Tanpa kita sadari, banyak keputusan hidup hari ini dibentuk oleh “algoritma”, rumus tak terlihat yang menentukan apa yang kita lihat, dengar, dan anggap penting. Algoritma media sosial, misalnya, bekerja diam-diam namun efektif: semakin sering kita menyukai sesuatu, semakin kuat ia membentuk arah perhatian dan keinginan kita. Perlahan, hidup seakan berjalan mengikuti pola tertentu, bukan lagi hasil pertimbangan yang sadar. Amsal 8 mengajak kita menengok lebih dalam, jauh sebelum algoritma digital dikenal manusia, Allah telah meletakkan “algoritma kehidupan” yang menopang seluruh ciptaan, yakni hikmat.
Dalam Amsal 8:22-36, hikmat dipersonifikasikan sebagai realitas yang telah “diciptakan”, “dibentuk”, dan “hadir” sebelum segala sesuatu ada. Istilah-istilah Ibrani seperti qānā (menciptakan), nissakhti (dibentuk), dan hôlálti (muncul/dilahirkan) menegaskan bahwa hikmat bukan ciptaan sembarangan, melainkan dasar yang menyertai dan mengarahkan karya penciptaan Allah. Dunia, menurut iman Israel, tidak berjalan secara acak, tetapi memiliki tatanan moral yang melekat di dalamnya.
Karena itu, hidup bijaksana berarti hidup selaras dengan irama ciptaan. Melanggar hikmat bukan sekadar pelanggaran etis, tetapi tindakan “melawan arus” desain kehidupan itu sendiri. Sebab itulah Amsal berani menyebutnya sebagai mencintai maut (ay. 36). Hikmat juga digambarkan menjadi kesukaan anak-anak manusia (ay. 31), menegaskan bahwa Allah yang transenden berkenan menjangkau dunia melalui hikmat-Nya. Dengan kata lain, hikmat adalah jembatan antara Yang Ilahi dan kehidupan sehari-hari.
Bagian penutup perikop (ay. 32–36) memperlihatkan otoritas hikmat yang bersifat ilahi. Mendengarkan hikmat sama dengan menaati kehendak Allah. Ia menjanjikan hidup, perkenanan, dan kesejahteraan; sebaliknya, mengabaikannya membawa kerusakan diri.
Sahabat Alkitab, Amsal 8 menyingkapkan hukum sebab-akibat rohani yang tak bisa diakali, “siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup.” Inilah algoritma kehidupan yang sejati. Setiap keputusan kecil, mulai cara kita berbicara, memilih, bekerja, dan bersikap, menjadi bagian yang membentuk arah hidup kita. Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur, algoritma mana yang sedang kita ikuti? Nafsu sesaat, tekanan sekitar, atau hikmat Allah yang menuntun kepada hidup? Di situlah kualitas masa depan kita sedang ditentukan, hari demi hari.
























