Beberapa waktu terakhir, media memberitakan aksi mahasiswa yang mengusung tema “Indonesia Bangkrut.” Melalui berbagai tuntutan yang mereka suarakan, aksi tersebut mencerminkan kegelisahan sebagian masyarakat terhadap kondisi bangsa, mulai dari persoalan ekonomi, tata kelola pemerintahan, hingga masa depan kehidupan bersama. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap tuntutan yang disampaikan, aksi tersebut menunjukkan satu hal yang penting: ketika banyak hal dianggap tidak beres, manusia akan bertanya, “Apakah ada yang sungguh peduli?”
Pertanyaan semacam itu sesungguhnya bukan hanya milik masyarakat Indonesia. Yesaya 34 lahir dari dunia yang juga dipenuhi ketidakadilan, kekerasan, dan penyalahgunaan kuasa. Pasal ini diawali dengan seruan kepada bangsa-bangsa untuk mendengarkan penghakiman Allah. Gambaran yang digunakan memang sangat keras dan mengerikan. Langit digulung, tanah menjadi belerang, dan bangsa-bangsa mengalami kehancuran. Namun di balik bahasa yang dramatis itu, Yesaya sedang menyampaikan sebuah pesan bahwa Allah tidak menutup mata terhadap kejahatan.
Dalam pasal ini, Edom tampil sebagai lambang dari segala kekuatan yang membangun kejayaannya di atas penderitaan orang lain. Ia mewakili kesombongan, kekerasan, dan penindasan yang seolah tidak tersentuh oleh hukum maupun kuasa manusia. Namun Yesaya menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan yang kebal terhadap penghakiman Allah. Cepat atau lambat, segala bentuk ketidakadilan akan berhadapan dengan Dia yang adalah Hakim atas seluruh bumi.
Pesan Yesaya ini tetap relevan bagi kita hari ini. Berhadapan dengan berbagai bentuk ketidakadilan yang terus muncul dari waktu ke waktu, kita dapat merasa letih, bahkan perlahan kehilangan keyakinan bahwa keadaan dapat menjadi lebih baik. Namun Yesaya mengingatkan bahwa Allah tidak menutup mata terhadap luka-luka dunia. Ia melihat setiap bentuk penindasan, mendengar setiap jeritan yang diabaikan, dan tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan. Murka Allah dalam pasal ini bukanlah luapan emosi yang tidak terkendali, melainkan ungkapan dari kasih-Nya terhadap kebenaran dan keberpihakan-Nya kepada mereka yang tertindas. Karena itu, iman Kristen tidak mengajak kita untuk menyerah pada keputusasaan, melainkan tetap memelihara pengharapan dan kepedulian. Sebab sering kali perubahan tidak dimulai dari tindakan yang besar, melainkan dari hati yang tetap peka terhadap kebenaran, keadilan, dan penderitaan sesama.
























