Melayani dan Bukan Dilayani

Artikel | 2 Apr 2026

Melayani dan Bukan Dilayani


Yohanes 13:1-17 , 31b-35 


Kekerasan menjadi satu masalah peradaban yang tidak terselesaikan. Manusia terlahir dengan kecenderungan untuk menguasai bahkan memiliki sesamanya. Memanfaatkan orang lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Lihatlah situasi dunia saat ini dan kita akan segera memahaminya. Negara-negara yang merasa lebih kuat, memerangi negara lainnya atas nama “perdamaian” dan “menegakkan demokrasi”. Mereka yang tidak berdaya bagaikan pion dalam pertandingan yang sulit untuk diketahui pemenangnya, karena semua pihak menjadi korban. Dalam hidup sehari-hari kita juga dipertontonkan pada hal yang serupa. Para penguasa memanfaatkan rakyatnya sebagai sarana untuk berkuasa dan memiliki kekayaan yang lebih banyak. Mereka yang lemah dan tertindas adalah pijakan bagi kekuasaan. Sementara itu di tataran hidup sehari-hari, kita melihat bahwa demi jabatan, seseorang rela mengorbankan dan menjatuhkan rekan kerjanya. 
 
Maka di tengah situasi tersebut, patutlah kita bertanya, dimanakah kasih dan kepedulian antar sesama manusia? Bukankah dari dua hal tersebut kita dapat meretas jalan kepada kehidupan bersama yang saling menghargai dan menempatkan kehidupan sebagai dasar percakapan bersama. Inilah yang hendak kembali kita ingat melalui peristiwa Kamis Putih yang identik dengan pembasuhan kaki para murid oleh Tuhan Yesus sendiri. 
 
Yohanes 13 menempatkan peristiwa pembasuhan kaki tersebut tepat sebelum paskah saat Yesus dan para muridnya habis makan bersama. Secara eksplisit, Yohanes menyebutkan bahwa Yudas juga hadir disitu dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hatinya untuk mengkhianati Yesus. Motif apa yang mendasari pengkhianatan itu tidak dijelaskan disini. Namun respons Yudas juga tidak diperlihatkan. Bahkan setelah pembasuhan kaki, Yesus mengungkap rencana pengkhianatan itu. Mungkin memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan rencana tersebut. Meskipun pada akhirnya Yudas tetap melakukan rencana pengkhianatan tersebut, patut kita duga bahwa ada rentang waktu dimana Yudas sebenarnya masih mempertimbangkan keputusannya. 
 
Meskipun maksud jahat Yudas sudah diketahui Yesus, tetapi menariknya Yesus tetap membasuh kaki Yudas. Setelah perjamuan, Yesus mengikat sehelai kain lenan pada pinggangnya dan mulai membasuh kaki murid-muridnya serta menyeka kaki tersebut dengan kain yang di pinggangnya. Tindakan Yesus menghadirkan kebingungan di benak para murid. Mereka yang membasuh kaki biasanya adalah para hamba dan anggota keluarga yang memiliki status lebih rendah. Bagaimana mungkin Yesus yang dihormati sebagai Sang Guru melakukan hal tersebut. Namun justru disitulah letak pengajaran yang hendak disampaikan Yesus. Jika Dia yang seharusnya dibasuh, tetapi merendahkan diri untuk membasuh murid-murid-Nya, maka mereka yang telah dibasuh-Nya juga harus melakukan hal yang sama. Bahkan semua muridnya mengalami pembasuhan tersebut, bahkan Yudas yang telah memiliki rencana untuk mengkhianatinya, sayangnya Yudas tidak tergerak oleh kasih yang begitu besar yang ditunjukkan oleh Sang Guru. 
 
Maka pembasuhan yang dilakukan Yesus tidak hanya merujuk kepada keteladanan hidup sehari-hari, melainkan juga menggambarkan misi hidup-Nya secara keseluruhan. Ia diutus Allah yang dalam kasih-Nya berkehendak untuk menyelamatkan dunia. Penyelamatan itu dijalani melalui pengorbanan dan kematian Yesus di atas kayu salib. Dalam pengorbanan itu kita semua dibasuh bersih dari dosa-dosa yang mendatangkan maut. Penyelamatan itu menghadirkan kebaruan eksistensi seorang manusia. Mereka bukan lagi hamba dosa melainkan hamba-Nya, yang menjalani hidup dalam ingatan akan keteladanan Sang Anak Allah. Kini lewat kesediaan-Nya membasuh kaki, Yesus mengajarkan tentang kasih, kerendahan hati, dan semangat untuk saling melayani alih-alih menuntut dilayani. 
 
Sebenarnya tindakan Yesus ini sungguh “mengherankan”. Apakah Yesus tidak takut jika “marwah”-Nya sebagai seorang Guru dan Pemimpin menjadi jatuh? Bukankah disitulah justru letak intisari pengajaran Yesus.  Marwah atau kehormatan dan harga diri seseorang tidak terletak pada kekuasaan, harta, atau jabatan, melainkan pada kesediaan seseorang untuk mengasihi, melayani, dan berkorban bagi sesama. Sungguh berbeda dengan berita viral beberapa waktu lalu, bahwa “marwah” kepala daerah terletak pada mobil dinas mewah yang dianggarkan dari uang rakyat. Belum lagi pandangan yang tumbuh subur bahwa orang lain diperlakukan hanya sebagai obyek pemuas hasrat kita. 
 
Kamis Putih pada tahun ini mengajarkan kita untuk menantang arus zaman. Jika dunia penuh dengan kekerasan dan pengejaran tiada henti akan hawa nafsu, maka murid-murid Kristus diajar untuk mewujudnyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari dengan kesediaan untuk berkorban dan melayani sesama. Tindakan itu harus muncul dari rasa syukur yang mendalam atas kasih karunia-Nya, bukan karena kewajiban, apalagi paksaan. Dengan demikian kasih dan sikap saling melayani itu bukan sebuah “trend musiman” melainkan jati diri baru dari seseorang yang telah disentuh Kasih Tuhan yang Maha Besar. 
 
 
Pertanyaan reflektif: Sudahkah hidup dan keteladanan Kristus menjadi tonggak seluruh keberadaan kita? 
Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia