Makna Salib

Artikel | 3 Apr 2026

Makna Salib


Yohanes 19:16-37 


Salib merupakan salah satu simbol yang paling dikenal di dunia ini. Segelintir orang melihatnya sebagai ornamen estetik yang indah dipandang. Dijadikan liontin dan dikenakan di leher mereka atau diukir di kulit sebagai motif tato. Sementara pihak lainnya merasa antipati dengan salib. Melihat salib berarti mengkompromikan kepercayaannya, maka salib tidak boleh terlihat dengan bebas dan harus disembunyikan. Pihak lainnya melihat salib dengan begitu gentar sekaligus takjub. Ia menjadi penanda cinta kasih Allah yang mengorbankan Anak-Nya demi keselamatan dunia. Akhirnya manusia yang penuh dosa ini telah menerima pendamaian dengan harga yang begitu mahal yakni kematian Kristus Sang Putera Allah di atas kayu salib. 

 

Namun jauh sebelum segala makna tentang salib itu lahir, tumbuh, dan berdiam dalam benak manusia. Pada mulanya salib merupakan simbol dan media penghukuman yang begitu keji. Yohanes 19 menceritakan intrik demi intrik yang begitu keji, asal muasal salib itu ditimpakan kepada Sang Anak Domba Allah. Para pemuka agama Yahudi dan kekaisaran Romawi yang diwakili oleh Pilatus bersekongkol untuk menjatuhkan vonis bersalah pada Dia yang tidak bersalah. Hingga akhirnya Yesus dengan kekuatan-Nya sendiri memikul salib-Nya. Kayu puluhan kilogram beratnya harus dibawa hingga ke sebuah tempat yang bernama Tempat Tengkorak. Ia disalibkan di tengah-tengah “dua orang lain sebelah menyebelah” yang tidak disebut sebagai penyamun dalam injil Yohanes, karena yang hendak ditekankan adalah posisi Yesus yang berada di tengah-tengah mereka. Sebuah papan ditempatkan di atas kayu salib itu, bunyinya, “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Kata-kata tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani. Sebuah ironi terpampang jelas. Pernyataan tersebut adalah kebenaran sejati yang dibawa Yesus tentang siapa diri-Nya, malah menjadi tuduhan yang merendahkan dari Pilatus. Menariknya Yesus tidak pernah menyangkalnya, tetapi telah diberi penjelasan oleh-Nya yang mencegah salah pengertian. Ia bukan raja dengan cara para penguasa dunia tetapi Raja yang memberi kesaksian tentang kebenaran, tentang misteri Allah. 

 

Setelah itu para prajurit mengambil pakaian-Nya lalu membuatnya menjadi empat bagian, untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan jubah-Nya juga mereka ambil. Injil Yohanes menyandingkan tindakan para prajurit tersebut sebagai penggenapan Mazmur 22:18. Ia hendak menegaskan bahwa sesungguhnya para prajurit tidak berkuasa atas Yesus, tetapi berada di bawah kuasa rencana Allah yang mereka laksanakan. Kematian Yesus diwali pemberian anggur asam yang diceritaka dalam semua Injil, tetapi dalam Injil Yohanes menjadi saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya yang terakhir “Sudah selesai!” Ia telah selesai meminum cawan yang diberikan oleh Bapa (Yoh. 18:11), lalu menyerahkan Roh. Tugas perutusan-Nya benar-benar telah selesai. Ia taat kepada kehendak Sang Bapa bahkan hingga menyerahkan nyawa-Nya. 

 

Di titik itulah salib menjadi tanda keagungan bukan lagi penghinaan dan penghukuman. Sebagaimana Yesus yang menyerahkan bunda-Nya kepada para murid sehingga mereka menjadi satu keluarga, demikianlah jemaat-jemaat Kristus dibangun menjadi satu Keluarga Allah di atas dasar karya agung-Nya di atas kayu salib. Pada saat yang sama Yesus juga seolah memberi pesan kepada kita bahwa mengikut-Nya selalu akan berhadapan dengan salib. Kita akan selalu memikulnya karena saat mengikut Tuhan sesungguhnya kita bersedia untuk meninggalkan segala keberdosaan kita, menolak pencobaan, serta berjuang menjadi murid-Nya. Sesungguhnya hal tersebut tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah bahkan penuh derita. Namun kita diundang untuk tegar memikulnya sebagai Yesus yang telah lebih dahulu memanggul salib karena dosa-dosa yang kita perbuat. 

 

Pengalaman memanggul salib tidak pernah dimaksudkan untuk dimudahkan, dikontrol, atau dibuat nyaman. Kosuke Koyama, seorang teolog asal jepang pernah berujar, “Tidak ada gagang pada salib!” Itu berarti salib yang harus dipanggul pengikut Kristus memanglah berat dan jauh dari kata efisien. Namun mengikut Kristus memang berarti memikul sesuatu yang tidak nyaman, yang tidak bisa “dikelola” dengan kekuatan sendiri. Kita tidak bisa mencari jalan pintas dalam memikul salib. Sayangnya kekristenan di masa modern mencoba untuk “membubuhkan gagang” pada salib sehingga lebih efisien dan mudah untuk dipikul. Teologi dan ajaran tentang mengikut-Nya direduksi menjadi tindakan transaksional. Ikut Yesus berarti bebas derita, pasti kaya dan sukses, serta tidak pernah sakit. Mengikut Yesus seperti bentuk investasi pada tempat yang tepat. Salib berubah menjadi sekedar simbol penghias ruang ibadah, karena mereka yang memandang salib di masa kini seolah-olah menolak untuk “memikulnya” dengan sungguh. Maka kiranya dalam Jumat Agung kali ini kita benar-benar menanggapi undangan Yesus untuk memanggul salib-Nya. Ikut dalam derita-Nya dengan berjuang menjadi pengikut Yesus yang sungguh-sungguh hidup dalam keteladanan serta ajaran-Nya meskipun hal tersebut mendatangkan derita bagi kita. 

 

Pertanyaan Reflektif : Bagaimana bentuk konkret dari “memanggul salib” dalam konteks kehidupan kita saat ini?


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia