Mungkin kita pernah melihat, atau bahkan tanpa sadar melakukannya sendiri, membaca sebuah berita hanya dari judulnya, lalu segera memberi komentar. Di ruang digital maupun dalam percakapan sehari-hari, penilaian sering dibentuk dari potongan informasi yang sangat terbatas. Cara berbicara, gaya berpakaian, atau sikap seseorang yang tampak sekilas kerap dijadikan dasar untuk memberi stigma tertentu. Kita hidup di zaman serba cepat, tetapi kecepatan itu sering dibayar dengan hilangnya kedalaman dan kebijaksanaan.
Realitas ini menjadi latar yang relevan ketika kita membaca Amsal 10:1-16. Pada bagian ini, guru hikmat menyusun rangkaian amsal yang kontras: antara orang bijak dan orang bodoh, orang benar dan orang fasik, perkataan yang membangun dan kata-kata yang merusak. Hikmat dalam Kitab Amsal tidak pernah dipahami sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai sikap hidup yang nyata, terlihat dari cara seseorang bekerja, menilai, dan terutama berbicara.
Ayat 11 menegaskan bahwa “mulut orang benar adalah sumber kehidupan.” Dalam tradisi hikmat, organ tubuh kerap dipakai untuk menggambarkan tindakan dan karakter manusia. “Mulut” di sini tidak sekadar menunjuk pada alat bicara, tetapi pada kata-kata sebagai medium pengetahuan, penilaian, dan relasi. Orang benar bukan hanya mengucapkan hal yang benar, tetapi menyimpan pengetahuan dan mengeluarkannya pada waktunya. Kata-katanya memberi arah, menenangkan, dan menopang kehidupan bersama. Sebaliknya, mulut orang fasik “menyembunyikan kekerasan.” Kata-kata dipakai untuk membenarkan prasangka, menutup ketidakadilan, atau melanggengkan stigma. Dalam konteks masa kini, ini tampak ketika orang begitu mudah menghakimi hanya dari judul berita, potongan video, atau tampilan luar seseorang. Kata-kata yang lahir tanpa pengetahuan dan hikmat justru mempersempit ruang hidup, bukan menumbuhkannya.
Sahabat Alkitab, Amsal hari ini mengingatkan bahwa hikmat sejati bersifat menumbuhkan. Ia tidak tergesa-gesa, tidak reaktif, dan tidak gemar melabeli. Hikmat mengajarkan kita untuk menyimpan pengetahuan, menimbang sebelum berbicara, dan menggunakan kata-kata sebagai sumber kehidupan. Di tengah budaya yang serba cepat dan dangkal, panggilan orang beriman adalah menghadirkan kata-kata yang memberi ruang, harapan, dan masa depan, sebab dari sanalah kehidupan bertumbuh.
























