Di sebuah ruang pertemuan eksklusif di Sahid Sudirman Center, pada 26 Februari 2026, suasana pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar forum bisnis atau presentasi investasi. Executive Gathering yang digelar di kantor Henan Asset Management menjadi titik temu antara visi pelayanan dan tata kelola keuangan modern.
Acara kolaboratif antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Henan Asset Management ini dirancang sebagai langkah bersama untuk memperkenalkan program Dana Abadi kepada para mitra yang memiliki kapasitas dan kepedulian besar—baik dari kalangan perusahaan maupun para investor individu.
Melalui pertemuan ini, LAI dan Henan ingin mengajak para mitra melihat bahwa mendukung pelayanan penerjemahan dan penyebaran Alkitab tidak harus selalu lewat donasi yang habis dipakai, tetapi bisa melalui skema yang dikelola secara berkelanjutan. Harapannya, dukungan yang terkumpul dapat menjadi fondasi kuat agar pelayanan LAI terus berjalan, hari ini dan untuk generasi yang akan datang.
Dari Investasi Menuju Warisan
Membuka rangkaian acara, Mathias Aryesam mengingatkan bahwa pertemuan ini bukan sekadar bicara angka. ”Hari ini kita bicara bukan hanya tentang investasi. Kita bicara mengenai keberlanjutan dampak jangka panjang dan bagaimana iman serta pengelolaan dana yang bijak dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Doa yang dipimpin Pdt. Anwar Tjen, Kepala Departemen Penerjemahan LAI, menegaskan arah spiritual pertemuan tersebut. ”Bukalah hati kami dan biarlah percakapan ini menjadi langkah ke depan bersama-sama menghadirkan kabar baik untuk seluruh negeri sampai ke pelosok,” doanya.
Atmosfer profesional dan eksklusif sengaja dibangun. Bagi LAI, membangun kepercayaan dan akuntabilitas adalah fondasi utama. Endowment Fund bukan sekadar instrumen finansial, melainkan mekanisme berkelanjutan agar pelayanan penerjemahan dan penyebaran Alkitab tidak terhenti oleh fluktuasi ekonomi.
Mengapa Dana Abadi?
Bendahara Umum LAI, Bardiyono Wiyatmojo, memaparkan realitas yang dihadapi lembaga yang telah berdiri sejak 1954 ini. Hingga kini, LAI telah menerjemahkan Alkitab lengkap ke dalam 39 bahasa daerah, serta menerbitkan lebih dari 70 juta eksemplar. Namun tantangan tetap besar.
“Tahun 2025 terjadi penurunan dukungan dan gap antara anggaran dan realisasi semakin besar. Untuk menjawab kebutuhan 2026 dan seterusnya, kami membutuhkan dana Rp 23,9 miliar,” jelasnya.
Ia menegaskan, Endowment Fund dipilih sebagai solusi strategis agar dana pokok tetap terjaga dan hasil pengembangannya menopang pelayanan. “Langkah kecil kita hari ini merupakan investasi bagi kabar baik di masa depan,” tuturnya.
Bahasa Hati dan Transformasi
Penjelasan data menjadi hidup ketika Pdt. Anwar Tjen berbagi kisah dari pelosok Papua. Ia menceritakan pengalaman peluncuran Perjanjian Baru dalam bahasa Walak pada 2021.
“Mereka datang, menangis dalam bahasa Walak. Di atas firman Tuhan itu mereka berjanji untuk berdamai selama-lamanya. Sampai sekarang perdamaian itu terjaga,” ungkapnya.
Ia menambahkan, “Firman Tuhan itu adalah bahasa hati. Kalau kita berdoa sendirian, kita pakai bahasa apa? Itulah bahasa hati.”
Kesaksian tersebut menjadi benang merah mengapa Dana Abadi dibutuhkan. Ini bukan semata urusan angka, melainkan transformasi hidup.
Komitmen Tata Kelola
Dari sisi mitra pengelola, Direktur Henan Asset Management, Markam Halim, menegaskan keseriusan perusahaannya. Berdiri sejak 1990 dan resmi spin-off sebagai manajer investasi pada 2006, Henan kini mengelola dana hingga Rp 18 triliun per akhir 2025.
“Kemitraan ini menjadi suatu tugas kepercayaan yang sangat berharga bagi kami. Bagaimana kami akan mengelola ini dengan sangat baik dan memberikan hasil yang diharapkan, sekaligus membantu LAI melaksanakan visi misinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan konsep Endowment Fund berbeda dari donasi tradisional. Dana yang ditempatkan akan diinvestasikan secara hati-hati—sekitar 70% pada instrumen pendapatan tetap dan maksimal 15% pada saham—dengan target imbal hasil stabil 6–7% per tahun. Hasil pengelolaan inilah yang akan menjadi sumber kontribusi berkelanjutan bagi LAI, sementara dana pokok tetap berkembang.
Henan juga berkomitmen membagikan sebagian management fee sebagai bentuk CSR untuk mendukung program LAI. Skema ini memungkinkan investor tetap memperoleh hasil optimal, sekaligus berkontribusi nyata pada pelayanan.
Membangun Kepercayaan Bersama
Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan antusiasme sekaligus kehati-hatian para mitra. Pertanyaan seputar risiko, komitmen jangka panjang, hingga mekanisme CSR dijawab secara terbuka.
Sebagai lembaga oikumenis yang melayani seluruh gereja di Indonesia—Protestan, Katolik, hingga Ortodoks—LAI menegaskan tata kelola keuangannya diaudit secara eksternal dengan opini wajar tanpa pengecualian.
Executive Gathering ini menjadi lebih dari sekadar sosialisasi program. Ia adalah ruang membangun kepercayaan: antara lembaga pelayanan, manajer investasi, dan para pemangku kepentingan.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan perilaku digital, Endowment Fund menawarkan paradigma baru: memberi tanpa menghabiskan, berinvestasi sambil mewariskan iman.
Sebagaimana disampaikan dalam presentasi, ini bukan hanya investasi finansial, tetapi investasi rohani. Sebuah warisan terstruktur agar Firman Tuhan tetap hidup—di kota besar hingga pelosok negeri.
























