Dalam zaman yang penuh dengan godaan untuk selalu mencari validasi diri, rasanya bayangan akan apresiasi, keutamaan, dan keistimewaan menjadi sesuatu yang dikejar oleh banyak orang. Mereka berupaya memoles diri dengan berbagai cara agar mendapat validasi dari orang lain hingga pada akhirnya validasi itu menjadi sebuah adiksi yang menghancurkan. Manusia modern tidak lagi punya waktu untuk mengenali siapa dirinya dan apa tujuannya hidup di dunia ini. Padahal sebagai orang percaya, dua pertanyaan tersebut sangatlah penting. Alkitab senantiasa menunjukkan bahwa kita adalah umat-Nya yang diundang untuk mewujudnyatakan pekerjaan Allah di dunia.
Bangsa Yehuda meneruskan janji Allah pada Bapa-bapa leluhur Israel. Untuk selama-lamanya Allah menjadi Tuhan atas Israel dan ia menjadi umat-Nya. Maka dari itu Israel diundang untuk terus berelasi dengan Allah dan tidak menduakan-Nya. Taat pada perintah-Nya serta memegang ketetapan-Nya. Itulah makna dari keterpilihan Israel. Status sebagai bangsa terpilih bukan untuk memanjakan dan meninabobokan mereka melainkan mengingatkan bangsa itu akan tugas yang mereka embang. Bangsa itu menjadi Hamba-Nya dan Allah menjadi Tuan atas Israel.
Yesaya 42 mengingatkan kembali panggilan Israel sebagai Sang Hamba Tuhan. Ia adalah hamba yang begitu berkharisma dan menuntun orang kepada Allah dalam kelembutan. Kekerasan sama sekali tidak ada dalam pedoman kerja sang hamba. Hamba itu dipanggil untuk mengerjakan karya pembebasan kepada sesama manusia dengan menjadi perantara perjanjian bagi umat manusia, terang untuk bangsa-bangsa, membuka mata yang buta, mengeluarkan orang hukuman dari penjara, dan orang-orang yang duduk dalam kegelapan dari rumah tahanan (ay. 6). Sayangnya sang hamba itu justru menjadi “tuli dan buta”. Mereka lupa akan tugas perutusan dari Sang Tuan hingga akhirnya Allah mengganjar mereka dengan didikan yang begitu keras. Bersyukurlah karena perlahan-lahan hamba itu tersandar dan ingat kembali akan tugasnya.
Sahabat Alkitab, di tengah himpitan nilai-nilai dunia dan ilusi zaman modern. Kita diundang untuk tetap berpikir jernih dan ingat akan tugas perutusan kita. Sesungguhnya kitalah hamba-hamba Tuhan yang dipanggil untuk mengerjakan karya agung Sang Tuan. Dunia tengah dirundung berbagai duka dan kemalangan. Penindasan dan ketidakadilan menjadi realitas yang lumrah dalam dunia. Apakah kita akan mengabaikan realitas itu dengan terjebak pada pencarian validasi diri tanpa henti, atau mulai mengarahkan hati serta pandangan kita kepadanya serta berbuat sesuatu aksi yang nyata. Panggilan sebagai hamba Tuhan berarti menaruh kepedulian dan berbuat sesuatu dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Rasanya mungkin terasa aneh karena kita akan menjadi berbeda dari seisi dunia. Namun itulah artinya menjadi orang-orang yang dipilih-Nya.

























