Waktu adalah penguji yang paling jujur. Ia tidak dapat dipercepat, tidak dapat disuap, dan tidak dapat dimanipulasi. Seiring berjalannya hari, waktu menyingkapkan siapa diri kita sebenarnya. Apakah kita bertumbuh dalam kedewasaan atau justru terjebak dalam sikap yang sama. Di tengah budaya yang memuliakan kecepatan dan pencapaian instan, firman Tuhan mengajak kita melihat ukuran yang berbeda. Kehormatan sejati tidak lahir dari keberhasilan sesaat, melainkan dari karakter yang teruji oleh waktu dan dibentuk oleh hikmat.
Amsal 16:31 menyatakan, “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat di jalan kebenaran.” Dalam tradisi hikmat Israel, rambut putih melambangkan wibawa dan kehormatan. Namun ayat ini menegaskan bahwa uban menjadi “mahkota” hanya jika diperoleh melalui jalan kebenaran. Umur panjang bukan sekadar kebanggaan kuantitas, melainkan kesaksian kualitas hidup. Seseorang dimuliakan bukan karena lamanya ia hidup, tetapi karena bagaimana ia hidup: apakah ia berjalan dalam integritas, berkata dengan bijak, dan bertindak dengan kebenaran.
Kitab Amsal berulang kali menekankan bahwa umur panjang berkaitan dengan hidup berhikmat dan bermoral. Sebaliknya, jalan kefasikan sering berujung pada kehancuran. Karena itu, penuaan dalam terang firman Tuhan bukanlah kemunduran, melainkan proses pematangan. Waktu menjadi ladang tempat hikmat bertumbuh, dan integritas menjadi buah yang memahkotai kehidupan. Mereka yang menoleh ke belakang dan melihat hidupnya diisi makna, kejujuran, dan kebajikan akan merasakan damai. Itulah “mahkota” secara batiniah. Sebaliknya, hidup yang dipenuhi penyesalan akan melahirkan kepahitan. Amsal 16:31 seakan menegaskan bahwa kemuliaan usia bukan pada warna rambutnya, melainkan pada integritas yang menyertainya. Namun bagian ini tidak berhenti pada usia. Amsal 16:32 menyatakan bahwa orang yang sabar lebih baik daripada pejuang, dan orang yang menguasai diri melebihi orang yang merebut kota. Inilah ukuran kemuliaan yang berbeda dari dunia. Dunia memuji mereka yang menguasai orang lain; firman Tuhan memuliakan mereka yang mampu menguasai diri sendiri. Bahkan ayat 33 mengingatkan bahwa di balik segala perencanaan manusia, Tuhanlah yang menentukan keputusan akhir. Hidup yang berhikmat adalah hidup yang bersandar pada kedaulatan-Nya.
Sahabat Alkitab, setiap hari kita sedang diuji oleh waktu. Pilihan-pilihan kecil yang kita ambil hari ini sedang membentuk mahkota kehidupan kita kelak. Kiranya kita tidak sekadar bertambah usia, tetapi bertambah dalam hikmat. Sebab ketika waktu menguji, hanya hikmat yang memuliakan: membawa kita pada kedewasaan, kedamaian, dan kehormatan di hadapan Tuhan.
























