Pujian sejati tidak selalu dimulai dari suara yang merdu, melainkan dari kesadaran bahwa hingga saat ini kita masih bernapas. Setiap tarikan napas adalah anugerah yang tidak kita ciptakan sendiri, dan setiap hembusannya adalah ruang bagi rasa syukur dapat berdiam. Sebelum suara terucap, hidup itu sendiri telah menjadi pengakuan bahwa Allah belum berhenti memberikan kasih-Nya pada seluruh ciptaan.
Mazmur 150 hadir sebagai penutup Kitab Mazmur, tetapi bukan sebagai penutup yang mengikat. Setelah serangkaian doa yang memuat ratapan dan syukur, amarah dan harapan, pemazmur tidak menawarkan kesimpulan, melainkan undangan: “Hendaklah segala yang bernapas memuji TUHAN!”. Di sinilah pujian berpindah dari teks ke kehidupan. Nafas yang sama dapat mengucapkan syukur atau keluhan, membangun atau melukai, menyembuhkan atau mengabaikan. Mazmur 150 tidak menyangkal kebebasan itu. Ia hanya menegaskan bahwa setiap napas selalu menyimpan kemungkinan untuk menjadi pujian. Dengan demikian, kehendak bebas manusia bukan dihapus, melainkan diberi arah.
Allah dipuji di tempat kudus, ruang perjumpaan antara yang ilahi dan yang manusiawi, tetapi gema pujian tersebut sesungguhnya melampaui tembok bait suci. Musik, gerak, dan bunyi-bunyian menandakan bahwa seluruh tubuh, bahkan seluruh ciptaan, dilibatkan. Pujian tidak dibatasi oleh ritus, melainkan menemukan ekspresinya dalam kehidupan yang dijalani dengan kesadaran akan kebesaran dan kesetiaan Allah.
Kitab Mazmur yang dibuka dengan ajakan memilih jalan hidup, ditutup dengan seruan yang menyerahkan kelanjutannya kepada pembaca. Nyanyian telah ditulis, tetapi belum selesai. Selama napas masih berembus, kisah itu terus dilanjutkan.
Pemazmur seolah meletakkan bait penutup puji-pujiannya kepada kita, pembaca Mazmur tersebut di sepanjang zaman. Apakah kita mau melanjutkan puji-pujian itu melalui pikiran, kata, serta tindakan yang senantiasa terarah kepada Allah atau memilih berlaku semaunya seolah tidak ada kuasa yang lebih tinggi dari kita. Bukankah hidup kita di zaman modern ini selalu membawa kita pada persimpangan jalan yang dibingkai dua pertanyaan tersebut? Menyembah-Nya dalam laku dan tindakan kita atau mengabaikan Tuhan seutuhnya. Pilihannya terletak pada cara kita menjalani kebebasan yang Tuhan anugerahkan.

























