Aristoteles pernah berkata bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk mengejar kebahagiaan. Ia mendefinisikan kebahagiaan sebagai kemampuan manusia untuk mengejar dan mencapai kebajikan dalam hidup. Namun dewasa ini makna kebahagiaan telah menjadi semakin sumir. Alih-alih kualitas batin serta kebijaksanaan diri yang menjadi hakikat kebahagiaan, orang justru mencari kebahagiaan melalui benda-benda material yang dapat diperolehnya. Sayangnya hal-hal tersebut seringkali tidak mendatangkan kebahagiaan yang sejati. Mereka yang berkelimpahan kekayaan tidak serta merta hidup bahagia, karena sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada cara kita memaknai keberadaan diri, merumuskan makna, serta tujuan hidup.
Pengkhotbah mencoba untuk memberi nasihat mengenai fenomena tersebut melalui bacaan kita pada saat ini. Ia menyoroti fenomena bahwa banyak orang yang hidupnya sangat berkecukupan dengan segala sesuatu tetapi selalu saja menyisakan ruang hampa dalam sanubarinya. Maka pengkhotbah mencoba untuk mengajak pembacanya melakukan refleksi ulang tentang apa yang sesungguhnya paling bermakna dalam hidup. Sebanyak apapun harta dan kekayaan semuanya akan menjadi hal yang sia-sia dan menghilang bagaikan angin. Namun rasa syukur saat memperoleh itu semua menjadi sesuatu yang mengisi ruang dalam hati.
Tidak dipungkiri bahwa harta benda dan kekayaan akan mendatangkan kenyamanan dalam hidup, tetapi jika kita tidak menyisakan ruang untuk mensyukurinya, maka menurut pengkhotbah semuanya akan menjadi sia-sia. Ia mengungkapkan sebuah ironi yang seharusnya menggugah kita, “Segala jerih payah manusia hanya untuk mulutnya, namun ia tidak pernah puas.” Maka pandanglah apa yang ada di depan mata kita, hayati dengan sungguh kasih Tuhan di dalamnya dan jauhkan kita dari hawa nafsu yang mengarahkan kita pada kesia-siaan.
Sahabat Alkitab, marilah kita belajar untuk menikmati dan mensyukuri segala berkat yang telah dianugerahkan-Nya. Hidup kita sangatlah pendek jika hanya diisi dengan pengajaran hawa nafsu yang tiada berujung. Sebaliknya rasa syukur melahirkan cara pandang baru dalam menilai kehidupan. Sehingga tiap detik dan waktu yang berlalu sungguh-sungguh dihayati sebagai penyertaan Tuhan semata.

























