly Wuwungan mungkin tidak tercatat dalam Alkitab terbitan LAI, tapi Kristus pasti tidak akan lupa. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu,” (Mat. 25:21). Wuwungan kini sudah tinggal dalam kebahagiaan abadi bersama Tuhannya.

 

 

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia