Kidung Agung 8:8-14 menutup rangkaian kisahnya dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada resolusi, tidak ada happy ending bak kisah cinta di serial disney. Justru yang muncul adalah percakapan: tentang tubuh, tentang kontrol, tentang pilihan, dan tentang kerinduan. Bagian ini dimulai dengan suara para saudara laki-laki yang berbicara tentang “melindungi” saudari mereka. Dalam konteks dunia Timur Dekat Kuno, ini bukan hal yang aneh. Tubuh dan seksualitas perempuan sering dipahami sebagai bagian dari kehormatan keluarga, sesuatu yang harus dijaga dan diawasi. Metafora yang mereka gunakan, yaitu “tembok” dan “pintu”, menggambarkan cara pandang tersebut. Perempuan yang “tertutup” akan dihargai dan dilindungi, sementara yang “terbuka” harus dikendalikan. Ini adalah bahasa yang memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan direduksi menjadi objek kontrol.
Namun, teks ini tidak berhenti di sana. Kidung Agung memberi ruang bagi suara perempuan untuk muncul dan merespons. Ia tidak diam. Ia berkata, “Aku adalah tembok dan buah dadaku bagaikan menara.” Pernyataan ini bukan sekadar pembelaan, melainkan klaim atas dirinya sendiri. Ia menolak didefinisikan oleh asumsi orang lain. Ia adalah subjek yang berbicara, yang mengenal dirinya, dan menentukan makna tubuhnya sendiri. Ia siap untuk mencinta, bukan karena tekanan, tapi karena kesadaran dan pilihannya sendiri.
Gambaran ini semakin diperdalam melalui metafora kebun anggur dalam ayat 11-12. Secara simbolik, kebun anggur sering menjadi gambaran tentang tubuh dan ruang cinta. Ketika Salomo digambarkan memiliki kebun anggur yang luas dan menghasilkan keuntungan besar, kita melihat bayangan relasi yang bersifat kolektif dan transaksional, selaras dengan gambaran historisnya sebagai raja dengan banyak istri dan gundik. Di sini, cinta berpotensi menjadi sesuatu yang bisa “dimiliki” dan bahkan “dikelola.” Namun perempuan dalam teks menyampaikan pernyataan yang radikal “Kebun anggurku, milikku sendiri.” Ia ingin mengatakan bahwa cintanya tidak bisa dibeli. Tubuhnya tidak bisa dimiliki oleh sistem atau kuasa apa pun. Sehingga, sekalipun ia ingin memberikannya, itu pun atas keputusannya sendiri.
Cinta sejati selalu melibatkan kebebasan. Cinta yang dipaksakan atau dikendalikan kehilangan esensinya sebagai relasi antarpribadi. Cinta bukanlah tentang menguasai yang lain, melainkan tentang mengakui keberadaannya sebagai pribadi yang utuh. Dalam arti ini, kebebasan bukan ancaman bagi cinta, melainkan justru syaratnya. Tanpa kebebasan, yang tersisa hanyalah kepemilikan, dan kepemilikan tidak pernah menghasilkan keutuhan.
Menariknya, Kidung Agung tidak menutup kisah ini dengan gambaran kebersamaan yang final (ay. 13-14). Ada jarak yang belum sepenuhnya terjembatani. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa ini adalah penutup yang terbuka, seolah-olah cinta tidak pernah benar-benar selesai. Tetapi justru di situlah keindahannya. Cinta bukan sesuatu yang selesai dimiliki, melainkan terus dihidupi. Ia selalu menyisakan ruang untuk rindu, untuk mencari, untuk mendekat lagi.
Sahabat Alkitab, cinta yang membebaskan bukanlah cinta yang tanpa arah, melainkan cinta yang tidak dikuasai oleh pihak lain. Cinta yang lahir dari pilihan, bukan tekanan. Cinta yang memberi diri, bukan mengikat. Cinta yang menghormati batas, tetapi tetap berani mendekat. Dan mungkin, inilah undangan yang paling jujur bagi kita hari ini untuk melihat kembali cara kita mencintai. Apakah kita memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya? Ataukah kita tanpa sadar mencoba mengatur, membentuk, bahkan memiliki?
Kidung Agung tidak memberi rumusan khusus tentang bagaimana cinta itu, tetapi ia memberi arah. Bahwa cinta sejati tidak lahir dari kuasa, melainkan dari kebebasan yang dewasa. Dan dalam kebebasan itu kita belajar sesuatu yang tidak mudah, bahwa mencintai juga berarti berani merindu. Karena dalam kerinduan itulah cinta tetap hidup.
























