Mencerna peristiwa-peristiwa yang datang silih berganti dalam kehidupan kita, tidaklah mudah untuk dilakukan. Terlebih bila hal tersebut terkait dengan hal yang tidak menyenangkan dan membebani hati kita. Begitu berat rasanya ketika Allah mengundang umat-Nya untuk berefleksi atas apa yang dialaminya. Namun itulah yang kita dapat lakukan dengan sebaik-baiknya. Menjalani berbagai peristiwa yang dihadirkan Allah, seraya merefleksikan makna dibalik itu semua.
Dalam sejarahnya Yehuda berhadapan dengan peristiwa yang menjungkirbalikkan kehidupan mereka. Yerusalem diluluhlantakkan oleh bala tentara Babel. Sebagian penduduknya dibuang ke negeri Babel. Yeremia menubuatkan itu semua jauh sebelum terjadi. Ia menyampaikan pesan Allah dengan sebenar-benarnya. Allah berkata, “Singa telah muncul dari belukar, pemusnah bangsa-bangsa telah berangkat, keluar dari tempatnya untuk membuat negerimu menjadi sunyi sepi (ay.7).” Tangis dan ratapan segera mengiringi peristiwa tersebut. Umat Tuhan merasakan derita yang begitu mendalam. Tuhan seolah-olah telah meninggalkan mereka dan meliputi Yerusalem dengan kemarahan-Nya.
Apa yang dapat diperbuat bangsa tersebut di tengah situasi yang teramat mencekam? Allah mewartakan ajakan pertobatan bagi umat-Nya. Bersihkan hati dari kejahatan dan tinggalkanlah segala rancangan jahat. Sebab pada akhirnya tindakan bangsa itulah yang menyebabkan ini semua terjadi. Ganjaran begitu pahit yang menusuk hati (ay.18). Seburuk-buruknya peristiwa yang akan datang tersebut sebenarnya dengan nubuatan Yeremia, Allah memberi kesempatan bagi umat untuk melakukan pertobatan dengan sungguh. Sayangnya undangan itu tidak direspons serta direfleksikan dengan baik.
Sahabat Alkitab, Allah punya beragam cara untuk merengkuh dan mendidik umat-Nya. Bahkan peristiwa yang paling tidak mengenakkan sekalipun, dipakai Allah untuk menyampaikan didikan-Nya. Hanya saja kita harus senantiasa merendahkan hati dan menyediakan diri untuk mendengarkan-Nya. Itulah tantangan kita sebagai umat beriman. Maukah kita merespons segenap peristiwa dengan hati yang jernih dan terarah penuh kepada Allah. Jangan sampai seperti Yehuda yang terlambat untuk merespons pesan pertobatan dari Allah. Padahal dengan sangat lugas, Ia mengutus nabi-Nya untuk menyatakan berita tersebut agar dapat segera direspon oleh umat.
























