Kadang kala kita harus jujur dalam melihat realita yang ada. Bahwa dalam dunia ini seringkali tidak semua orang memanfaatkan kebebasannya untuk memilih dengan baik dan benar yakni pilihan yang bermoral, berlandaskan kebenaran, serta seturut dengan hati nuraninya. Bahkan lebih banyak orang yang memilih untuk hidup dalam pola pikir yang dangkal dan tidak mempedulikan sesama manusia atau ciptaan lainnya. Dalam terminologi yang seringkali dipakai dalam Alkitab, termasuk nubuatan Nabi Yesaya, kedua golongan tersebut dideskripsikan sebagai orang benar dan orang fasik.
Orang benar adalah orang-orang yang mengarahkan keberadaannya hanya kepada Tuhan. Ia berjalan dalam jalan Tuhan sehingga “jalannya lurus”. Jalan lurus berarti segala sesuatu yang dikerjakannya berbuah kebaikan dan menjadi berkat. Ia menyinari sesama dan negerinya. Hanya kebaikan saja yang mengiringi jejak langkahnya. Sementara itu Yesaya juga menyoroti keberadaan orang-orang fasik. Mereka yang berjalan semaunya sendiri dan tidak mempedulikan ketetapan Tuhan. Sang Nabi berharap bahwa orang-orang fasik ini segera mendapat konsekuensi yang sepantasnya atau dengan kata lain keadilan dari Tuhan sendiri. Mereka tidak perlu dikasihani karena hal tersebut hanya membuat mereka tidak belajar bagaimana berlaku benar.
Sahabat Alkitab, dunia memang tengah dilanda dengan krisis yang hebat. Namun hendaknya kita dapat tetap teguh berjalan dalam jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan. Hidup benar dan bermoral sebagai buah ketaatan kepada Tuhan adalah pilihan yang seharusnya senantiasa kita ambil. Bukankah hidup ini terlalu sederhana jika hanya dipakai untuk menurut keinginan hawa nafsu semata. Semoga Roh-Nya senantiasa menuntun kita untuk hidup dalam hikmat dan kebenaran.

























