Ada sesuatu yang berbahaya ketika sebuah krisis berlangsung terlalu lama: kita dapat mulai terbiasa dengannya. Berita tentang kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, bencana, atau penderitaan manusia datang silih berganti. Kita membaca, merasa prihatin sejenak, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Bukan karena persoalannya telah selesai, melainkan karena kita perlahan belajar hidup berdampingan dengannya. Padahal, hal buruk yang sering terjadi tidak otomatis menjadi sesuatu yang normal. Frekuensi tidak mengubah yang salah menjadi benar. Ketika penderitaan terus berulang dan kita tidak lagi merasa terusik, mungkin bukan krisisnya yang telah hilang, melainkan kepekaan kita yang mulai tumpul.
Yeremia 16 memperlihatkan sesuatu yang tidak biasa. Tuhan melarang Yeremia menikah dan memiliki anak. Ia juga tidak boleh masuk ke rumah duka ataupun rumah pesta. Dalam masyarakat Israel kuno, perkawinan dan keturunan merupakan bagian penting dari keberlangsungan keluarga dan masa depan komunitas. Karena itu, kehidupan pribadi Yeremia sendiri menjadi sebuah tanda: Yehuda sedang berada dalam keadaan yang jauh dari normal. Yeremia bahkan harus menarik diri dari ruang-ruang sosial yang biasanya menjadi tempat manusia berbagi kesedihan dan kegembiraan. Ketidakhadirannya justru menjadi kesaksian. Ketika masyarakat terus menjalani kehidupan seolah-olah semuanya baik-baik saja, seorang nabi dipanggil untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Manusia memang mudah beradaptasi terhadap sesuatu yang terus berulang. Apa yang awalnya mengejutkan, lama-kelamaan dapat terasa biasa. Karena itu, kepekaan moral perlu dijaga. Kita tidak boleh sampai begitu terbiasa melihat penderitaan sehingga tidak lagi merasa perlu bertanya, “Mengapa ini terjadi? Dan apa yang dapat kulakukan?”
Sahabat Alkitab, iman tidak selalu membuat kita nyaman. Kadang-kadang iman justru membuat kita tidak nyaman terhadap sesuatu yang sudah dianggap biasa oleh banyak orang. Jangan buru-buru memadamkan keresahan ketika hati kita terusik oleh ketidakadilan atau penderitaan. Bisa jadi, keresahan itu adalah cara Tuhan menjaga nurani kita tetap hidup.
























