Manusia adalah makhluk yang punya kelebihan dalam hal akal budinya untuk memproses fakta, pengalaman, dan memori menjadi sebuah informasi yang menggerakkan kehidupannya. Terutama ingatan yang dimiliki oleh manusia, bisa menggugah hasratnya untuk mensyukuri dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik, atau sebaliknya menghadirkan rasan pahit dan kecewa tiada berujung. Maka penting untuk memelihara ingatan-ingatan baik akan sesuatu yang menggairahkan kehidupan. Hal ini juga berlaku dalam cara kita mengingat karya-karya Allah yang terjadi dalam hidup kita. Bukankah Ia telah menghadirkan segala kebaikan dalam hidup kita? Keindahan tercipta melalui rangkaian karya-Nya.
Mazmur 136:1-9 merupakan sebuah syair yang mengungkapkan kuasa Allah dalam mengubah kekacauan dan ketidakteraturan menjadi keteraturan sehingga kehidupan menjadi mungkin untuk bersemai di muka bumi. Di dalamnya pemazmur seperti memberikan kesaksian bahwa hanya Allah sendiri yang dapat melakukan banyak karya ajaib dalam dunia. Karya luar biasa yang tidak mungkin bisa terjadi jika bukan karena kuasa Allah. Sebagaimana diekspresikan dalam ayat 4 yang berfungsi sebagai penegasan awal bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam lingkup karya-Nya merupakan mukjizat semata.
Berturut-turut dijelaskan tentang proses penciptaan semesta. Urut-urutan ini mengikuti pola penciptaan di kitab Kejadian. Mulai dari langit, bumi, serta matahari dan bulan yang memberi kestabilan dan keteraturan bagi seluruh ciptaan (ay. 7-9). Menariknya pada ayat 5 ditambahkan penjelasan bahwa penciptaan langit dan proses berkarya Allah melibatkan kebijaksanaan-Nya untuk menunjukkan tata kelola Allah atas semesta yang diarahkan menuju kebaikan semata. Dunia ini tercipta dalam mukjizat-Nya, diarahkan pada keteraturan seluruh unsur-unsur semesta, serta bertujuan untuk menghadirkan kebaikan bagi seluruh ciptaan. Syair ini bagaikan kesaksian atas seluruh karya Allah yang telah terjadi untuk menegakkan perjanjian-Nya yang abadi. Maka dari itu seluruh pernyataan akan tindak tanduk Allah tersebut diakhiri dengan kalimat, “sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Bukankah seruan itu masih merepresentasikan kenyataan saat ini bahwa kasih setia Tuhan berlangsung selama-lamanya.
Sahabat Alkitab, bukankah seruan pemazmur bahwa sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya, merupakan sebuah kesaksian hidup yang masih relevan sampai kapanpun. Tiada satu pun yang abadi, tetapi hanya Tuhanlah yang abadi dalam segala kasih serta kesetiaan-Nya. Sejak semula Ia mencipta dan menata semesta, dari ketiadaan menjadi ada, ketidakteraturan menjadi keteraturan, penataan dan penciptaan itu terus terjadi untuk selama-lamanya. Maka mengucap syukurlah atas kebaikan dan karya-Nya senantiasa. Mungkin kita berjumpa dengan berbagai pergumulan serta kesulitan hidup, tetapi ingatan akan kasih setia Tuhan memampukan serta menguatkan kita untuk menghadapinya.
























