Dosa sesungguhnya begitu destruktif. Ia menjalar merasuki kehidupan sehari-hari manusia dan memutarbalikkan logika kita sehingga seolah-olah dosa bukan lagi menjadi suatu masalah. Disinilah kuasa destruktif dosa mulai menguat dan mencengkram erat. Tengoklah para koruptor yang dengan santainya merampok kekayaan negeri ini dan sama sekali tidak merasa bersalah. Maka beriman kepada Tuhan adalah sebuah proses penyadaran atas kuasa destruktif dosa serta betapa Allah saja yang berkuasa menyelamatkan.
Demikianlah Allah menggambarkan kondisi Yehuda yang telah begitu dirusak oleh dosa. Yeremia 14:1 menegaskan bahwa “Dosa Yehuda tertulis dengan pena besi bermata intan, terukir pada loh hati mereka dan pada tanduk-tanduk mezbah mereka sebagai peringatan terhadap mereka.” Bagaikan ukiran pengrajin yang terukir dengan pasti pada benda-benda ciptaannya, demikianlah dosa Yehuda bertahan kekal dan menetap. Dosa itu terukir pada tanduk mezbah, sebuah ungkapan yang merujuk pada peristiwa yang ironis. Mezbah yang seharusnya menjadi tempat penyembahan kepada Tuhan justru menjadi saksi terhadap ketidaksetiaan mereka. Sepanjang sejarah itulah yang terjadi. Berulang Kali Allah menegakkan perjanjian-Nya dan berulang kali pula umat berpaling dari-Nya.
Pada konteks Yehuda, saat itu bahkan mereka berpaling dari Allah dan mengandalkan kekuatan manusia. Kerajaan-kerajaan lain mereka pandang menjadi sumber pertolongan lebih dipercayai daripada Allah yang menjadi tuan atas semesta. Padahal kerajaan-kerajaan tersebut hanya ingin mengeruk keuntungan dari rasa frustasi Yehuda. Maka Allah mengajak mereka untuk kembali kepada-Nya. Berpaling kepada mata air yang hidup dan menyediakan kehidupan sejati, itulah relasi yang erat dan kekal bersama dengan Allah. Disinilah Yeremia memberi teladan kepada umat untuk percaya dengan teguh kepada Allah dan tidak pernah berpaling lagi.
Sadarilah bahwa hati dan logika kita tidak selalu murni dan mengarah kepada kebenaran. Kadangkala kita menundukkan diri pada pencobaan serta salah memilih untuk percaya serta berharap kepada kuasa lain di luar Allah. Maka setiap orang beriman diundang untuk kembali kepada Allah dan menerima air kehidupan dari-Nya. Berkat dan penyertaan Allah yang juga memampukan kita untuk menjadi berkat bagi sesama. Disinilah manusia perlu memilih. Apakah hendak bergantung pada kuasa-kuasa lain di luar Allah ataukah tetap mengandalkan Tuhan senantiasa.
























