Membaca dengan seksama perikop kita kali ini, sungguh menghadirkan sebuah perasaan yang berkecamuk. Setiap harinya kita dicekoki dengan berbagai berita yang mengungkap kenyataan menyedihkan di republik ini. Entah itu korupsi yang dilakukan berbagai pejabat dari berbagai tingkatan di seantero negeri, konflik di berbagai penjuru, hingga kepada kejahatan-kejahatan di luar nalar yang dilakukan seseorang kepada orang lainnya. Bagaimanakah kita menyikapinya? Apakah kita dapat bertahan untuk selalu berjalan pada jalan yang benar di tengah segala krisis tersebut?
Syair pemazmur kali ini merupakan sebuah kecaman atas segelintir orang yang bertahan dalam kebebalannya. Dengan lantang mereka menyerukan bahwa “tidak ada Allah”. Akibatnya adalah orang-orang bebal itu dengan bebasnya melakukan berbagai kecurangan. Mereka yang berakal budi seharusnya tahu dan mengenal Allahnya serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Namun Allah memandang ke bumi dan tidak ditemukannya anak-anak manusia yang berakal budi.
Pemazmur menunjukkan realita yang ada. Hanya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk menindas orang lain dan merebut “roti” dari tangan mereka. Kepada golongan ini, Allah akan menegakkan keadilan-Nya. Mereka yang berkubang dalam kebebalannya akan dikepung dan dipermalukan, bahkan ditolak oleh Allah (ay. 6). Sebaliknya orang-orang benar yang menghidupi kesalehannya akan diselamatkan dan dipulihkan oleh Allah sehingga mereka akan mengalami sukacita dari Allah.
Sekarang pilihannya ada pada kita. Apakah kita terjerumus ke dalam kebebalan seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar kita, atau tetap hidup saleh seturut firman-Nya? Marilah dengan tegas menolak segala penggodaan yang datang serta berjuang untuk hidup saleh seturut hikmat-Nya.