Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, doa sering kali direduksi menjadi sekadar permintaan agar masalah segera selesai. Kita datang kepada Tuhan membawa kecemasan, berharap situasi berubah secepat mungkin, lalu kembali menjalani hidup dengan ritme yang sama. Namun Mazmur 143 mengingatkan bahwa doa bukan hanya soal mencari jalan keluar, melainkan ruang perjumpaan yang perlahan membentuk iman. Justru dalam keterdesakan, kejujuran, dan pengakuan akan keterbatasan diri, doa menjadi tempat di mana manusia belajar percaya dengan lebih dewasa.
Mazmur 143 merupakan bagian dari rangkaian ratapan pribadi Daud (Mazmur 140-143), yang lahir dari pengalaman hidup yang tertekan dan penuh ancaman. Pemazmur memulai doanya dengan permohonan agar Tuhan berkenan mendengarkan, bukan dengan membenarkan diri, melainkan dengan bersandar pada karakter Allah sendiri: kemurahan, kesetiaan, dan keadilan-Nya. Ia bahkan memohon agar Tuhan tidak menghakiminya, sebab ia sadar bahwa tidak seorang pun benar di hadapan Allah. Doa di sini menjadi ruang pembentukan iman, ketika manusia berhenti mengandalkan kelayakan diri dan belajar berserah pada kasih karunia Tuhan.
Keluhan yang disampaikan pemazmur sangat manusiawi. Musuh mengejar, hidup terasa terhimpit, dan pemazmur menggambarkan dirinya berada di tempat-tempat gelap, dengan roh yang melemah. Namun di tengah keputusasaan itu, ia memilih untuk mengingat karya Allah di masa lalu. Mengingat bukan sekadar mengenang, tetapi menghadirkan kembali kesetiaan Allah ke dalam situasi kini. Keluh kesah yang sebelumnya menggelisahkan perlahan berubah menjadi perenungan yang menenangkan.
Bagian akhir mazmur dipenuhi permohonan yang mendesak: ajarlah aku, tunjukkanlah jalan yang harus kutempuh, biarlah Roh-Mu memimpin aku. Menariknya, permohonan akan tuntunan lebih menonjol daripada permintaan pembebasan. Pemazmur tidak hanya ingin dilepaskan dari bahaya, tetapi dibentuk untuk berjalan sesuai kehendak Allah. Doa menjadi ruang di mana arah hidup ditata ulang, bukan sekadar tempat meminta perubahan keadaan.
Sahabat Alkitab, Mazmur 143 mengajarkan kita bahwa doa bukan hanya sarana untuk mencari pertolongan, melainkan ruang pembentukan iman. Di sanalah kita belajar jujur tentang kelemahan diri, mengingat kesetiaan Allah, dan membiarkan Roh-Nya menuntun langkah kita. Iman yang dewasa lahir bukan dari keadaan yang mudah, melainkan dari doa yang dijalani dengan rendah hati dan kepercayaan penuh kepada Allah yang setia.

























