Sesungguhnya apa yang paling berharga dalam hidup ini? Banyak orang mencarinya dalam harta dan kekuasaan, tidak jarang pada relasi yang utuh dan penuh dalam keluarga. Semuanya sah-sah saja sejauh dalam batas-batas yang wajar. Namun pada hari ini kita hendak diajarkan bahwa kebahagiaan hidup juga terletak pada hikmat dan kebijaksanaan untuk memilih jalan yang benar sesuai dan seturut kehendak-Nya.
Pada Amsal 8:1-21, hikmat menempatkan ajarannya sebagai sesuatu yang harus dipegang dan diperlakukan selayaknya emas pilihan. Mereka yang cerdas dan berpengetahuan akan mengetahui bahwa ajaran sang guru hikmat lebih berharga dari apapun sehingga diterima dengan mudahnya. Ajaran pertama yang disampaikannya adalah tentang takut akan Tuhan. Hal tersebut melebihi batas-batas dogmatika/pengajaran melainkan terwujud dalam sikap moral yang jelas dan tegas yakni membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (ay. 13). Dengan demikian, dalam ajaran hikmat tidak ada tempat bagi kemunafikan. Orang-orang yang berjuang untuk tampak baik bahkan lewat ritual-ritual agama, tetapi hati dan tingkah lakunya sama sekali tidak mencerminkan kebaikan.
Maka umat manusia diundang untuk datang kepada hikmat Tuhan. Pada hikmat ada nasihat, pertimbangan, pengertian, dan kekuatan. Hal-hal tersebut adalah alat agar seseorang dapat mewujudkan kebijaksanaan dalam memerintah serta mengadili perkara. Kebenaran menjadi penanda ketertundukan seseorang pada hikmat Tuhan.
Sahabat Alkitab, hidup yang kita jalani penuh dengan beragam pencobaan dan penggodaan. Maka untuk menghadapinya dibutuhkan kebijaksanaan dan hikmat yang datangnya dari Tuhan sendiri. Marilah berjalan dalam hikmat Tuhan disanalah terletak pengetahuan, kebijaksanaan, serta keteguhan hati untuk membenci kejahatan, kesombongan, serta tingkah laku yang jahat. Memang hal tersebut tidaklah mudah, tetapi dalam proses yang terjadi bersama Tuhan maka kita senantiasa akan dikuatkan.
























