Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, kita mengidentikkan kebodohan hanya sekedar soal kognitif belaka. Berbeda dengan tradisi dalam sastra hikmat yang menempatkan kebodohan jauh lebih luas dari perkara kognitif. Ia meliputi rasa abai manusia saat mengambil keputusan, tidak mengindahkan didikan, serta menggampangkan segala sesuatu. Mereka yang bodoh adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari situasi hidupnya di masa lampau beserta segala kesalahan yang telah diperbuat. Kategori bodoh dalam sastra hikmat itulah yang sesungguhnya lebih berbahaya. Menyentuh esensi kehidupan manusia sehari-hari.
Pada bacaan kita, pengkhotbah kembali mengingatkan pembaca akan peran hikmat dalam kehidupan. Nama baik lebih baik daripada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran. Ia mengundang kita untuk tidak selalu terjebak pada apa yang tampak. Justru hal terpenting adalah konsistensi saat mengerjakan kebaikan dalam hidup, hingga nanti saat kematian menjelang, kebaikan-kebaikan kita masih akan terus dibicarakan. Reputasi yang baik itu adalah hasil dari keteladanan hikmat yang dideskripsikan kepada kemampuan untuk memilih apa yang benar. Ia menjalani kehidupan dengan penuh hikmat, seraya menyambut kematian yang pasti akan datang. Sehingga orang yang berhikmat tahu bahwa untuk segala sesuatu ada batasnya.
Kehidupan mereka yang berhikmat disandingkan dengan orang-orang bodoh. Mereka begitu gampang bersuara dan mengemukakan pendapat, padahal tidak bermakna sama sekali (ay. 5). Kebodohan juga tampak dari pola pikir mereka yang menganggap bahwa “hikmat’ dapat diperoleh dengan mudah, bahkan dengan suap atau harta benda yang dipikirnya bisa membeli segala sesuatu (ay. 6-7). Maka hiduplah dengan penuh hikmat yang diperoleh dalam ketekunan. Ia akan mengubah diri menjadi penyabar serta mampu mengendalikan amarahnya, tidak seperti orang bodoh yang dikuasai dengan kesombongan serta amarah.
Sahabat Alkitab, kehidupan yang berhikmat memang tidaklah mudah dan tidak dapat diperoleh secara instan. Namun paling tidak saat kita betul-betul berkomitmen untuk menjalani hidup dalam hikmat-Nya, maka kita tahu bahwa yang terjadi adalah proses yang begitu panjang. Satu hal yang membedakan mereka yang berhikmat dan mereka yang bodoh adalah kemampuan untuk memproses segala peristiwa sebagai sebuah proses didikan dari Allah. Hidup berhikmat juga turut ditunjukkan dari cara kita berpikir, berkata-kata, dan bertindak. Belajar untuk mencerna segala peristiwa dengan kepala dingin, alih-alih merespons tanpa berpikir sedikit pun dan hanya mengedepankan emosi.
























