Di sebuah kamar yang remang menjelang malam, seorang ayah duduk di sisi tempat tidur, membacakan buku cerita untuk anaknya. Sang anak mendengarkan dengan antusias, menyerap setiap kata, dan perlahan mengenal dunia yang lebih luas melalui suara yang akrab itu. Aktivitas ini bukan sekadar upaya membuat anak tertidur. Di dalamnya berlangsung proses menanamkan nilai-nilai, membangun imajinasi, dan memperkenalkan pengetahuan. Melalui cerita, sang anak belajar memahami dunia, dan melalui kehadiran ayahnya, ia belajar tentang kasih dan kepercayaan.
Mazmur 145:1-7 menggambarkan proses mewariskan iman dengan nada yang serupa. Pemazmur memulai dengan komitmen pribadi, “Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja.” Iman yang diwariskan selalu berakar pada iman yang dihidupi. Sebelum iman diceritakan kepada generasi berikutnya, ia terlebih dahulu harus menjadi pujian yang nyata dalam hidup sehari-hari. Pujian yang diucapkan “setiap hari” (ayat 2) menunjukkan relasi yang konsisten, bukan iman yang sesekali muncul, melainkan iman yang terus dirawat. Dari relasi pribadi itu, pemazmur melangkah ke dimensi antar-generasi, “Keturunan demi keturunan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu” (ayat 4). Iman diwariskan melalui cerita tentang karya Allah, perbuatan-Nya yang besar, ajaib, dan penuh keadilan. Seperti orang tua yang membacakan cerita dengan penuh perhatian, iman diteruskan bukan dengan paksaan, melainkan dengan kesungguhan dan keterlibatan hidup. Selanjutnya pada ayat 7, pemazmur menegaskan isi dari warisan iman itu: bukan sekadar aturan atau doktrin, melainkan kebajikan dan keadilan Tuhan. Sehingga, yang tinggal dalam ingatan anak bukan hanya cerita, tetapi kasih yang menyertainya.
Sahabat Alkitab, cerita iman apa yang sedang kita bagikan hari ini? Mewariskan iman sering kali justru terjadi bukan melalui hal-hal besar, melainkan lewat keseharian yang sederhana dan konsisten. Ia hadir dalam doa singkat bersama keluarga, percakapan sederhana di meja makan, kesaksian tentang kesetiaan Tuhan di tengah kesulitan, dan sikap hidup yang mencerminkan kebaikan serta keadilan-Nya. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, iman bertahan ketika ia dirawat dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang setia, hari demi hari, hingga generasi berikutnya mengenal Tuhan bukan hanya dari cerita kita, tetapi dari hidup yang kita jalani.

























