Langit Jakarta masih menyimpan sisa mendung ketika rombongan Panitia Natal Nasional (Panat) 2025 melangkah masuk ke Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Selasa, 13 Januari 2026. Tidak ada sorak-sorai, tidak pula panggung megah. Yang tersisa hanyalah keheningan yang diisi oleh percakapan sederhana, tatapan yang memendam kepedulian, dan satu kerinduan yang perlahan dirawat: agar Firman Tuhan sungguh hadir, menjadi penghiburan yang meneguhkan bagi mereka yang terluka oleh bencana.
Di Gedung Pusat Alkitab itulah komitmen diteguhkan. Panitia Natal Nasional 2025 menyatakan dukungannya untuk pengadaan 30.000 Alkitab, kelanjutan dari aksi sosial yang menjadi rangkaian Perayaan Natal Nasional 2025. Alkitab-alkitab ini direncanakan untuk menjangkau para penyintas bencana, yaitu mereka yang bukan hanya kehilangan rumah dan harta, tetapi juga membutuhkan penguatan iman untuk melanjutkan hidup.
Menteri Perumahan dan Pemukiman yang juga sekaligus Ketua Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait, menyampaikan komitmen tersebut dengan lugas dan tegas. “Jadi kedatangan kami adalah untuk memesan 30 ribu Alkitab. Itu sudah disiapkan,” ujarnya, sembari menekankan pentingnya kejelasan desain, distribusi, dan waktu pelaksanaan agar bantuan ini benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Baginya, berbagi berkat bukan sekadar niat baik, melainkan tanggung jawab yang harus dituntaskan dengan integritas.
“Kalau sudah diputuskan, jangan ditahan. Jangan menahan kebaikan, apalagi buat saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegasnya
Kunjungan Panitia Natal Nasional ke Lembaga Alkitab Indonesia bukan sekadar agenda seremonial. Dalam kesempatan tersebut, rombongan diajak melihat langsung perjalanan pelayanan Alkitab di Indonesia, mulai dari museum edukasi, hingga mendengarkan kisah-kisah lapangan tentang Alkitab yang dinantikan umat selama puluhan tahun di wilayah pelosok. Di hadapan para tamu, Sekretaris Umum LAI, Dr. Sigit Triyono, menegaskan bahwa Alkitab bukan hanya sebuah buku, melainkan sumber kehidupan iman bagi umat.
“Kami pernah mengirim Alkitab ke satu daerah. Seorang bapak menangis haru memeluk Alkitab itu karena sudah menunggu 20 tahun. Tapi ia menangis lagi, karena ia tidak bisa membaca,” kisahnya lirih
Kisah itu menjadi pengingat bahwa menghadirkan Firman berarti juga menghadirkan pengharapan—bahkan di tengah keterbatasan.
Komitmen Panitia Natal Nasional 2025 ini tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada tema Natal Nasional 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24). Tema ini menemukan maknanya yang paling konkret justru ketika Firman Allah dihadirkan kepada keluarga-keluarga yang sedang bergumul, tercerai-berai oleh bencana alam, dan berjuang menata kembali hidup mereka.
Perayaan Natal Nasional 2025 sendiri telah berlangsung pada Senin, 5 Januari 2025, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Sekitar 3.000 tamu kehormatan hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran Presiden Republik Indonesia dalam perayaan ini menjadi penanda penting bahwa negara memberi perhatian dan ruang bagi kehidupan keberagaman keagamaan, serta mengakui peran iman dalam membangun ketangguhan bangsa.
Namun, semangat Natal Nasional tidak berhenti di panggung perayaan. Melalui dukungan pengadaan Alkitab ini, pesan Natal diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Firman yang dicetak, didoakan, dan didistribusikan menjadi saksi bahwa kasih Allah tidak tinggal sebagai wacana, tetapi menjelma menjadi pelukan bagi mereka yang berduka.
LAI menyambut komitmen ini dengan penuh sukacita. Dengan pengalaman panjang dalam distribusi Alkitab, termasuk ke wilayah-wilayah terdampak bencana, LAI memastikan bahwa setiap Alkitab akan disalurkan melalui jejaring gereja dan mitra lokal, agar sampai kepada tangan yang tepat. “Kalau Panitia Nasional berkenan, kami sangat suka cita. Sebagian bisa diedarkan melalui LAI, baik di tempat bencana ataupun di pelosok-pelosok yang memang membutuhkan,” ungkap Dr. Sigit.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh angka kerugian dan statistik bencana, kisah ini mengingatkan bahwa pemulihan juga membutuhkan kata-kata yang menguatkan jiwa. Tiga puluh ribu Alkitab mungkin tampak sebagai angka, tetapi bagi mereka yang akan menerimanya, setiap Alkitab adalah tanda bahwa mereka tidak dilupakan.
Di sanalah Natal menemukan gema terpanjangnya: ketika Allah yang hadir dalam sejarah, terus menyatakan kehadiran-Nya melalui tangan-tangan yang mau berbagi, dan melalui Firman yang setia menguatkan umat-Nya—bahkan di tengah reruntuhan.























