Di ruang publik, kita kerap menyaksikan bagaimana sebuah upaya memperjuangkan kebenaran justru disalahpahami. Suara yang disampaikan untuk menuntut keadilan dipersempit maknanya. Tindakan yang lahir dari keprihatinan dibingkai seolah-olah sebagai ancaman. Melalui pilihan kata dan narasi tertentu, maksud yang baik dapat bergeser, dan kebenaran perlahan kehilangan tempatnya. Di sinilah kita belajar bahwa kata-kata tidak pernah netral; ia mampu menjaga kehidupan, tetapi juga dapat melukainya.
Amsal 10:17-32 menempatkan persoalan ini dalam terang hikmat. Hampir seluruh pengajaran dalam bagian ini disusun dalam bentuk paralel antitesis. Yang benar dipertentangkan dengan yang jahat, yang berhikmat dengan yang bodoh, yang rajin dengan yang malas. Pola ini menegaskan bahwa kehidupan dibentuk oleh pilihan-pilihan yang nyata. Sikap dan perilaku manusia, termasuk cara berbicara, selalu membawa konsekuensi.
Kitab Amsal mengajarkan adanya hubungan sebab-akibat dalam kehidupan. Pengetahuan, kebaikan, dan kerajinan mengarah pada kesejahteraan, sedangkan kebodohan, kejahatan, dan kemalasan membawa kesusahan. Namun Amsal juga menegaskan bahwa Tuhan tetap sumber kehidupan dan berkat. Hikmat bukan sekadar kecakapan manusia, melainkan cara hidup yang selaras dengan kehendak Allah.
Pada bagian penutup perikop ini (ay. 31-32), perhatian diarahkan secara khusus pada kata-kata. Mulut orang benar “mengeluarkan hikmat.” Ungkapan ini menggambarkan pohon yang berbuah: perkataan orang benar lahir dari kehidupan yang berakar pada kebenaran dan keadilan. Kata-kata semacam ini menenangkan, membangun, dan menjaga kehidupan bersama. Sebaliknya, lidah bercabang melambangkan kata-kata yang memutarbalikkan maksud dan menyembunyikan tipu muslihat. Perkataan seperti ini merusak relasi dan melemahkan kepercayaan dalam masyarakat.
Sahabat Alkitab, melalui amsal hari ini kita diajak untuk berefleksi. Di tengah situasi sosial yang sarat narasi dan penilaian cepat, orang berhikmat dipanggil untuk menimbang kata sebelum diucapkan. Hikmat sejati tampak ketika kita memilih tutur yang jujur dan bertanggung jawab, sehingga melalui kata-kata kita, kehidupan tidak dirusak, melainkan dijaga dan dipelihara.
























