Media sosial hari ini dipenuhi dengan gambaran kehidupan yang tampak mewah: liburan mahal, barang bermerek, dan gaya hidup kelas atas. Fenomena ini dikenal sebagai flexing, yaitu keinginan untuk terlihat kaya demi mendapatkan pengakuan dan validasi. Ironisnya, banyak yang sebenarnya belum memiliki kestabilan finansial, bahkan rela berutang atau mengambil jalan pintas, termasuk terjebak investasi bodong, demi menjaga citra tersebut. Interaksi terus-menerus dengan standar kemewahan ini bahkan memicu kondisi psikologis yang disebut money dysmorphia, yaitu perasaan seolah-olah kita miskin, meskipun sebenarnya cukup, hanya karena membandingkan diri dengan ilusi orang lain.
Kitab Amsal telah lama menyingkap realitas ini, “Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak” (ay. 7). Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang jumlah harta, melainkan tentang kejujuran dan integritas hati. Ada orang yang ‘berisik’ di luar, sibuk membangun citra, tetapi ‘kosong’ di dalam. Sebaliknya, ada orang yang ‘berisi’, hidup dalam kecukupan dan hikmat, tanpa merasa perlu memamerkan diri. Amsal 13 juga menegaskan bahwa kekayaan sejati tidak dibangun secara instan. Hal ini dipertegas dengan nasihat, “Harta yang mudah diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, akan membuatnya bertambah” (ay. 11). Orang berhikmat memahami bahwa kekayaan adalah berkat sekaligus tanggung jawab. Ia tidak menggunakannya untuk memancing kekaguman, melainkan untuk membangun kehidupan yang stabil dan memberkati sesama. Ia mengumpulkan dengan ketekunan, kesabaran, dan kerja keras, bukan melalui jalan pintas yang rapuh.
Sahabat Alkitab, godaan flexing adalah godaan untuk mencari identitas dari pengakuan orang lain. Namun hikmat Tuhan mengarahkan kita pada identitas yang lebih dalam: nilai hidup kita tidak ditentukan sekadar oleh apa yang kita tampilkan, tetapi oleh siapa kita di hadapan Tuhan. Integritas, kerendahan hati, dan kesetiaan jauh lebih berharga daripada citra yang mengkilap namun palsu. Maka, ketika kita berhenti berusaha terlihat kaya, kita mulai belajar menjadi kaya dalam arti yang sesungguhnya. Kaya dalam karakter, kaya dalam syukur, dan kaya dalam kemurahan hati. Kita tidak lagi sibuk menarik perhatian, tetapi mulai memberi perhatian. Sebab pada akhirnya, hidup yang diberkati bukanlah hidup yang paling mengesankan di mata manusia, melainkan hidup yang paling setia mengalirkan berkat bagi sesama.
“Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Amsal 13:10 TB2)



















