Pernahkah kita terheran saat menyaksikan sepak terjang para koruptor? Sebagian besar orang-orang tersebut adalah orang yang berpendidikan dan sudah hidup dalam kecukupan melalui kerja mereka. Namun mengapa seolah-olah tidak ada rasa cukup bagi mereka. Selalu mencari cara untuk memperoleh lebih bahkan dengan segala tindakan yang melanggar hukum. Mungkin persoalannya bukan pada apa yang sudah mereka miliki, melainkan ketidakmampuan orang-orang tersebut untuk berkata “cukup”.
Inilah yang juga disoroti oleh bacaan kita kali ini. Pengkhotbah melihat sebuah dunia yang penuh dengan penindasan dari mereka yang berkuasa terhadap orang-orang miskin. Pemerkosaan hukum serta keadilan menjadi realitas sehari-hari. Ia melihat fenomena nyata tersebut sebagai hasil dari cinta manusia akan sesuatu yang sebenarnya sia-sia saja yakni segala harta benda dan beragam bentuknya. Pada akhirnya seorang terjebak pengejaran tiada henti atas segala harta benda dan kekayaan. Pikiran manusia menjadi terdistorsi sedemikian rupa sehingga tega memanfaatkan sesamanya untuk kepentingan pribadi. Di sisi lain, kelelahan yang tidak pernah usai menjadi bagian dari eksistensi diri. Kita terjebak pada perasaan takut kekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Selalu ada ruang untuk menghasilkan lebih banyak, dan tidak menyisakan ruang bagi kata cukup. Orang yang mencintai uang tidak akan pernah merasa puas.
Pengkhotbah menawarkan satu jalan kelepasan yang cukup menarik yakni merasa cukup dan menikmati segala sesuatu yang telah dihasilkan dalam jerih lelah manusia. Ia berujar, “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat bagi orang ialah makan minum dan menikmati kesenangan dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bagiannya.” Kemudian ia melanjutkan sebuah undangan untuk menikmati harta dan kekayaan yang telah dikaruniai Allah. Sungguh sebuah nasihat yang sederhana tetapi seringkali kita lupakan. Menikmati apa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Seberapapun itu nikmatilah dengan baik. Maka akan datang rasa cukup dari tindakan tersebut.
Nasihat sang pengkhotbah menghujam tajam menembus ironi dunia modern. Orang-orang terhanyut bahkan kehilangan banyak waktu karena kerjanya. Kerja bukan lagi untuk hidup, melainkan hidup untuk kerja. Kita dihujani berbagai tawaran yang selalu mengisi ruang hasrat manusia. Sehingga manusia modern mudah sekali terjatuh pada rasa tidak pernah cukup. Kita lupa belajar untuk menikmati dan mensyukuri apa yang telah kita miliki dan dianugerahkan Allah. Berhenti dan melambatlah sejenak, beri waktu bagi pikiran dan tubuh untuk mencerna, melihat, mendengar, dan menikmati apa yang telah dianugerahkan-Nya. Perlahan tapi pasti, hati akan membuncah dengan syukur, karena rupanya Allah tidak pernah sekalipun berhenti memelihara kita.
























