Seorang atlet tidak serta merta terlahir sebagai juara. Di balik momen kemenangan yang kita lihat di layar, ada tahun-tahun latihan yang tidak terlihat: gerakan yang diulang tanpa henti, cedera yang memaksa berhenti, kekalahan yang menumbuhkan rasa ragu, dan godaan untuk menyerah. Dalam dunia olahraga, proses sering lebih panjang dan lebih berat daripada hasilnya. Namun justru di sanalah karakter, disiplin, dan ketahanan batin seorang atlet dibentuk, jauh sebelum medali disematkan di lehernya.
Mazmur 144:1–7 mencerminkan iman yang bertumbuh dalam kesadaran akan pentingnya proses. Pemazmur memuji TUHAN sebagai Dia yang “mengajar tanganku untuk bertempur, dan jariku untuk berperang.” Ungkapan ini dengan jelas menampilkan tentang pembelajaran yang berulang dan membentuk. Mazmur ini beresonansi kuat dengan Mazmur 18, yang berakar pada pengalaman hidup Daud, pelarian, peperangan, dan ancaman nyata. Kelihaian Daud bukan semata-mata ‘bawaan lahir’, melainkan buah dari tangan Allah yang bekerja melalui sejarah hidupnya, melalui latihan yang keras dan panjang.
Kesadaran itu semakin diperdalam dalam ayat 3-4, ketika pemazmur merenungkan rapuhnya manusia: seperti angin yang berembus dan bayang-bayang yang lewat. Kesadaran akan keterbatasan inilah yang menjadi fondasi pertumbuhannya. Atlet yang menyangkal keterbatasannya akan mudah hancur oleh kegagalan, sebaliknya jika mengakuinya maka ia akan belajar beradaptasi, bertumbuh, dan bertahan. Pemazmur pun tidak menutupi ancaman yang dihadapinya, tetapi memohon agar tangan Allah turun dan menopang hidup yang rapuh di tengah kekacauan.
Sahabat Alkitab, proses hidup yang kadang kita anggap tak menentu ini, adalah bahasa kasih Allah. Tuhan tidak membentuk manusia melalui kemenangan instan, melainkan melalui latihan yang setia. Di saat kegagalan datang dan jiwa terasa ingin menyerah, ingatlah bahwa Tuhan hadir dalam diam, menenun keteguhan batin dan memperdalam iman kita. Seperti atlet yang akhirnya menuai hasil dari latihan panjangnya, kita pun kiranya tak jemu untuk terus berproses di tengah dinamika kehidupan ini. Di tengah tuntutan hidup sehari-hari, ketidakpastian ekonomi, dan kegelisahan sosial yang kita alami, kita dipanggil untuk tetap setia dan bertekun. Kesetiaan itu hadir dalam langkah-langkah sederhana: bekerja dengan jujur, menjaga harapan, dan terus melangkah bersama Tuhan, sebab tangan yang melatih kita hari ini adalah tangan yang setia menuntun kita ke depan.
























