Narasumber: Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D.
Editor: Vince Ellysabeth
Mengapa orang benar tetap mengalami penderitaan? Jika Allah sungguh adil dan berkuasa, mengapa kejahatan dan ketidakadilan terus berlangsung? Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah menjadi bagian dari pergumulan iman manusia sepanjang sejarah. Penderitaan, terutama yang dialami oleh mereka yang tidak melakukan kesalahan, kerap mengguncang keyakinan mengenai keadilan, kasih, dan pemeliharaan Allah. Dalam situasi demikian, penjelasan teologis yang selama ini dianggap memadai dapat kehilangan daya jawabnya. Kitab Ayub menghadirkan pergumulan tersebut secara mendalam. Melalui pengalaman seorang yang saleh tetapi mengalami penderitaan hebat, kitab ini mengajak pembaca mempertanyakan kembali hubungan antara kesalehan, penderitaan, dan kedaulatan Allah, sekaligus menelusuri kemungkinan untuk tetap beriman ketika jawaban atas penderitaan tidak kunjung ditemukan.
Teodise dan Persoalan Keadilan Allah
Dalam diskursus teologi dan filsafat agama, pergumulan mengenai keadilan Allah di tengah penderitaan dikenal sebagai teodise. Istilah yang dirumuskan oleh filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz ini berasal dari bahasa Yunani, theos (Allah) dan dikē (keadilan). Persoalan teodise terutama muncul ketika penderitaan menimpa orang yang tidak layak mengalaminya (undeserved suffering). Filsuf Boethius merumuskan persoalan tersebut melalui pertanyaan, Si Deus justus, unde malum?, yang berarti, “Jika Allah adil, mengapa ada kejahatan?” Pertanyaan ini memperlihatkan ketegangan antara keadilan dan kemahakuasaan Allah dengan kenyataan penderitaan manusia.
Immanuel Kant memahami teodise sebagai upaya membela kebijaksanaan tertinggi Sang Pencipta terhadap berbagai tuduhan yang muncul akibat kenyataan dunia yang tampaknya bertentangan dengan tujuan penciptaan. Persoalan ini kemudian berkembang melampaui pertanyaan tentang keadilan Allah. Muncul pula diskursus antropodise, yang mempertanyakan keadilan dan tanggung jawab manusia dalam terjadinya kejahatan. Pembedaan tersebut penting karena penderitaan dapat bersumber dari peristiwa alam, seperti gempa bumi dan tsunami, maupun dari tindakan manusia, seperti peperangan, genosida, penindasan, dan kerusakan ekologis.
Dalam sejarah pemikiran Kristen, terdapat pandangan optimistis bahwa Allah mengizinkan kejahatan tanpa menjadi pendorongnya, membatasi kekuatannya, atau memungkinkan kebaikan muncul dari peristiwa buruk. Namun, sebagaimana dibahas oleh teolog Jürgen Moltmann, optimisme tersebut menghadapi tantangan serius melalui berbagai tragedi kemanusiaan. Gempa bumi Lisbon pada 1755, Holocaust di Auschwitz, serta kehancuran Hiroshima dan Nagasaki mengguncang pemahaman tentang dunia yang sepenuhnya berada dalam tatanan ilahi yang harmonis.
Bagi Moltmann, teologi tidak cukup hanya berbicara mengenai Allah setelah tragedi berlalu, tetapi juga harus bergumul dengan kehadiran-Nya di dalam penderitaan itu sendiri. Pemikiran ini dapat ditemukan dalam refleksinya terhadap kesaksian Elie Wiesel mengenai seorang anak yang digantung di kamp konsentrasi. Ketika muncul pertanyaan tentang keberadaan Allah, jawaban yang diberikan justru menunjuk kepada anak yang sedang menderita tersebut. Dengan demikian, persoalan teodise tidak lagi sekadar berkaitan dengan pembenaran keadilan Allah, tetapi juga pencarian akan kehadiran ilahi di tengah penderitaan yang sulit dipahami.
Kitab Ayub: Kesalehan yang Tidak Menjamin Kebebasan dari Penderitaan
Dalam tradisi Perjanjian Lama, persoalan teodise dapat ditemukan dalam Mazmur 13, Mazmur 73, dan Yesaya 45:7. Namun, Kitab Ayub menempati posisi penting karena mengolah persoalan tersebut melalui narasi dan perdebatan teologis yang kompleks. Kitab ini termasuk dalam kelompok sastra hikmat, tetapi menghadirkan kritik terhadap pemahaman hikmat yang menghubungkan kesalehan dengan kemakmuran secara langsung.
Menurut John Collins, penulisan Kitab Ayub kemungkinan berlangsung sekitar abad keenam hingga kelima sebelum Masehi. Secara literer, kitab ini terdiri atas prolog berbentuk prosa (pasal 1-2), rangkaian dialog puitis, dan epilog yang kembali berbentuk prosa (pasal 42). Perbedaan karakter antarbagiannya memunculkan perdebatan mengenai sejarah pembentukan teks. Salah satu pandangan dikemukakan oleh René Girard dalam bukunya Ayub Korban Masyarakatnya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D. Girard memandang bahwa prolog, bagian dialog, dan epilog berasal dari tradisi penulisan yang berbeda sebelum akhirnya disatukan. Kendati demikian, terlepas dari persoalan sejarah pembentukannya, Kitab Ayub dalam bentuk akhirnya tetap perlu dibaca sebagai satu kesatuan literer, termasuk dengan berbagai ketegangan teologis yang muncul di antara bagian-bagiannya.
Ayub digambarkan sebagai seorang yang saleh dan makmur, berasal dari tanah Us, yang kemungkinan berada di sekitar Edom. Ia bukan tokoh yang secara eksplisit diidentifikasi sebagai orang Israel. Dalam prolog, muncul figur ha-satan, yakni pendakwa yang memiliki akses ke dalam sidang ilahi. Dalam konteks teks ini, ha-satan belum sepenuhnya tampil sebagai figur demonis sebagaimana berkembang dalam tradisi yang lebih kemudian. Ia mempertanyakan ketulusan kesalehan Ayub: apakah Ayub sungguh takut akan Allah tanpa pamrih, atau karena selama ini kehidupannya dipenuhi berkat?
Setelah memperoleh izin untuk menguji Ayub, penderitaan bertubi-tubi menimpa tokoh tersebut. Ia kehilangan harta benda, anak-anak, dan kesehatannya. Namun, terdapat unsur naratif yang penting: Ayub sama sekali tidak mengetahui percakapan dalam sidang ilahi yang melatarbelakangi penderitaannya. Pembaca justru memiliki informasi yang tidak diketahui oleh tokoh utama. Ketimpangan pengetahuan ini memperlihatkan keterbatasan manusia dalam memahami pengalaman penderitaannya sendiri.
Ketegangan semakin terlihat ketika Ayub, yang dalam prolog menerima penderitaan dengan ketegaran, justru mengutuki hari kelahirannya pada pasal 3. Perubahan tersebut tidak harus dipahami sebagai hilangnya iman, melainkan dapat dibaca sebagai gambaran kompleksitas respons manusia terhadap penderitaan. Kesalehan tidak menghapus kemungkinan munculnya keputusasaan, kemarahan, dan pertanyaan terhadap Allah.
Menggugat Teologi Pembalasan
Pergumulan Ayub berkembang melalui dialognya dengan tiga sahabat, yakni Elifas, Bildad, dan Zofar. Ketiganya mempertahankan pemahaman teologis yang menghubungkan penderitaan dengan kesalahan moral. Dalam kerangka teologi pembalasan tersebut, orang benar semestinya menerima berkat, sedangkan orang berdosa mengalami hukuman. Karena Ayub menderita, mereka menyimpulkan bahwa ia pasti telah melakukan kesalahan.
Menurut Collins, argumentasi para sahabat bersifat deduktif karena berangkat dari suatu prinsip teologis yang dianggap berlaku universal. Sebaliknya, Ayub menanggapi berdasarkan pengalaman konkret penderitaannya. Ia tidak menyangkal kebesaran Allah, tetapi menolak kesimpulan bahwa penderitaannya merupakan bukti kesalahannya. Dalam Ayub 9:20, ia bahkan mengungkapkan kesulitan membela diri ketika Allah dipahami sekaligus sebagai hakim dan pihak yang mendakwanya. Pergumulan Ayub dengan demikian bukan sekadar mengenai ketidakhadiran Allah, melainkan juga pengalaman merasa ditekan oleh Allah yang diyakininya berkuasa.
Meskipun demikian, protes Ayub tidak sepenuhnya meniadakan harapan. Dalam Ayub 19:25, ia menyatakan keyakinan bahwa penebusnya hidup. Istilah Ibrani go'el yang digunakan dalam bagian ini mengandung persoalan penafsiran yang kompleks. Dalam konteks asalnya sebagai teks Yahudi, pernyataan tersebut tidak dapat serta-merta dipahami sebagai nubuat langsung mengenai Yesus Kristus. Sebagaimana dijelaskan Collins, penekanannya terletak pada harapan Ayub akan datangnya pembelaan, meskipun identitas pihak yang membelanya tetap menjadi perdebatan di kalangan penafsir.
Tokoh Elihu kemudian muncul dalam pasal 32-37. Meskipun sebagian argumentasinya memiliki kemiripan dengan pandangan para sahabat sebelumnya, Elihu memberikan penekanan penting mengenai sumber hikmat. Dalam Ayub 32:8-9, ia menyatakan bahwa pengertian berasal dari roh dalam diri manusia dan napas Yang Mahakuasa, bukan semata-mata dari usia lanjut. Pernyataan ini menggugat asumsi tradisional bahwa kebijaksanaan selalu ditentukan oleh senioritas. Dengan demikian, Kitab Ayub memperlihatkan bahwa pandangan keagamaan yang telah lama diterima tetap perlu diuji secara kritis ketika berhadapan dengan kenyataan kehidupan.
Allah yang Melampaui Konsep Keadilan Manusia
Puncak pergumulan Kitab Ayub muncul ketika Allah berbicara dari dalam badai (pasal 38-41). Menariknya, Allah tidak memberikan penjelasan langsung mengenai penyebab penderitaan Ayub. Sebaliknya, Allah mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai penciptaan, keteraturan kosmos, dan kehidupan berbagai makhluk. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa Ayub keluar dari pusat persoalan dirinya menuju cakrawala ciptaan yang jauh lebih luas.
Menurut Collins, bagian ini memperhadapkan Ayub dengan kenyataan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari keseluruhan ciptaan. Keterbatasan pengetahuan manusia membuatnya tidak mampu memahami seluruh karya dan tindakan Allah. Namun, persoalannya bukan bahwa Allah bertindak tidak adil, melainkan bahwa keadilan Allah tidak dapat sepenuhnya diukur menggunakan kategori-kategori yang dibangun manusia.
James Crenshaw mempertajam persoalan ini melalui pertanyaan mengenai kebebasan Yang Ilahi. Apakah Allah harus tunduk pada asumsi manusia mengenai bagaimana Ia seharusnya bertindak? Dalam perspektif ini, Kitab Ayub melakukan kritik terhadap ortodoksi hikmat yang memahami hubungan antara kesalehan dan kemujuran sebagai rumusan yang selalu berlaku. Keyakinan bahwa orang benar pasti diberkati dan orang berdosa pasti dihukum ternyata tidak memadai untuk menjelaskan seluruh pengalaman manusia.
Teguran Allah kepada para sahabat Ayub dalam epilog memperkuat kritik tersebut. Mereka yang merasa telah membela keadilan Allah justru dinyatakan tidak berkata benar mengenai-Nya sebagaimana Ayub (42:7). Hal ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap Allah melalui rumusan teologis yang kaku tidak selalu mencerminkan pemahaman yang benar tentang-Nya. Sebaliknya, pergumulan Ayub yang penuh protes justru memperoleh pengakuan. Kitab ini dengan demikian mengingatkan bahwa manusia tidak dapat memonopoli Allah melalui konsep-konsep keagamaan yang disusunnya sendiri.
Iman sebagai Keberanian Memasuki Misteri
Kitab Ayub tidak menawarkan jawaban sederhana mengenai alasan orang benar mengalami penderitaan. Bahkan setelah Allah menyatakan diri, pertanyaan mengenai penyebab penderitaan Ayub tidak dijawab secara langsung. Yang berubah adalah perspektif Ayub mengenai dirinya, keterbatasan pengetahuannya, dan kebesaran Allah yang melampaui pemahaman manusia.
Pdt. Prof. Dr(h.c.) Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. menggambarkan iman sebagai keberanian berjalan bersama misteri. Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D., mengembangkan gagasan tersebut dengan menekankan bahwa iman bukan hanya keberanian berjalan bersama misteri, melainkan juga keberanian memasuki inti misteri itu sendiri. Iman tidak selalu membawa manusia menjauh dari pertanyaan dan penderitaan, tetapi justru memungkinkan manusia menghadapinya tanpa harus terlebih dahulu memiliki seluruh jawaban.
Dalam pemahaman tersebut, Mysterium Dei, yakni kemisteriusan Allah, berkelindan dengan Providentia Dei, yakni pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah atas kehidupan. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Allah tetap dapat dipercaya sebagai pemelihara kehidupan, sekalipun manusia tidak selalu mampu memahami bagaimana karya-Nya berlangsung di tengah pengalaman yang menyakitkan.
Pergumulan Ayub akhirnya memperlihatkan bahwa kedewasaan iman tidak ditentukan oleh kemampuan menjelaskan seluruh penderitaan melalui rumusan teologis tertentu. Iman justru menuntut kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan pengetahuan manusia, sekaligus keberanian untuk terus bergumul dengan Allah. Dalam pengalaman demikian, pertanyaan, keluhan, bahkan protes tidak serta-merta menjadi tanda ketiadaan iman, melainkan dapat menjadi bagian dari hubungan yang sungguh-sungguh dengan Yang Ilahi.
Dengan demikian, beriman di tengah luka bukan berarti meniadakan penderitaan atau memaksakan penjelasan atas setiap tragedi. Sebagaimana diperlihatkan melalui kisah Ayub, iman merupakan keberanian untuk memasuki misteri kehidupan bersama Allah, yang kasih, kebebasan, dan karya-Nya senantiasa melampaui segala sesuatu yang dapat dirumuskan manusia.
Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/live/acyf00jc_sk?si=OxC7ur3yq-M41aqd
























