Dalam menjalani kehidupan sebagai manusia, kita sadar bahwa seringkali kekhawatiran hinggap dalam kehidupan kita. Berbagai tekanan serta pergumulan yang datang silih berganti turut menjadi pemicu dari segala kekhawatiran tersebut. Pada hari ini kita akan melihat nasehat dalam Amsal tentang menghadapi kekhawatiran. Menariknya Amsal 12 mencoba mengajak kita untuk tidak berfokus pada kekhawatiran tersebut melainkan berupaya untuk tetap berjuang menjadi orang benar.
Setidaknya itulah yang dinyatakan dalam Amsal 12:21, disana diperlihatkan bahwa keberadaan seseorang sebagai orang benar ditentukan pada keterarahan hidup pada kuasa serta kehendak Sang Hikmat. Itulah arah yang hendak dituju oleh orang-orang benar. Jikalau dalam prosesnya, dirasakan segenap berkat dan perlindungan Tuhan maka hal tersebut menjadi sesuatu yang turut meneguhkan langkah kaki orang-orang benar. Mereka yang benar juga menemukan arah dan tujuan hidupnya. Bagaikan seorang gembala yang berhasil menemukan padang rumput bagi ternak-ternaknya.
Maka eksistensi seorang manusia sudah sepantasnya diarahkan pada hal-hal tersebut. Dengan demikian berbeda dengan orang fasik yang seringkali hilang arah, orang-orang benar selalu berada pada jalan yang ditetapkan-Nya. Dalam proses tersebut kekhawatiran tidak lagi menetap dalam hati. Justru langkah kaki seseorang akan semakin diteguhkan lewat hikmat Tuhan yang terus membentuk kehidupannya.
Sahabat Alkitab, khawatir adalah respons wajar dari seorang manusia. Namun pada hari ini kita diingatkan bahwa hal yang jauh lebih penting adalah tunduk pada pengajaran Tuhan serta hidup seturut hikmat-Nya. Marilah belajar untuk menyerahkan kehidupan hanya kepada Tuhan. Belajar hidup benar seturut dengan firman dan kehendak-Nya. Itulah bagian dari upaya kita untuk menghadapi beragam kekhawatiran dalam hidup.
Menghadapi kekhawatiran bagi seorang beriman, tidak terlepas dari ketertundukannya pada hikmat Tuhan.
























