Kita mungkin pernah berada dalam sebuah situasi ketika sebuah masalah yang sebenarnya kecil justru menjadi besar karena cara seseorang menyampaikannya. Sebuah pesan yang seharusnya menjernihkan keadaan malah memperkeruh suasana. Kata-kata yang seharusnya membawa pengertian berubah menjadi sumber kesalahpahaman. Dalam situasi seperti itu, kita menyadari bahwa cara pesan disampaikan sangat memengaruhi persepsi penerima dan memberi dampak yang signifikan.
Amsal 13:17 mengatakan, “Utusan yang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan.” Pada zaman dahulu, seorang utusan memikul tanggung jawab besar. Ia tidak hanya membawa informasi, tetapi juga mewakili kehormatan dan kepercayaan pengutusnya. Jika ia tidak jujur atau ceroboh, dampaknya bisa menghancurkan relasi, bahkan kehidupan banyak orang. Sebaliknya, utusan yang setia membawa kejelasan, pemulihan, dan kebaikan.
Dalam konteks saat ini, kita semua adalah ‘utusan’ dalam arti tertentu. Setiap hari, kita membawa pesan melalui kata-kata, sikap, dan tindakan kita. Kita bisa menjadi ‘utusan fasik’ ketika kita menyebarkan gosip, memperbesar kesalahan orang lain, atau melempar tanggung jawab. Sikap seperti ini menjadi semacam ‘polusi’ relasi, meracuni kepercayaan dan melukai komunitas. Kata-kata yang tidak dijaga dapat menjerumuskan, bukan hanya orang lain, tetapi juga diri kita sendiri. Sebaliknya, hikmat memanggil kita untuk menjadi “duta yang setia.” Duta yang setia tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi melakukannya dengan integritas dan kasih. Kehadirannya membawa ketenangan, bukan kecemasan. Kata-katanya membangun, bukan meruntuhkan. Ia menjadi penengah ketika terjadi konflik, dan menjadi sumber kekuatan ketika orang lain lemah. Inilah yang dimaksud bahwa duta yang setia “mendatangkan kesembuhan”. Ia menghadirkan kehidupan, bukan luka.
Sahabat Alkitab, hikmat tidak hanya terlihat dalam apa yang kita ketahui, tetapi dalam bagaimana kita memengaruhi kehidupan orang lain. Setiap kata yang kita ucapkan memiliki arah: apakah ia membawa terang atau kegelapan, harapan atau keputusasaan. Maka, marilah kita bertanya dalam diri sendiri: ketika kita hadir di tengah keluarga, tempat kerja, atau komunitas, apakah kita termasuk yang membawa solusi atau justru menambah ‘polusi’? Kiranya kita mengusahakan diri untuk menjadi duta yang setia, yang membawa damai, dan menyalurkan pemulihan.
Kita semua adalah ‘utusan’ dalam arti tertentu. Setiap hari kita membawa pesan melalui kata-kata, sikap, dan tindakan kita.
























