Di berbagai belahan dunia dan pada zaman yang berbeda, sejarah berulang kali memperlihatkan pola yang serupa: ketika sebuah kekuasaan yang lebih besar menindas yang lemah dan merugikan rakyat kecil, selalu muncul sosok yang berani mengambil posisi melawan. Dari keberanian seorang diri, perlawanan tumbuh menjadi gerakan; dari gerakan itu, lahirlah harapan. Tidak jarang, kekuasaan akhirnya berhasil menangkap, mengalahkan, bahkan menghabisi sang pemimpin pergerakan. Namun anehnya, kematian tidak selalu menjadi akhir. Ada nama-nama yang justru hidup lebih lama setelah tubuhnya tiada, karena perjuangan yang mereka nyalakan terus dipertanyakan, dikenang, dan diwariskan. Pola itulah yang juga membawa kita ke sebuah pulau kecil di Maluku, lebih dari dua abad silam, ketika seorang lelaki bernama Thomas Matulessy berdiri di tengah pergolakan dan kemudian lebih dikenal dengan nama yang hingga hari ini masih menggema: Pattimura.
Beban Kolonial dan Keresahan Masyarakat
Untuk memahami mengapa letupan itu pecah di Kepulauan Lease pada pertengahan tahun 1817, kita harus melihat melintasi lautan menuju masa transisi kekuasaan yang penuh dengan kegelisahan. Masyarakat Maluku baru saja melewati masa pendudukan Inggris yang relatif memberikan keleluasaan perdagangan dan perlakuan yang lebih baik bagi para pegawai serta rakyat. Namun, ketika kekuasaan dikembalikan kepada Pemerintah Kolonial Belanda di bawah Gubernur Van Middelkoop dan Residen Johannes Rudolf van den Berg, perubahan drastis membentur kehidupan sehari-hari. Sistem monopoli rempah-rempah ditancapkan kembali secara kaku, perdagangan bebas dilarang, dan kapal-kapal pedagang lokal dianggap sebagai penyelundup. Di pasar-pasar, masyarakat dipaksa menerima uang kertas yang amat mereka benci, sementara ketika rakyat hendak berbelanja di gudang pemerintah, uang kertas itu ditolak dan disyaratkan membayar dengan uang perak.
Beban rakyat semakin berat ketika kerja rodi kembali diwajibkan untuk membuka perkebunan kopi, mengumpulkan kayu bakar, serta menyerahkan pasokan garam dan ikan asin kepada gubernemen. Ketakutan masyarakat kian menebal akibat perintah pengerahan ratusan pemuda ke Pulau Jawa untuk dijadikan tentara, isu penutupan sekolah, pemberhentian guru-guru agama Kristen, hingga ancaman hukuman cambuk rotan dan kurungan kamar gelap saat pendataan jiwa. Bayang-bayang penderitaan masa lalu akibat pelayaran patroli hongi dan pemusnahan tanaman cengkih kembali bergetar, seolah mengancam mata pencaharian dan harga diri mereka. Di tengah penderitaan yang memuncak tersebut, lagu-lagu tua seperti Hena Masa Ami seakan berbisik kembali untuk mengikat persekutuan dan menguatkan persaudaraan mereka.
Mata Rumah Lohasamal dan Kepemimpinan Matulessy
Di tengah badai ketegangan itulah sosok Thomas Matulessy mengemuka. Ia bukan figur asing yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, melainkan seorang manusia yang terbentuk oleh sejarah dan pengalaman zamannya. Sebagai bekas sersan mayor dalam dinas militer Inggris, Thomas memiliki pemahaman taktis dan organisasi militer Barat yang sangat memadai. Mengenai latar belakangnya, tradisi dan catatan keluarga di Hulaliu mencatat bahwa ia lahir pada 8 Juni 1783 dari pasangan Cornelis Matulessy dan Petrosina Noya, memegang garis keturunan mata rumah Lohasamal yang bermakna "selalu terdepan dan menjadi yang pertama". Meskipun historiografi di kemudian hari menyimpan perdebatan dan perbedaan penafsiran mengenai silsilah serta asal-usul biografinya di antara negeri-negeri di Maluku, fakta primer menegaskan satu hal: Thomas Matulessy adalah seorang pemimpin karismatik yang diakui dan dihormati oleh para kapitan dari Saparua, Haruku, Nusalaut, hingga Seram Selatan.
Dari Duurstede hingga Pantai Waisisil
Keresahan rakyat yang terpendam berabad-abad akhirnya mengristal menjadi tindakan nyata pada pertengahan Mei 1817. Sebuah peristiwa menarik memperlihatkan betapa perlawanan ini digerakkan oleh manusia-manusia yang hidup dan memegang nilai-nilai budaya dan spiritualitas kuat. Penyerangan ke pusat kekuasaan kolonial di Saparua sejatinya direncanakan pada 15 Mei, namun ditunda sehari karena hari itu adalah hari ibadah Kenaikan Yesus Kristus. Baru pada fajar 16 Mei 1817, Benteng Duurstede dikepung.
Setelah pertempuran sengit dari pagi hingga sore hari, benteng tersebut jatuh ke tangan pasukan rakyat. Residen van den Berg dan keluarganya tewas dalam kecamuk perang itu. Namun, di balik kejamnya pertempuran, sebuah tindakan kemanusiaan tercatat: Jean Lubbert van den Berg, putra sang residen yang masih berusia lima tahun, ditemukan dalam keadaan terluka. Thomas Matulessy melangkah campur tangan, memerintahkan dengan tegas agar bocah itu dilindungi dan dilarang keras untuk disakiti. Anak itu dirawat dengan baik sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pihak Belanda—sebuah bukti bahwa perlawanan tersebut dipimpin oleh seorang ksatria yang memegang teguh etika, bukan penjahat perang tanpa nurani.
Kepanikan hebat melanda Ambon. Pemerintah kolonial segera mengirimkan armada bantuan berkekuatan lebih dari 300 prajurit di bawah komando Mayor Beetjes. Perwira Belanda itu meremehkan lawan yang hanya dipimpin oleh mantan sersan. Namun, pada 20 Mei 1817 di Pantai Waisisil, pendaratan pasukan kolonial berubah menjadi bencana militer terpahit bagi Belanda. Terjebak di area rawa bakau dan pesisir basah, pasukan Beetjes dihujani tembakan silang yang terencana rapi dari balik semak-semak. Mayor Beetjes tewas di tempat, dan sebagian besar pasukannya gugur dalam pertempuran yang melumpuhkan dominasi awal kolonial.
Menghadapi kekalahan yang memalukan ini, pemerintah di Batavia tidak tinggal diam. Laksamana Muda A.A. Buyskes dan Mayor Jenderal H.M. de Kock dikirim dengan armada besar, ratusan meriam, serta taktik perang yang agresif. Buyskes merancang strategi yang tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga pembumihangusan desa-desa (gebrandmerkte dorpen), pemblokadean laut yang memicu kelaparan hebat, serta penggalangan kekuatan dari para kepala negeri yang masih setia kepadanya.
Babak Akhir, Pengkhianatan, dan Akhir Hayat
Di sinilah alur sejarah memperlihatkan babak yang paling tragis. Pintu bagi jatuhnya sang pemimpin perlawanan tidak semata-mata terbuka di medan pertempuran terbuka, melainkan melalui tekanan ekonomi yang tak tertahankan, pengepungan yang mengurung kepulauan, dan pengkhianatan. Dokumen-dokumen harian militer kolonial (Journal 't Hoofd) dan analisis sejarah resmi mengonfirmasi bahwa akibat blokade yang memicu kelaparan dan tekanan operasi yang berlarut-larut, muncul informasi serta pengkhianatan di kalangan lokal. Ruang gerak Thomas Matulessy semakin menyempit hingga akhirnya ia bersama para sahabat seperjuangannya ditangkap pada pertengahan November 1817.
Ada sebuah momen yang tersisa ketika pasukan perlawanan terpaksa mundur dan meninggalkan Saparua. Di atas mimbar gereja lokal yang ditinggalkan, ditemukan sebuah Alkitab yang sengaja dibiarkan terbuka. Lembarannya terbentang tepat pada Mazmur 17: sebuah doa permohonan pembenaran dan perlindungan menghadapi serbuan orang-orang fasik, yang diawali dengan seruan, "Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku...". Melalui pesan itu, Thomas Matulessy menegaskan bahwa perjuangannya adalah panggilan iman membela keadilan demi memulihkan nasib rakyatnya. Langkah ini sekaligus menjadi teguran etis bagi warga gereja yang saat itu cenderung pasif terhadap ketidakadilan colonial.
Mitos propaganda bahwa Matulessy bersolek dengan sisir intan pampasan perang dibantah oleh catatan saksi mata. Ia tetap tampil sebagai prajurit yang tegas dan bermartabat, mengenakan jas dinas merah Inggris dan menjepit rambutnya dengan kromkam—sisir penyu polos yang lazim dipakai pria Ambon.
Pada tanggal 16 Desember 1817, di depan Benteng Niew Victoria di Ambon, tiang gantung didirikan. Thomas Matulessy melangkah menghadapi eksekusi mati. Tubuh sang kapitan mungkin rebah di tiang gantungan, namun kematian itu tidak pernah berhasil mengubur semangat dan harapan kebebasan yang telah ia mulai.
Menguji Makna Kebebasan Hari Ini
Lebih dari dua abad setelah peristiwa Saparua, kita memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia di era yang telah jauh berbeda. Namun, perjuangan Thomas Matulessy menuntut pertanggungjawaban dari generasi kita: jika para pejuang dahulu mempertaruhkan nyawa untuk merobohkan penindasan dan menuntut keadilan bagi yang terpinggirkan, apa yang kita perbuat dengan kebebasan yang kita terima hari ini? Sebagaimana pembebasan dalam Alkitab selalu membawa panggilan untuk menegakkan keadilan dan memedulikan yang lemah, kemerdekaan pun menuntut kita untuk berani berdiri bagi kebenaran dan keadilan sosial, bukan sekadar menjadikannya retorika tahunan. (perlando)
























