Kasih dan Keadilan

Renungan Harian | 30 Jan 2026

Kasih dan Keadilan

Pernahkah saudara melihat, seorang korban berkata berikut ini: “Saya sudah memaafkan, tetapi proses hukum harus tetap berjalan. Sebagian besar orang terkagum dengan kebesaran hatinya, tetapi beberapa orang yang lain ternyata merespons dengan sikap sinis. Mereka menaruh kecurigaan besar, apakah pengampunan itu sungguh lahir dari kasih, atau hanya sikap normatif yang diucapkan demi citra di depan publik? Kita pun kerap dibentuk oleh anggapan bahwa mengasihi berarti bersikap lembut, mengalah, dan jauh dari ketegasan. Padahal kasih juga dapat terjadi dari ketegasan serta keberanian  yang melahirkan keadilan serta keberpihakan pada korban ketidakadilan.

 

Kecurigaan semacam ini dapat dipahami, mengingat pengampunan sering disalahpahami sebagai cara tercepat meredam konflik, bukan sebagai proses batin yang jujur dan memulihkan. Dalam relasi sosial, keharmonisan sering dibangun dengan menghindari ketegangan. Sehingga kasih direduksi menjadi alat untuk menjaga ketenangan, bukan keberanian untuk menghadapi kebenaran. Akibatnya, kasih mudah dipersepsikan sebagai sikap yang lembek dan tidak tegas.

 

Mazmur 149 menantang cara pandang tersebut. Mazmur ini dibuka dengan sukacita: nyanyian baru, tarian, dan pujian kepada Allah yang berkenan kepada umat-Nya dan memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan (ay. 4). Sukacita itu berakar pada hesed, kasih setia Allah yang menerima dan memulihkan. Sehingga, umat bersukacita karena mereka dikasihi, bukan karena dunia telah menjadi adil.

 

Namun pujian itu tidak berhenti pada pengalaman rohani semata. Di tengah nyanyian dan sorak-sorai, muncul gambaran pedang bermata dua di tangan umat (ay. 6). Secara tekstual, pedang di sini bukanlah simbol kekerasan, melainkan lambang panggilan etis untuk melaksanakan “hukuman seperti yang tertulis” (ay. 9). Kasih setia Allah tidak melahirkan umat yang pasif, melainkan umat yang mengambil bagian dalam karya pemulihan Allah atas dunia. Bahkan kasih menjadi kekuatan untuk melaksanakan keadilan-Nya tanpa pandang bulu.


Sahabat Alkitab, Mazmur 149 mengingatkan kita bahwa kasih dan keadilan bukanlah dua nilai yang saling meniadakan, melainkan satu panggilan iman yang harus dihidupi bersama. Di tengah relasi yang retak, proses hukum yang kerap mengecewakan, ruang media sosial yang mudah dipenuhi ujaran kebencian, bahkan dalam kehidupan bergereja yang tidak jarang menafikan konflik alih-alih menyelesaikannya, kasih sering disalahpahami sebagai sikap diam dan mengalah. Padahal kasih yang sejati membebaskan hati dari dendam, tetapi tidak mematikan kepekaan terhadap ketidakadilan. Justru karena setia, kasih berani bersikap tegas. Dikasihi oleh Allah berarti dipanggil menjadi penerima sekaligus pelaku hesed, menghadirkan sukacita iman yang dewasa melalui keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran dan keadilan.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia