Bangun pemudi pemuda, Indonesia,
tangan bajumu singsingkan, untuk Negara.
Masa yang akan datang, kewajibanmulah
menjadi tanggunganmu, terhadap Nusa,
menjadi tanggunganmu, terhadap Nusa.
Salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan setiap memperingati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia atau merayakan Sumpah Pemuda, adalah lagu Bangun Pemudi Pemuda. Lagu itu diciptakan oleh seorang guru Sekolah Rakyat di Semarang, Alfred Simanjuntak. Gara-gara lagu tersebut, nyawa Alfred terancam. Ia masuk daftar orang yang dicari oleh Kenpetai, polisi rahasia Jepang. “Saya ingat waktu itu dikejar polisi Jepang, karena dianggap terlalu mendorong semangat anak-anak muda untuk memperjuangkan kemerdekaan,” kata Alfred.
Pemerintah Jepang saat itu khawatir, lagunya akan menggerakkan pemberontakan dari kalangan pemuda. “Saya sempat bersembunyi, tapi saya lupa di mana. Saya enggak ingat juga berapa lama saya melarikan diri," kenangnya. "Jepang itu sangat jelek, orang mengarang lagu kok dikejar, mau dibunuh.”
Alfred menganggap masa-masa penjajahan Jepang sangat kejam. Banyak orang yang hilang karena dibunuh oleh polisi Jepang. “Kalau ada orang dianggap salah, ia akan dijemput polisi Jepang. Kebanyakan tidak akan kembali. Entah dibunuh, ditembak, atau dibuang ke jurang,” tutur Alfred. “Dulu semua guru juga harus bisa berbahasa Jepang, tidak boleh tidak,” ucapnya.
Lahir di Parlombuan, Bersekolah ke Jawa
Alfred Simanjuntak lahir pada 8 September 1920 di Parlombuan, sebuah desa yang sederhana di Tapanuli, Sumatra Utara. Alfred adalah anak sulung dari delapan bersaudara pasangan Lamsana Simanjuntak dan Kornella Silitonga. Meskipun ayahnya seorang guru sekolah dasar, keluarga mereka hidup dengan sangat sederhana seperti umumnya warga di kampungnya pada masa itu.
“Sampai saya umur lima tahun, keluarga kami tidak mengenal piring, mangkok atau gelas, sendok dan garpu. Sebagai piring untuk seluruh keluarga dipakai piring dari kayu yang besar dan cukup tebal, yang dapat dikelilingi oleh empat sampai lima orang,”tutur Alfred. “Nasi ditaruh di tengah piring kayu itu dan masing-masing mengambil dari bukit nasi itu sesuai panggilan perutnya,”lanjutnya.
Karena gelas atau mangkok tidak ada, untuk minum keluarga mereka menggunakan batok kelapa yang dibelah dua. Pada masa itu minyak tanah untuk lampu belum tersedia, apalagi penerangan listrik. Sebagai alat penerang dipakai potongan kayu pinus yang dapat menyala lama. Jika seseorang mau berkunjung ke tetangga di malam hari, mereka harus menggunakan suluh dari bambu atau kayu. Jarak antar rumah tidak berdekatan seperti masa sekarang. Antar rumah bisa sejauh 100 atau 200 meter. “Berjalan kaki sejauh 15-20 kilometer atau lebih jauh lagi merupakan hal biasa, karena penduduk kampung kami belum mengenal sepeda apalagi mobil,”kenangnya.
Alfred pertama kali melihat mobil pada 1926. Anak-anak di kampungnya ketakutan melihat kedatangan mobil ke kampungnya sehingga mereka tunggang langgang dan lari bersembunyi ke dalam semak-semak. Mereka baru berani keluar setelah mobil lewat cukup jauh. Untuk manusia yang hidup di abad XXI cerita kehidupan seperti ini akan dianggap kisah masa purbakala, jauh di masa lampau, tapi pada masa itu (awal abad XX) jelas bukan hal yang aneh.
Pada masa kini orang-orang yang tinggal di Jakarta sudah malang melintang naik mobil, kereta api, taksi, atau barangkali pesawat terbang, tapi beberapa orang yang tinggal di pelosok atau pedalaman nusantara bisa jadi belum pernah melihatnya.
Alfred dari kecil senang bernyanyi. Sejak duduk di Sekolah Dasar (Hollands Inlandsche School (HIS)) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara, Alfred telah sering bernyanyi dalam acara-acara Natal. Kemampuannya bernyanyi dan bermain musik berkembang saat ia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School, semacam Sekolah Guru Atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah (1935-1942). Setamat sekolah guru, Alfred bekerja sebagai Guru di Schakelschool (Sekolah Rakyat) di Kutoarjo, kemudian Madiun dan Semarang.
Di Semarang, pada tahun 1943, ia diterima sebagai guru menyanyi Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Bahder Djohan dan Wongsonegoro. Di sana pula ia berteman dengan Liberty Manik (sesama pencipta lagu-lagu perjuangan). Mereka tinggal satu kontrakan di Jalan Ledog Sari 12. Alfred ikut menyaksikan proses L. Manik menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.
"Saya sempat berkomentar sewaktu dia gremeng-gremeng menyanyikannya pertama kali, bahwa lagunya seperti lagu gereja," ujar Alfred.
Dalam pertemanan itu, mereka kerap bersaing dalam karya. Waktu C. Simanjuntak menciptakan Pada Pahlawan, Alfred mencipta Saudaraku Berpulang Dulu. Yang unik, lagu-lagu mereka memiliki ciri yang sama. "Pada akhir lagu, nada-nadanya pasti naik. Bersemangat. Tak ada yang cengeng." Setelah Indonesia merdeka, antara 1946-1949, Alfred Simanjuntak menjadi wartawan untuk surat kabar “Sumber” di Jakarta.
Pada 1950, Alfred melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sedangkan L. Manik berangkat belajar ke Jerman. Di sana Manik memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Tahun 1950-1952 Alfred melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Antara tahun 1954-1956, Alfred Simanjuntak menjalani studi lanjut ke tiga perguruan tinggi sekaligus Rijksuniversiteit di Utrecht, Leidse Universiteit, di Leiden, Stedelijke Universiteit di Amsterdam, Belanda.
“Pengalaman saya selama mengajar di Semarang begitu berkesan. Waktu itu masa-masa Jepang berkuasa di Indonesia. Tamatan sekolah di Semarang ada yang menjadi Duta Besar, Menteri, Jaksa Agung, hingga Wakil Presiden, dan banyak pejabat tinggi lainnya di negara Republik ini,”kenangnya.
Pengalaman lain yang cukup membahagiakan Alfred adalah ketika dipercaya sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (kini STFT Jakarta) antara 1951-1953. Beberapa tamatan yang pernah diajarnya di kemudian hari menjadi ketua-ketua sinode dan tokoh-tokoh gereja di Indonesia. Sepanjang lebih dari enam puluh tahun Alfred menjalani peran sebagai guru.
Alfred menyimpulkan, Indonesia akan menjadi negara yang maju dan terhormat di antara jajaran bangsa-bangsa, jika pemerintah dan seluruh masyarakat mengutamakan pendidikan. “Segala kemajuan apakah itu bidang ekonomi, industry ataupun budaya diawali dengan pendidikan dan pengajaran yang bermutu tinggi,”tegasnya.”Sebaliknya, kemunduran atau keterbelakangan disebabkan oleh pendidikan yang kurang diperhatikan atau salah arah,”lanjutnya.
Pernah Alfred prihatin melihat pertumbuhan masyarakat Indonesia yang begitu cepat dari 50 juta pada 1940-an menjadi 200 juta pada awal 2000-an. Tumbuh empat kali lipat, tetapi tanpa diiringi perencanaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang baik. Mengutip wartawan senior Kompas, Ninok Leksono, Alfred menulis demikian,”Sementara ilmuwan dan bangsa-bangsa di dunia telah terpesona oleh pemikiran Stephen Hawking yang elok nan canggih, bangsa Indonesia masih berkubang dalam usreg dan gonjang-ganjing politik yang membuatnya bukan saja going nowhere, tetapi dengan itu juga tertinggal jauh di belakang dalam semua wacana kemajuan di lingkungan bangsa-bangsa lain, pada tahun, abad dan milennium ini.”
Selain pernah menjadi guru dan wartawan. Alfred dikenal banyak orang karena perannya dalam bidang penerbitan buku dan penulisan lagu. Alfred sering meringkas seluruh perjalanan karir dan pelayanannya sebagai “membangun manusia pembangun”.
Turut Mendirikan BPK Gunung Mulia
Pada 1950, bersama beberapa pemerhati perbukuan dan literatur, Alfred turut mendirikan Badang Penerbit Kristen Gunung Mulia, sebagai lembaga kristiani yang ikut mengisi kemerdekaan melalui penyediaan bacaan bermutu dan melayani kebutuhan bangsa. Salah satu terbitan perdananya adalah buku “Pancasila”, buku pertama yang terbit di Indonesia yang membahas tentang Pancasila sebagai dasar negara. Terbitan tersebut mendapat perhatian dan sambutan positif antara lain dari: Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, dan para pejabat negara RI lainnya.
Menjelang akhir 1950-an BPK Gunung Mulia mengadakan seminar pemberantasan buta huruf dengan mengundang ahli dari UNESCO, Dr. Frank Laubach, yang mempunyai pengalaman panjang di Filipina. Kemudian diutuslah G.M.A. Nainggolan ke Wamena, Papua selama tiga bulan untuk mempelajari gaya hidup dan cara berpikir penduduk di sana yang sebagian besar masih buta huruf, hidup sederhana dan mencari makan dengan berburu di hutan dan di sungai. Kemudian BPK menerbitkan buku-buku untuk bahan pemberantasan buta aksara, dengan memakai istilah dan kata-kata sehari-hari yang mudah dimengerti, dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi yang mempermudah pembelajaran.
Ketika Irian Jaya (nantinya bernama Papua) masuk ke dalam wilayah NKRI, Ketua Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua saat itu, Dr. Rumainum, menyatakan penghargaan atas pelayanan BPK Gunung Mulia, yang secara teratur melayani masyarakat Papua lewat pengiriman buku-buku jauh sebelum Provinsi Irian Jaya bergabung dengan Indonesia.
Pada era 70-an, pemerintah menganjurkan penerbit-penerbit untuk menerbitkan buku-buku Inpres, yaitu bacaan-bacaan untuk anak-anak Sekolah Dasar, yang disalurkan melalui sekolah-sekolah. Di antara semua penerbit yang berpartisipasi, BPK Gunung Mulia tercatat menerbitkan buku paling banyak judul dan eksemplar.
Bagi Alfred, semua dilakukan sebagai andil untuk membangun manusia pembangun. Mesipun berpredikat sebagai penerbit Kristen, BPK Gunung Mulia sadar akan tugasnya sebagai lembaga komunikasi yang manusiawi dan ingin melayani setiap orang yang mempunyai kasih terhadap sesama manusia.
Sebagai Pengarang Lagu
Bidang kedua di mana Alfred lama berkecimpung tentu saja adalah musik, terutama nyanyian. Tahun-tahun di mana ia mengarang lagu-lagu patriotik adalah saat mengajar sebagai guru di Semarang, pada masa pendudukan Jepang. Selain Bangun Pemudi Pemuda, lagu yang terkenal Indonesia Bersatulah. Lagu Indonesia Bersatulah pernah mempersatukan bangsa kita saat terjadi perpecahan akibat pemberontakan PRRI/Permesta maupun RMS (Republik Maluku Selatan) antara 1957-1960. Lagu ini oleh Radio Republik Indonesia (RRI) disiarkan paling sedikit tiga kali dalam sehari, pagi, sore, kadang-kadang tengah malam, sampai akhirnya semua pihak yang bertikai meletakkan senjatanya masing-masing.
Pada 1967, Alfred ikut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger). Yamuger dibentuk sekelompok musisi, penggubah lagu, teolog serta pemerhati musik gerejawi yang melihat pentingnya melahirkan sebuah buku nyanyian jemaat yang kontekstual dan oikumenis. Tidak hanya ikut mendirikan, Alfred juga menyumbangkan karyanya, lagu pujian yang hingga hari ini kerap dinyanyikan dalam peribadahan minggu di gereja-gereja di Indonesia, seperti: Indonesia Negaraku (KJ 336), Jika Padaku Ditanyakan (KJ 432), Kita Satu di Dalam Tuhan (Kidung Keesaan 599), Talita Kum, Bangunlah (Kidung Keesaan 210).
Paska reformasi, 1998, pemerintah mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Salah satu partai baru yang muncul adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Alfred diminta pimpinan PKB untuk mengarang Himne dan Mars PKB. Untuk memenuhi permintaan tersebut Alfred berkunjung ke kediaman Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid) di Ciganjur dan bercakap-cakap dengan beliau tentang peran PKB bagi kemajuan dan persatuan bangsa. Gus Dur menegaskan PKB sebagai partai yang terbuka untuk semua pihak, tidak pandang bulu, dari agama atau suku manapun. Dari perbincangan itulah Alfred menuliskan syair-syair dan melodi untuk Mars dan Himne PKB tersebut.
Berbicara tentang negeri yang dicintainya, Alfred menyatakan manusia dan pemimpin Indonesia pada masa kini nampaknya serba bingung. “Kita mau ke mana dengan masyarakat dan bangsa yang besar ini?” tanyanya.”Sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia (SDM) mau dikelola seperti apa?”
Alfred membandingkan Singapura dan Thailand dua negara tetangga yang giat untuk memajukan dan mereformasi pendidikan nasionalnya. Dua negara tersebut, Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia peringkatnya jauh di atas kita. Singapura di peringkat ke-22, sementara Thailand ke-67. Bandingkan dengan Indonesia yang berada di peringkat ke-109. Saat Thailand menggaungkan moto: Education for All-All for Education, Unity in Policy-Diversity in Implementation, situasi pendidikan nasional di Indonesia menurut Alfred belum jelas.
“Pendidikan di Indonesia masih penuh varbalisme, alat mengajar yang paling utama adalah kata-kata, rasa ingin tahu anak-anak dimatikan, murid-murid cukup menghafalkan dan menelan apa yang dikatakan guru,”kritik Alfred. “Padahal satu-satunya cara untuk mengakselerasi kemajuan Indonesia adalah memperbaiki kualitas pendidikan.”
Meskipun Indonesia penuh dengan segala kesulitan dan keprihatinannya, Alfred tidak pernah putus mencintai negerinya. Di atas segalanya, Alfred Simanjuntak yakin, Tuhan, Allah Bapa di surga sungguh-sungguh mencintai Indonesia dan akan selalu memelihara Indonesia. Keyakinannya dan doanya bisa kita simak dalam lagunya yang abadi, Indonesia Negaraku (KJ 336)
Indonesia, negaraku, Tuhan yang memb'rikannya;
kuserahkan di doaku pada Yang Mahaesa.
Bangsa, rakyat Indonesia, Tuhanlah pelindungnya;
dalam duka serta suka Tuhan yang dipandangnya.
Kemakmuran, kesuburan, Tuhan saja sumbernya;
keadilan, keamanan, Tuhan menetapkannya.
Dirgahayu Indonesia, bangsa serta alamnya;
kini dan sepanjang masa, s'lalu Tuhan sertanya.
Alfred Simanjuntak meninggal pada 25 Juni 2014 di Rumah Sakit Siloam Karawaci Tangerang karena penyakit radang paru-paru dan pneumonia yang dideritanya cukup lama. Tapi ingatan akan karya dan perjuangannya tetap abadi. Seperti lagu-lagu karyanya yang terus dinyanyikan hingga hari ini dan nanti.




















