Siapa yang tidak senang melihat orang yang rajin? Baik itu di rumah tangga masing-masing, sekolah/institusi pendidikan, maupun dalam lingkungan pekerjaan. Kerajinan adalah sebuah kualitas yang berharga dari diri seseorang. Banyak orang menyangka bahwa kerajinan tidak ada sangkut pautnya dengan iman atau dimensi spiritualitas seseorang, padahal keduanya sangat berkaitan. Bagaimana orang memahami pencipta-Nya, akan sangat terkait erat dengan caranya berkata dan bertingkah laku.
Demikianlah nasehat kebijaksanaan yang kita peroleh pada Amsal hari ini. Dalam bacaan kita disoroti kemalasan yang membuat hidup seseorang menjadi tidak produktif serta membuatnya kelaparan. Seperti seseorang yang terhanyut dalam tidur nyenyaknya (ay.14). Perlu diingat bahwa nasehat kebijaksanaan tersebut lahir dari konteks masyarakat agraris yang memutar roda kehidupan melalui tindakan produktif pertanian atau peternakan. Maka mereka yang malas mengolah dan mengupayakan sesuatu dari tanah akan segera kelaparan.
Lawan kata dari malas adalah rajin, maka itulah yang menjadi fokus kebijaksanaan berikutnya. Namun kerajinan yang seperti apakah yang sesuai dengan “standar” Sang Hikmat? Rupanya dalam ayat 2 pertanyaan tersebut dijawab dengan sangat baik, “tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik.” Rajin tidak sama dengan cepat selesai melakukan pekerjaan, karena orang yang demikian akan cenderung menjadi tergesa-gesa, tidak teliti dan melakukan kesalahan. Maka kerajinan perlu diimbangi dengan pengetahuan. Kecakapan dan kebijaksanaan untuk mengerjakan segala sesuatu.
Betapa berharganya nasehat Amsal pada hari ini. Dalam zaman modern ini produktifitas dan kecepatan begitu didewakan. Kerajinan hanya didefinisikan berdasarkan sebagai produktivitas dan kecepatan. Akibatnya orang-orang cenderung melakukan berbagai cara untuk menuju kesana seperti bergantung pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau kerja sekenanya asal cepat selesai. Maka tepatlah peringatan dari Amsal hari ini bahwa kerajinan tidak punya nilai jika tidak disandingkan dengan pengetahuan. Dalam sastra hikmat pengetahuan tidak hanya bicara soal kecakapan teknis, melainkan pertimbangan moral serta kesejajaran dengan firman-Nya. Dengan kata lain kerajinan turut mencakup dimensi moral dan spiritualitas. Sudahkah kerajinan kita juga didefinisikan dalam kategori tersebut?
























