Diacuhkan atau diabaikan oleh orang lain rasanya pasti tidak menyenangkan. Satu sisi ada kemarahan yang terpendam, tetapi di sisi lain ada terselip rasa malu yang terus membayang-bayangi. Pada akhirnya, diabaikan adalah salah satu kata yang sangat tidak diharapkan oleh siapapun. Ketika pengabaian itu terjadi maka keberadaan seseorang menjadi tidak dipedulikan dan tidak diharapkan lagi.
Sayangnya kita pun sering mengabaikan Tuhan. Kita merasa bisa melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bergantung erat kepada-Nya, peribadahan dan sembah bakti kita kepada-Nya hanyalah formalitas belaka. Itulah yang juga terjadi pada bangsa Israel menurut bacaan kita kali ini. Mereka menduakan Tuhan dengan menyembah dewa-dewa lain, selain itu apa yang menjadi larangan Tuhan sama sekali tidak dipedulikan. Israel berlindung dari statusnya sebagai pilihan Allah, tanpa menyadari bahwa dibalik keterpilihan tersebut ada tanggung jawab yang harus dikerjakan Israel. Seruan Tuhan tidak didengarkan, yang jahat di mata Tuhan justru dikerjakan (ay.12).
Padahal jikalau Israel mau segera berbalik kepada Allah dan tidak lagi mengabaikan-Nya, Allah senantiasa menyediakan pengharapan-Nya. Masa lalu yang kelam dipulihkan Allah melalui masa depan yang gemilang. Janji kesetiaan Allah menjadi pedoman dalam hidup kita. Sayangnya kita lebih sering berlaku seperti Israel yang mengabaikan-Nya. Perintah-Nya tidak lagi kita dengarkan, apa yang tidak disukai-Nya justru menjadi tindakan kita sehari-hari. Kita lebih takut tertinggal dari dunia yang menawarkan segala kuasa dan kekayaan, daripada menaati perintah-perintah Allah. Tanpa sadar kita memilih apa yang fana, dibandingkan dengan kasih setia Tuhan yang kekal. Maka berbaliklah dari jalan yang sesat itu dan janganlah abaikan Dia.
























