Selama Nafas Masih Berembus, Selama Itu Pula Pujianku bagi Tuhan

Renungan Harian | 31 Jan 2026

Selama Nafas Masih Berembus, Selama Itu Pula Pujianku bagi Tuhan

Pujian sejati tidak selalu dimulai dari suara yang merdu, melainkan dari kesadaran bahwa hingga saat ini kita masih bernapas. Setiap tarikan napas adalah anugerah yang tidak kita ciptakan sendiri, dan setiap hembusannya adalah ruang bagi rasa syukur dapat berdiam. Sebelum suara terucap, hidup itu sendiri telah menjadi pengakuan bahwa Allah belum berhenti memberikan kasih-Nya pada seluruh ciptaan.

 

Mazmur 150 hadir sebagai penutup Kitab Mazmur, tetapi bukan sebagai penutup yang mengikat. Setelah serangkaian doa yang memuat ratapan dan syukur, amarah dan harapan, pemazmur tidak menawarkan kesimpulan, melainkan undangan: “Hendaklah segala yang bernapas memuji TUHAN!”. Di sinilah pujian berpindah dari teks ke kehidupan. Nafas yang sama dapat mengucapkan syukur atau keluhan, membangun atau melukai, menyembuhkan atau mengabaikan. Mazmur 150 tidak menyangkal kebebasan itu. Ia hanya menegaskan bahwa setiap napas selalu menyimpan kemungkinan untuk menjadi pujian. Dengan demikian, kehendak bebas manusia bukan dihapus, melainkan diberi arah.

 

Allah dipuji di tempat kudus, ruang perjumpaan antara yang ilahi dan yang manusiawi, tetapi gema pujian tersebut sesungguhnya melampaui tembok bait suci. Musik, gerak, dan bunyi-bunyian menandakan bahwa seluruh tubuh, bahkan seluruh ciptaan, dilibatkan. Pujian tidak dibatasi oleh ritus, melainkan menemukan ekspresinya dalam kehidupan yang dijalani dengan kesadaran akan kebesaran dan kesetiaan Allah.

 

Kitab Mazmur yang dibuka dengan ajakan memilih jalan hidup, ditutup dengan seruan yang menyerahkan kelanjutannya kepada pembaca. Nyanyian telah ditulis, tetapi belum selesai. Selama napas masih berembus, kisah itu terus dilanjutkan. 

 

Pemazmur seolah meletakkan bait penutup puji-pujiannya kepada kita, pembaca Mazmur tersebut di sepanjang zaman. Apakah kita mau melanjutkan puji-pujian itu melalui pikiran, kata, serta tindakan yang senantiasa terarah kepada Allah atau memilih berlaku semaunya seolah tidak ada kuasa yang lebih tinggi dari kita. Bukankah hidup kita di zaman modern ini selalu membawa kita pada persimpangan jalan yang dibingkai dua pertanyaan tersebut? Menyembah-Nya dalam laku dan tindakan kita atau mengabaikan Tuhan seutuhnya. Pilihannya terletak pada cara kita menjalani kebebasan yang Tuhan anugerahkan.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia