Hikmat yang Menumbuhkan Kehidupan

Renungan Harian | 14 Feb 2026

Hikmat yang Menumbuhkan Kehidupan

Mungkin kita pernah melihat, atau bahkan tanpa sadar melakukannya sendiri, membaca sebuah berita hanya dari judulnya, lalu segera memberi komentar. Di ruang digital maupun dalam percakapan sehari-hari, penilaian sering dibentuk dari potongan informasi yang sangat terbatas. Cara berbicara, gaya berpakaian, atau sikap seseorang yang tampak sekilas kerap dijadikan dasar untuk memberi stigma tertentu. Kita hidup di zaman serba cepat, tetapi kecepatan itu sering dibayar dengan hilangnya kedalaman dan kebijaksanaan.

 

Realitas ini menjadi latar yang relevan ketika kita membaca Amsal 10:1-16. Pada bagian ini, guru hikmat menyusun rangkaian amsal yang kontras: antara orang bijak dan orang bodoh, orang benar dan orang fasik, perkataan yang membangun dan kata-kata yang merusak. Hikmat dalam Kitab Amsal tidak pernah dipahami sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai sikap hidup yang nyata, terlihat dari cara seseorang bekerja, menilai, dan terutama berbicara.

 

Ayat 11 menegaskan bahwa “mulut orang benar adalah sumber kehidupan.” Dalam tradisi hikmat, organ tubuh kerap dipakai untuk menggambarkan tindakan dan karakter manusia. “Mulut” di sini tidak sekadar menunjuk pada alat bicara, tetapi pada kata-kata sebagai medium pengetahuan, penilaian, dan relasi. Orang benar bukan hanya mengucapkan hal yang benar, tetapi menyimpan pengetahuan dan mengeluarkannya pada waktunya. Kata-katanya memberi arah, menenangkan, dan menopang kehidupan bersama. Sebaliknya, mulut orang fasik “menyembunyikan kekerasan.” Kata-kata dipakai untuk membenarkan prasangka, menutup ketidakadilan, atau melanggengkan stigma. Dalam konteks masa kini, ini tampak ketika orang begitu mudah menghakimi hanya dari judul berita, potongan video, atau tampilan luar seseorang. Kata-kata yang lahir tanpa pengetahuan dan hikmat justru mempersempit ruang hidup, bukan menumbuhkannya.


Sahabat Alkitab, Amsal hari ini mengingatkan bahwa hikmat sejati bersifat menumbuhkan. Ia tidak tergesa-gesa, tidak reaktif, dan tidak gemar melabeli. Hikmat mengajarkan kita untuk menyimpan pengetahuan, menimbang sebelum berbicara, dan menggunakan kata-kata sebagai sumber kehidupan. Di tengah budaya yang serba cepat dan dangkal, panggilan orang beriman adalah menghadirkan kata-kata yang memberi ruang, harapan, dan masa depan, sebab dari sanalah kehidupan bertumbuh.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia