“Kita tidak mulai berada di dunia ini dengan dokumen-dokumen mengenai Tuhan. Di Taman Firdaus, di senja yang sejuk, Dia mengunjungi kita secara pribadi untuk berbicara dengan kita. Pena dan kertas tak diperlukan …” (Prof. Jacob van Bruggen, 2013). Relasi dan komunikasi antara Tuhan dan dunia sejatinya tidak mulai dari tulisan atau kitab-kitab. Jauh sebelum dikenal tulisan, kisah dan pesan dari perjumpaan dengan Yang Ilahi telah diteruskan dari generasi ke generasi. Transmisi ingatan dan tradisi sakral mengambil bentuk yang semakin efisien dalam lintasan sejarah seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi: dari dinding batu ke lempeng tanah liat, dari kulit hewan ke gulungan papirus hingga kodeks (lembar-lembar yang dijilid).
Penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (abad ke-15) menandai era baru yang dapat disebut “revolusi cetak”. Teknologi baru ini memungkinkan penyebaran tulisan-tulisan dengan jauh lebih murah dan cepat. Alkitab Latin, Vulgata, pertama kali dicetak sekitar tahun 1455, awalnya masih setara dengan upah rata-rata pekerja selama tiga tahun. Melalui inovasi demi inovasi, sekarang jutaan Alkitab dan kitab-kitab dapat dicetak dalam hitungan bulan dan bahkan minggu di atas kertas tipis yang dinamai “bible-paper”.
Menjelang akhir ke-20, dengan penemuan komputer, internet, ponsel hingga berbagai media komunikasi sosial dan informasi mahadata (big data), lompatan-lompatan “revolusi digital” sedang mengubah perilaku masyarakat dan individu dalam semua lini kehidupan yang dipenetrasinya. Segala jenis informasi tersebar secara kilat. Di ruang-ruang virtual, advokasi dan degradasi nilai-nilai berseliweran dan bertarung sengit. Batas antara realitas dan hiperrealitas kian lebur, apalagi bagi generasi-generasi muda yang kerap digelari “warga asli” dunia digital (digital natives).
Sisi positifnya, dengan konektivitas yang serba mudah dan segera, akses kepada berbagai sumber informasi terkuak lebar-lebar sehingga dapat mengungkap kesadaran baru tentang hak asasi manusia, keragaman identitas dan budaya, serta nilai-nilai yang berpihak pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Penggunaannya dapat menumbuhkembangkan peradaban cinta kasih dan mendukung berbagai perjuangan demi kelangsungan hidup yang bermartabat dan berkeadaban di planet ini. Meski di tahapan dini perkembangannya, aplikasi-aplikasi yang mengandalkan kecerdasan buatan (“artificial intelligence”, AI) telah menunjukkan potensi dan kontribusinya yang luar biasa menjanjikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan produk-produk inovatif.
Akan tetapi, kemudahan akses di era “mahadata” identik dengan mudahnya peredaran informasi menyesatkan, ujaran kebencian, opini dan imaji yang menyuburkan benih-benih prasangka atas nama suku, agama, ras, antar-golongan. Kejahatan di dunia maya (“cybercrime”), perang informasi, dan beragam perangkap “online” seperti pinjaman “online” (pinjol) dan judi “online” (judol), telah membuktikan efek desktruktif dari teknologi yang diperalat secara manipulatif dan eksploitatif. Dalam komunikasi sosial, penyalahgunaan AI sangat memudahkan distorsi informasi yang dilemparkan ke ruang dalam bentuk disinformasi dan misinformasi.
Ambivalensi yang diakselerasi oleh kecanggihan teknologi seperti yang digambarkan di atas niscaya menghadirkan tantangan besar bagi kesaksian dan pelayanan umat Tuhan di dunia kini. Sejauh mana teks-teks sakral yang lahir dari rahim sejarah sejarah ribuan tahun silam tetap relevan? Bagaimana Sabda Ilahi tetap menyapa, mengarahkan dan mentransformasi hidup manusia kini? Bagaimana gereja dan lembaga-lembaga pelayanan dapat berselancar memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka dalam pusaran gelombang perubahan ini? Pertanyaan-pertanyaan sejenis dapat diperluas nyaris tanpa batas.
Salah satu narasi paling mendasar dalam Kitab Suci menguak cakrawala pemahaman iman tentang masuknya Yang Ilahi ke dalam dunia kita. Injil Yohanes menegaskan bahwa Firman Ilahi (Yunani: logos) yang sudah ada sejak mulanya telah menjadi “daging” (sarx, “manusia fana”) dan tinggal di antara kita (Yoh 1:1, 14). Verba Yunani eskenosen secara harfiah terkait dengan gambaran membangun kemah dan berkemah, seperti Kemah Suci tempat Allah berdiam sementara dan berpindah-pindah menyertai umat-Nya. Dimensi inkarnasional ini memberi landasan yang mendorong umat beriman di sepanjang sejarah untuk memanfaatkan “kemah-kemah” baru yang terbuka bagi kehadiran Sang Firman. Jika Kristus yang bangkit berpesan agar dengan kuasa Roh para murid bersaksi dari Yerusalem sampai ke “ujung bumi” (Kis 1:8), maka di era digital muncul “ujung-ujung” baru yang berciri non-teritorial, dengan rekonfigurasi spasialitas dan temporalitas di relung-relung perjumpaan virtual.
Sejak 2012 di lingkungan lembaga-lembaga Alkitab sedunia, Alkitab dan bagian-bagiannya dalam berbagai format telah dihadirkan melalui perpustakaan digital yang dinamai Digital Bible Library (DBL): “DBL is the largest online Bible library in the world. It offers text, audio, video, print, and braille Scripture in thousands of languages. Our goal is to make it easier to access and license Scripture through one simple platform. This helps people everywhere hear, read, and see God’s Word in the language they know best.” Hingga kini telah tersedia sekitar 7500 konten dalam berbagai media yang dapat “diterjemahkan” ke dalam beragam aplikasi Alkitab.
Dengan visi “menjangkau semua generasi”, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menyadari keragaman dan perbedaan aspirasi antara berbagai generasi yang hendak disapa oleh firman Tuhan dalam aneka sarana komunikasi dan platform media yang tersedia, baik generasi-generasi yang hidup di pelosok-pelosok terpencil tanpa sinyal maupun generasi-generasi yang dijuluki digital immigrants dan digital natives. Kerinduan kita bersama-sama agar semua generasi memperoleh kesempatan untuk mengakses Alkitab dan bagian-bagiannya dalam bahasa hati mereka, melalui media cetak maupun non-cetak. Kiranya Sabda Ilahi terus menginspirasi hidup umat beriman, seberapa dahsyat pun pusaran arus perubahan zaman, termasuk di abad ke-21 ini ketika sebentuk budaya digital mulai menampilkan diri dan semakin masif dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dan pelayanan gereja di tikungan peradaban yang penuh tantangan.



















