Salah satu kekuatan besar dari Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (United Bible Societies Fellowship) adalah bagaimana pelayanan Kabar Baik berkembang melalui hubungan antarmanusia. Melintasi berbagai negara, budaya, dan organisasi, Lembaga-Lembaga Alkitab menyatukan orang-orang dalam satu panggilan bersama: menjadikan firman Tuhan tersedia, mudah diakses, dan bermakna bagi setiap orang. Sering kali, dampak dari hubungan antar manusia tersebut melampaui tujuan awal dari sebuah proyek, pertemuan, atau inisiatif pelayanan.
Kisah pribadi ini merupakan contoh nyata tentang apa yang dapat terjadi ketika kita melayani dan membangun kemitraan dengan berbagai kalangan. Kita diajak untuk mau terbuka satu sama lain, dan dengan saksama mendengarkan ke mana Roh Tuhan akan menuntun kita.
Contoh berikut adalah pelayanan yang bermula dari keterlibatan Lembaga Alkitab Amerika (American Bible Society (ABS)) dalam Komunitas Global untuk Pelayanan Trauma Healing (Pemulihan Trauma) di Kenya. Pelayanan ini kemudian berkembang menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan proses saling mendengarkan, membangun hubungan, dan menghadirkan peluang-peluang tak terduga—mulai dari hubungan yang lebih erat dengan Lembaga Alkitab Kenya (BSK) hingga visi yang terus berkembang untuk mendukung pendidikan bagi anak perempuan dan komunitas lokal.
Ternyata, Tuhan memakai persekutuan ini lebih dari sekadar jaringan organisasi. Persekutuan menjadi sebuah komunitas di mana orang-orang, pengalaman, sumber daya, dan hubungan dapat dipertemukan dengan cara-cara yang tidak selalu bisa kita duga. Kolaborasi menciptakan koneksi; kemitraan membuka pintu; dan ketika seseorang bersedia mendengarkan serta menanggapi panggilan Tuhan, satu tindakan pelayanan dapat menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Danielle Aarstad, Enterprise Events Manager, Lembaga Alkitab Amerika menceritakan pengalamannya di Kenya. Berikut kesaksiannya.
Dampak Lembaga Alkitab: Ketika Misi Melahirkan Sebuah Gerakan
Saat saya pergi ke Kenya bersama ABS untuk membantu memfasilitasi pertemuan “Komunitas Global untuk Pelayanan Trauma Healing (Pemulihan Trauma)” pada Oktober 2025, saya tahu bahwa saya akan berkontribusi dalam sebuah program yang menghadirkan harapan dan pemulihan melalui firman Tuhan. Namun, saya tidak menyangka bahwa pengalaman tersebut akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih—bahkan mungkin sesuatu yang ajaib.
Dalam konferensi Trauma Healing tersebut, saya menyaksikan secara langsung dampak transformatif dari pelayanan “Restoring Hope” (Memulihkan Harapan). Perjalanan ke Kenya tersebut membuat saya sadar, ternyata jangkauan pelayanan ABS jauh melampaui acara-acara yang mereka sponsori atau dana yang mereka galang. Dengan menyatukan orang-orang dalam satu misi bersama, ABS melahirkan duta-duta yang terus melanjutkan misi tersebut, bahkan setelah konferensi atau pelatihan-pelatihan konferensi berakhir.
Selama satu minggu di Kenya, saya menjalin komunikasi dan hubungan dengan berbagai pihak. Setelahnya, saya disadarkan akan berbagai hambatan yang dihadapi banyak anak perempuan di negara tersebut dalam mengakses pendidikan. Apa yang bermula dari kegiatan mendengarkan dan belajar, berkembang menjadi komitmen pribadi untuk turut mendukung pendidikan bagi anak-anak perempuan. Relasi yang saya bangun membuka jalan bagi saya untuk melanjutkan percakapan dengan para pemimpin lokal, anggota masyarakat, pejabat pemerintah, dan pihak-pihak lain yang memiliki visi serupa: menciptakan peluang yang lebih luas bagi generasi mendatang.
Sebuah kesempatan tak terduga kemudian muncul. Bulan Juli tahun berikutnya, saya kembali ke Kenya untuk meninjau proyek air bersih sekaligus melakukan riset mengenai pendidikan anak perempuan. Saat berbicara dalam sebuah kebaktian gereja di Nairobi, seorang mitra pelayanan lokal dengan murah hati menawarkan lahan seluas 20 ekar (sekitar 8 hektare) untuk pembangunan sekolah. Tak lama berselang, seorang pejabat pemerintah berkomitmen untuk membantu pendanaan konstruksi sekaligus mengupayakan dukungan dari pemerintah Kenya agar proyek ini dapat terlaksana. Apa yang awalnya direncanakan sebagai perjalanan untuk mendukung sebuah konferensi, berkembang menjadi sebuah rencana yang berpotensi mengubah kehidupan banyak anak. Hal ini juga memberi saya kesempatan istimewa untuk menghubungkan Lembaga Alkitab Kenya dan mitra-mitranya dengan orang-orang yang membutuhkan Alkitab, Tidak lupa aya mengajak para mitra memikirkan bersama bagaimana mendukung program-program pelayanan BSK secara berkelanjutan.
Pengalaman ini menegaskan sebuah kebenaran mengenai karya pelayana lembaga-lembaga Alkitab: dampaknya tidak bisa sekadar diukur dari jumlah dana yang terkumpul atau program yang dijalankan. Sebagai bagian dari Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (UBS), ABS berperan sebagai katalisator dalam membangun hubungan, menginspirasi semangat melayani, dan menghubungkan sesama dengan cara-cara yang sering kali menghasilkan dampak yang tak terduga. Dengan berinvestasi pada manusia dan membina hubungan yang bermakna, organisasi ini menciptakan efek domino yang melampaui satu peristiwa tertentu. Satu percakapan memicu percakapan lainnya. Satu tindakan penuh kasih menginspirasi tindakan lainnya. Satu konferensi pemulihan trauma menjadi katalisator bagi berdirinya sebuah sekolah, membuka peluang baru bagi anak-anak perempuan, serta menghadirkan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh komunitas.
Perjalanan saya ke Kenya bermula dari keinginan untuk melayani lewat pelatihan Pemulihan Trauma (Trauma Healing). Kini, pelayanan tersebut terus berlanjut melalui berbagai kemitraan, inisiatif pendidikan, dan visi yang kian berkembang tentang apa yang mungkin dicapai ketika orang-orang dipersatukan oleh iman, tujuan, dan komitmen bersama untuk mengubah kehidupan. Itulah kekuatan abadi dari lembaga-lembaga Alkitab: bukan sekadar menggalang dukungan untuk pelayanan, melainkan melahirkan duta-duta dan membangun jejaring yang membuat karya Tuhan terus berlipat ganda dengan cara yang sungguh tak terbatas.
Diterjemahkan dari: ubs community
























