Seringkali kita berpikir bahwa kejahatan dan dosa yang kita lakukan dapat disembunyikan dari Allah. Pemikiran tersebut demi menciptakan rasa aman palsu yang berujung pada pembenaran atas dosa-dosa serta kesalahan kita. Padahal di muka bumi ini tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Ia mengetahui serta mengenal umat-Nya.
Mazmur ini ditulis oleh pemazmur berdasarkan kisah ketika Doeg, orang Edom, memberitahu Saul mengenai keberadaan Daud di rumah Ahimelekh. Dengan mengadukan Daud kepada Saul, Doeg pikir akan aman dari hukuman yang akan diberikan Saul bagi mereka yang tidak mau bekerja sama dan membelanya. Dengan membunuh para imam di Nob, Saul pikir dirinya aman dari orang-orang yang dianggap menentangnya. Baik Doeg maupun Saul lebih memilih bermegah dalam kejahatan, merancang kejahatan dan penipuan, serta lebih cinta kejahatan daripada kebaikan.
Orang-orang yang senang terhadap kejahatan ini secara khusus dikaitkan dengan perkataan dusta atau upaya menipu orang lain. Kecaman dilontarkan terhadap mereka yang menyakiti sesama bahkan dengan perkataannya. Ironisnya, alih-alih bertobat, mereka justru bermegah dalam kejahatan. Tidak ada penyesalan dalam diri orang-orang itu. Harus Allah sendirilah yang merobohkan segala keangkuhan tersebut. Sementara itu bagi orang-orang benar, nasib mereka sangatlah berbeda dengan orang-orang fasik. Kejahatan tidak ada dalam benak mereka karena orang-orang itu memilih untuk berada di pihak Allah serta menghayati kasih setia-Nya.
Sahabat Alkitab, seruan pemazmur pada hari ini adalah pengingat bagi kita semua agar tidak merasa nyaman atas segala salah serta kejahatan yang kita perbuat. Allah tahu apa yang kita perbuat. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Maka marilah kita memulai kehidupan yang berkenan kepada-Nya dengan memilih yang benar dalam hidup. Menolak untuk berkompromi dengan dosa serta tidak mentolerir kejahatan-kejahatan yang terjadi.