Manusia memang bebas untuk memilih, tetapi ia harus menyadari bahwa pilihannya tidak bebas dari konsekuensi. Sebagai umat beriman, pilihan-pilihan yang kita ambil haruslah mempertimbangkan satu hal yang jelas yakni apakah pilihan tersebut bertentangan dengan firman-Nya ataukah sejalan dengan firman serta ketetapan-Nya. Seringkali kita banyak membuat berbagai pembenaran untuk membenarkan dan menyelubungi apa yang nyatanya adalah sebuah kekeliruan di mata Allah, tetapi dari lubuk hati yang terdalam sesungguhnya kita tahu saat berbuat salah.
Yesaya pasal 2:1- 4:6 banyak dipandang oleh para ahli sebagai satu kesatuan yang panjang. Dimulai dengan nubuat-nubuat tentang kebesaran dan kemuliaan Sion di tengah bangsa-bangsa yang memusuhinya, kemudian disusul dengan berita hukuman kepada bangsa-bangsa, dan akhirnya ditutup dengan gambaran kemuliaan Sion pada akhir zaman. Bagian bacaan kita pada saat ini menggambarkan berita penghukuman yang akan diterima Israel dan semua bangsa yang meninggikan diri di hadapan Tuhan serta menolak mengikuti jalan-jalan Tuhan.
Pada ayat 6-11, Allah digambarkan telah membuang keturunan Yakub. Mereka telah melakukan tenung dan sihir. Persekutuan dengan orang-orang asing semakin merebak, melalui usaha dagang yang menghasilkan banyak kekayaan harta benda, kuda-kuda, dan kereta-kereta perang. Sayangnya keberhasilan tersebut membuat Israel jatuh dalam kesombongan. Mereka merasa tidak lagi memerlukan Allah. Dosa mereka memuncak dalam penyembahan terhadap berhala, patung-patung ciptaan tangan manusia sendiri.
Yesaya mengajak Yehuda untuk segera kembali kepada Tuhan. Hari penghukuman atas kejahatan-kejahatan tersebut akan datang. Itulah hari Tuhan yang diberitakan dalam ayat 12-19, yakni saat Tuhan semesta alam akan ditinggikan dan dimuliakan mengatasi segala sesuatu yang tinggi dan mulia di alam semesta. Segala kejayaan manusia yang mengandalkan benda-benda duniawi dengan segala keindahannya tidak akan berarti di hadapan Allah. Pesannya begitu jelas di ayat 22, “Berhentilah bersandar pada manusia, yang hanya ada napas di hidungnya; untuk apa ia diperhitungkan?” Mengapa bangga dengan segala yang fana sementara Allah Sang Maha Agung yang kekal dan abadi bisa menjadi alasan serta sandaran kita untuk bertahan serta berjuang.
Seruan Nabi Yesaya dalam perikop yang kita baca sesungguhnya adalah sebuah sentakan yang merangsang nurani kita untuk berpikir jauh lebih dalam saat berhadapan dengan beragam keputusan pelik yang menggoda kita untuk menggadaikan nilai-nilai-Nya. Jangan terlalu mudah untuk mendengarkan hawa nafsu dan ingatlah ketetapan-Nya. Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan berbagai macam penggodaan. Nilai dunia telah bergeser dan menjadi semakin dangkal. Dari tadinya berlomba mengejar nilai dan kebajikan, berubah menjadi pengejaran keuntungan semata. Sesama manusia menjadi objek pemuasan hasrat, ciptaan yang lain tidak lagi dipedulikan sebagai faktor pengambil keputusan. Sudah saat nya kita mengingat bahwa setiap pilihan yang kita ambil sesungguhnya datang dengan konsekuensi tersendiri. Rendahkanlah hati di hadapan Allah karena di dalam Allah sajalah ada kebenaran serta kebijaksanaan.
























