Saya bertemu dengan Mike, seorang penggemar bersepeda, pendukung pelayanan Lembaga Alkitab Inggris (BFBS). Mike adalah seorang pengagum William Tyndale, tokoh perintis gerakan reformasi, yang berjuang menerjemahkan dan menerbitkan Alkitab dalam bahasa yang dimengerti masyarakat Inggris pada abad ke-16. Mike aktif membagikan Alkitab di pusat kegiatan komunitasnya di dekat Bath.
Suasana di dalam ruangan sangat ramai pada suatu pagi hari Rabu, jadi kami memilih tempat yang tenang di bawah sinar matahari untuk berbincang sambil menikmati kopi dengan sistem pembayaran sukarela (pay-what-you-can).
Roti rohani bagi semua orang – Kisah Mike
"Kami memiliki program yang disebut 'roti dan roti' (bread and bread), di mana kami menyediakan makanan sekaligus mengajak orang bersama-sama mendalami Alkitab," ujar Mike. "Kami tidak menghindari bagian-bagian Alkitab yang sulit dipahami, melainkan membiarkan bagian-bagian itu berbicara kepada kami."
Kegiatan makan bersama dan pendalaman Alkitab mingguan di pusat komunitas ini semakin berkembang. Orang-orang dari berbagai latar belakang datang untuk makan dan mempelajari Kitab Suci bersama-sama. Kini, banyak orang mulai datang kepada Yesus, mengikut Yesus, dan beberapa di antaranya bahkan telah dibaptis. Saat saya dan Mike sedang berbincang sambil minum kopi di pusat komunitas tersebut, salah satu pengunjung tetap bernama Gary (nama telah disamarkan) menghampiri kami dan membagikan kesaksiannya.
"Dulu saya selalu takut mati—takut akan kehampaan abadi. Namun, setelah mempelajari Alkitab dan kini percaya kepada Yesus, saya tahu bahwa saya akan 'pulang' dan hidup bersama Yesus. Hal ini juga membuat saya jauh lebih tenang. Dulu saya mudah sekali menjadi emosional dan meledak-ledak. Sekarang saya tidak lagi sering marah seperti dulu. Firman Tuhan benar-benar sangat membantu saya."
Kisah Gary hanyalah satu dari sekian banyak orang yang hidupnya diubahkan melalui pembacaan Alkitab, tidak hanya di komunitas ini tetapi juga di seluruh negeri. Kami melihat banyak orang Kristen yang mengalami peningkatan keterbukaan rohani di lingkungan mereka dan mulai melangkah untuk membagikan Alkitab dan pesan-pesannya kepada sesamanya. Saya bertanya kepada Mike mengapa ia begitu bersemangat melakukan hal ini. Jawabannya cukup sederhana, dan saya rasa Anda akan sependapat: "Jika Anda sungguh-sungguh ingin mengenal Allah, Anda perlu mengenal Kitab Suci."
Tyndale: sosok yang rela mengorbankan segalanya demi Alkitab
William Tyndale mungkin hidup 500 tahun yang lalu, namun ia dan Mike memiliki komitmen yang sama: membantu orang-orang mengenal Allah melalui Alkitab. Di masa ketika Alkitab hanya tersedia dalam bahasa Latin dan hanya kalangan terpelajar yang bisa membaca dan memahaminya, Tyndale berjuang agar rakyat biasa dapat membaca dan memahami Kitab Suci sendiri. Ia menghabiskan lebih dari satu dekade dalam pengasingan di Eropa untuk menerjemahkan Perjanjian Baru dari naskah bahasa Yunani ke dalam bahasa Inggris (terbit 1530), mencetaknya secara ilegal, dan menyelundupkannya ke Inggris.
Saat saya bertanya kepada Mike apa yang menginspirasinya dari sosok Tyndale, ia berkata, "Ketika Anda mengenal sosok dan kiprahnya—ia menyerahkan hidupnya, memberikan segalanya agar orang-orang seperti saya, Anda, dan bahkan seorang pembajak sawah yang sederhana bisa mendapatkan akses ke Alkitab. Ia harus meninggalkan negeri yang dicintainya, tidak pernah menikah, melepaskan pekerjaan yang bagus—ia merelakan semua itu agar kita semua bisa mengakses Alkitab. Dan pengorbanan itu harus dibayar dengan nyawanya. Ia menyerahkan segalanya agar Alkitab dapat diakses oleh semua orang."
Perjalanan sejauh 750 km yang terinspirasi oleh Tyndale
Musim panas ini, Mike bersepeda dari Vilvoorde di Belgia—tempat Tyndale dihukum mati—menuju Cologne, Jerman, tempat Tyndale pertama kali mencoba mencetak Alkitabnya, lalu melanjutkan perjalanan ke Konstanz di Jerman Selatan, tempat Jan Hus (tokoh kunci lain dalam gerakan Reformasi) dihukum mati. Ia membawa salinan Injil Markus di tas sepedanya untuk dibagikan di sepanjang perjalanan sekaligus menggalang dana agar orang-orang di seluruh dunia bisa mendapatkan Alkitab studi dan berbagai sumber daya pendukung untuk memahami Alkitab dan menjadikan isinya sebagai gaya hidup.
Menawarkan Alkitab—masihkah ada risikonya?
Saat ini, Alkitab tersedia dalam berbagai versi dan terjemahan yang tak terhitung jumlahnya—sesuatu yang hanya bisa diimpikan oleh Tyndale. Kita hidup di masa misi yang luar biasa, di mana kita melihat adanya keterbukaan rohani yang meningkat di negeri kita. Penjualan Alkitab melonjak tajam, dan semakin banyak orang datang ke gereja serta pusat komunitas—seperti tempat Mike berkegiatan—untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka.
Kita yang hidup di masa kini tidak menghadapi risiko yang sama seperti Tyndale saat membagikan Alkitab. Hidup kita tidak dipertaruhkan seperti hidupnya, atau seperti nasib saudara-saudari seiman di berbagai negara tempat umat Kristen mengalami penganiayaan.
Namun, menyerahkan buku yang sangat berharga ini ke tangan orang asing maupun tetangga tetaplah merupakan langkah yang penuh ketidakpastian. Namun, kita tetap mencoba melakukannya. Ada banyak orang Kristen di seluruh negeri yang tampil untuk menyambut para pencari makna rohani ini. Mereka berdiskusi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang menantang dan memperkenalkan Alkitab sebagai undangan untuk berjumpa dengan Allah yang mengasihi mereka. Jika Anda adalah salah satu dari mereka dan merasa misi ini berisiko atau di luar kemampuan Anda, biarlah kisah Tyndale menguatkan semangat Anda.
Diterjemahkan dari: biblesociety.org.uk
























