Narasumber: Hortensius F. Mandaru, SSL
Editor: Juan Nicohlas & Vince Ellysabeth
Pernahkah kita merasa marah terhadap orang lain, hingga kita berdoa pada Tuhan untuk memberikan pelajaran pada orang tersebut? Atau pernahkah juga kita berdoa agar orang lain mendapatkan ganjaran akan apa yang telah ia perbuat? Apakah hal tersebut bisa dinilai sebagai perbuatan yang jahat dan bukan perbuatan yang mencerminkan nilai dari kekristenan? Di sisi lainnya di dalam Alkitab sendiri, dapat ditemukan doa-doa kepada Tuhan yang isi doanya adalah agar menghukum orang jahat. Apakah Alkitab benar-benar mengizinkan seseorang untuk berdoa mengharapkan hal yang jahat?
Mazmur Kutukan
Dalam Alkitab, masih ada banyak hal yang mungkin secara umum belum bisa dimengerti dan diterima, termasuk doa-doa yang bernada kutukan yang terdapat dalam Mazmur. Penamaan “Mazmur Kutukan” sendiri masih mendapat perdebatan dari berbagai pihak. Ada yang menggunakan istilah Mazmur Kutukan, sementara pihak lain menyebutnya sebagai Mazmur Keadilan atau Mazmur Balas Dendam. Mazmur Kutukan dapat dipahami sebagai doa yang memohon pengadilan, hukuman, penderitaan, atau kutukan terhadap musuh, baik musuh pemazmur sendiri maupun musuh Allah.
Pada masa kini, apakah hal tersebut masih bisa dikatakan relevan? Terutama dalam Perjanjian Baru, Yesus memerintahkan untuk mengasihi dan mendoakan musuh. Hal tersebut dinilai kontras dengan teks yang terdapat dalam Mazmur. Dalam Perjanjian Baru, terdapat pula situasi ketika Yesus mengutuk beberapa hal, misalnya ketika Yesus mengutuk pohon ara dan ketika Yesus menyampaikan celaka kepada kota Khorazim dan Betsaida. Contoh lainnya adalah ketika Yesus marah di Bait Allah dan membalik meja para pedagang. Tindakan-tindakan tersebut memberikan gambaran bahwa kemarahan dan respons keras terhadap kejahatan juga terdapat dalam kesaksian Perjanjian Baru.
Mazmur 109-8-11
Biarlah umurnya berkurang, biarlah jabatannya diambil orang lain. Biarlah anak-anaknya menjadi yatim, dan isterinya menjadi janda. Biarlah anak-anaknya mengembara tidak keruan dan mengemis,
dan dihalau dari reruntuhan rumahnya. Biarlah penagih hutang menyita segala kepunyaannya, dan orang-orang lain menjarah hasil jerih payahnya.
Mazmur 109: 8-11 merupakan salah satu contoh mazmur yang berisi permohonan agar orang jahat dihukum. Dalam konteks masa kini, isi Mazmur 109: 8-11 dapat mengingatkan kita pada ungkapan-ungkapan yang diarahkan kepada seorang koruptor. Mazmur Kutukan pada umumnya ditujukan kepada Allah sebagai pihak yang diminta untuk mengadili dan menghukum, sedangkan pemazmur adalah sosok pendoa yang memohon agar Tuhan bertindak terhadap orang-orang jahat.
Mazmur 58:7-8
Ya Allah, hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya, patahkanlah gigi geligi singa-singa muda, ya Tuhan! Biarlah mereka hilang seperti air yang mengalir lenyap! Biarlah mereka menjadi layu seperti rumput di jalan! Biarlah mereka seperti siput yang menjadi lendir, seperti guguran perempuan yang tidak melihat matahari. Sebelum periuk-periukmu merasakan api semak duri, telah dilanda-Nya baik yang hidup segar maupun yang hangus. Orang benar itu akan bersukacita, sebab ia memandang pembalasan, ia akan membasuh kakinya dalam darah orang fasik.
Mazmur 58:7-8 merupakan contoh lain dari doa yang ditujukan kepada Allah agar menghukum orang jahat. Selain itu terdapat juga mazmur yang ditujukan secara langsung kepada orang jahat, seperti dalam Mazmur 137:8-9.
Mazmur 137:8-9
Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu
perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu!
Bagi Orang Israel, pengalaman dengan Babel memberikan trauma tersendiri. Babel menjadi gambaran tentang kekuatan yang melakukan kekerasan dan penindasan terhadap umat Allah. Karena itu, ungkapan keras dalam Mazmur 137 perlu dipahami dalam konteks pengalaman penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh pemazmur.
Tidak hanya dalam Kitab Mazmur, teks-teks yang memiliki nada kutuk juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain. Misalnya, Yeremia 18:21-22 berisi permohonan kepada Allah agar orang-orang yang melakukan kejahatan mendapatkan hukuman. Nada yang serupa juga dapat ditemukan dalam Bilangan 10:35 dan Hakim-hakim 5:31. Hal ini menunjukkan bahwa “kutukan” merupakan salah satu bentuk sastra yang cukup umum dalam Alkitab dan tidak hanya terdapat dalam Mazmur.
Konteks Kanonik
Kitab Mazmur berbeda dengan kebanyakan kitab lain di dalam Perjanjian Lama. Kitab sastra Nabi berisi nubuat atau sabda Tuhan kepada manusia, sastra narasi berisi cerita tentang relasi Allah dengan manusia, sedangkan kitab sastra hukum berisi hukum dan aturan Allah bagi manusia. Kitab Mazmur berisikan kata-kata dan doa-doa dari manusia yang dipanjatkan kepada Allah.
Karena itu, ketika membaca Mazmur Kutukan, kita perlu memperhatikan bagaimana manusia berbicara kepada Allah dan bagaimana relasi manusia dengan Allah digambarkan melalui doa-doa tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana kita harus memahami mazmur-mazmur kutukan? Gambaran tentang Allah seperti apa yang hendak ditampilkan? Dan relasi Allah dengan manusia seperti apa yang diperlihatkan dalam mazmur-mazmur tersebut?
Solusi
Di dalam gereja, Mazmur-mazmur Kutukan jarang sekali didoakan atau dibahas secara umum. Solusi praktis dalam menyikapi teks tersebut adalah dengan tetap mengakuinya sebagai bagian dari Kitab Suci, meskipun pada praktiknya tidak pernah digunakan atau diam-diam diabaikan.
Solusi lain adalah solusi klasik, yaitu pandangan bahwa Allah di dalam Perjanjian Lama yang mengadili, mengutuk, dan menghukum berbeda dengan Allah di dalam Perjanjian Baru yang mengasihi, mengampuni, dan mengajak manusia mendoakan musuh. Pandangan solusi klasik tersebut merupakan pandangan yang keliru karena membedakan sosok Allah di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Solusi yang terakhir adalah solusi teologis, yaitu memahami bahwa Allah dikenal oleh manusia melalui sebuah proses. Allah mewahyukan diri-Nya sesuai kemampuan manusia pada zamannya. Pada zamannya dahulu, Mazmur-mazmur Kutuk sangat relevan karena bangsa Israel yang menghadapi pelbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan.
Struktur Mazmur Kutukan
Dalam Struktur Mazmur Kutukan, terdapat beberapa tahapan. Pertama, pemazmur menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan bukan pelaku dari ketidakadilan. Kedua, pemazmur menyatakan bahwa dirinya lemah dan tidak berdaya. Ketiga, perbuatan orang jahat atau lawan diperlihatkan. Keempat, diberikan alasan mengapa orang tersebut layak mendapatkan penghukuman. Kelima, disampaikan tujuan dari penghukuman tersebut.
Struktur tersebut memiliki pesan yang penting. Sebelum menghakimi sesama atau mendoakan Mazmur Kutukan, kita perlu sungguh-sungguh melakukan introspeksi diri. Apakah diri kita sendiri benar-benar tidak bersalah? Apakah kita tidak memiliki niat jahat, seperti keinginan untuk membalas dendam, iri, atau dengki?
Karena itu, kemarahan tidak dapat begitu saja menjadi dasar untuk menghakimi orang lain. Kemarahan perlu dikenali dan dievaluasi. Kita perlu melihat apa yang sebenarnya menjadi ancaman bagi diri kita dan apakah kemarahan tersebut muncul karena ancaman yang nyata. Kemarahan juga dapat membantu kita melihat apa yang sebenarnya kita anggap berharga. Dengan memahami kemarahan kita sendiri, kita dapat menemukan kembali arah dan versi terbaik dari diri kita.
Tujuan Mazmur Kutukan
Pertama: Mazmur Kutukan dapat dibaca dan dipahami sebagai ungkapan perasaan hati yang jujur dan tulus di hadapan Allah. Secara psikologis, perasaan atau pengalaman traumatis yang dipendam dapat berdampak buruk pada diri manusia. Ungkapan yang jujur dan tulus dalam Mazmur Kutukan memperlihatkan adanya kedekatan dan keterikatan manusia dengan Allah, seperti kedekatan anak-anak dengan orang tuanya.
Dengan demikian, kemarahan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang harus ditekan atau disembunyikan. Kemarahan dapat dibawa ke hadapan Allah sebagai bagian dari relasi manusia dengan-Nya.
Kedua: Bagi si pendoa, emosi marah dalam mazmur-mazmur tersebut juga berguna bagi dirinya. Si pendoa dapat menyadari bahwa hatinya pun dipenuhi dengan kejahatan. Ia akan berusaha berdoa dan mengucapkan kata-kata kutuk tersebut dengan hati yang bersih, bukan dengan kedengkian dan iri hati. Hal ini kembali mengingatkan pentingnya introspeksi sebelum seseorang menghakimi orang lain.
Ketiga: Manusia kerap apatis dan tidak menyadari adanya ketidakadilan di sekitarnya, terutama ketika dirinya turut terlibat atau bahkan diuntungkan oleh situasi tersebut. Dalam konteks demikian, mendoakan mazmur-mazmur kutuk dapat menjadi ruang untuk mengenali kembali ketidakadilan yang sering kali dinormalisasi atau diabaikan. Mazmur-mazmur tersebut bukan hanya mencerminkan pergumulan dan perasaan manusia, tetapi juga menolong pembacanya menyadari bahwa ketidakadilan tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang wajar. Dengan demikian, mazmur kutuk mengajak manusia untuk menguji kembali responsnya terhadap ketidakadilan: apakah ia memilih diam dan terbiasa dengannya, atau berani mengakuinya, mempersoalkannya, dan membawanya ke hadapan Allah.
Penutup
Tujuan Mazmur Kutuk bukan sekadar mengajarkan manusia untuk marah, tetapi untuk mengenali dan membawa kemarahannya kepada Allah ketika berhadapan dengan kejahatan, ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan. Kemarahan dapat menjadi respons terhadap ancaman yang nyata dan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berharga yang sedang dirusak atau diancam.
Perasaan marah dapat diungkapkan kepada Tuhan. Ketika seseorang berdoa seperti dalam Mazmur, dengan menyuarakan kemarahan atau meminta Tuhan mengadili yang jahat, ia sedang menyerahkan penghakiman kepada Allah. Dengan demikian, doa tersebut tidak harus menjadi tindakan untuk membalas dendam. Sebaliknya, doa menjadi cara untuk menyerahkan persoalan kepada Allah dan memutus mata rantai kekerasan yang dapat muncul ketika manusia membalas kejahatan dengan kejahatan.
Mazmur Kutuk juga mengajarkan bahwa kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Allah adalah Allah yang mencintai dan peduli pada keadilan dan kebenaran. Karena itu, orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk berdoa, tetapi juga untuk mengupayakan agar keadilan dan kebenaran sungguh-sungguh ditegakkan dalam kehidupan.
Pada akhirnya, mendoakan Mazmur Kutukan bukan berarti kita bebas mengutuk atau mencelakakan orang lain. Mazmur-mazmur tersebut mengajak kita untuk membawa kemarahan dan kegelisahan kita kepada Allah, menyerahkan penghakiman kepada-Nya, sekaligus menyadari tanggung jawab kita terhadap dunia di sekitar kita. Iman, doa, dan tindakan perlu berjalan bersama: lex orandi, lex credendi, lex agendi.
Artikel ini disadur dari program Bincang Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: youtube.com/watchv=f7Ypza8t_Es&t=2474s
























