Ketika pasukan Babel mengepung Yerusalem, Raja Zedekia mulai mencari jawaban. Ia mengutus orang kepada Nabi Yeremia untuk meminta pertolongan Tuhan. Mungkin ia berharap Allah kembali melakukan perbuatan besar seperti yang pernah dikenang dalam sejarah Israel: mengalahkan musuh dan menyelamatkan kota-Nya. Namun, ada pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar, “Apakah Tuhan akan menolong?”, yaitu “Apakah Zedekia dan rakyat Yehuda sungguh siap menerima jawaban Tuhan?” Sebab mencari Tuhan dan siap mendengarkan Tuhan bukanlah selalu hal yang sama.
Jawaban yang disampaikan melalui Yeremia ternyata tidak sesuai dengan harapan sang raja. Tuhan tidak menjanjikan kemenangan. Sebaliknya, Yehuda diperhadapkan pada kenyataan pahit: mereka harus menghadapi akibat dari jalan hidup yang telah lama mereka pilih. Bahkan, jalan kehidupan yang ditawarkan justru mengharuskan mereka meninggalkan kota dan menyerah kepada Babel.
Yehuda telah lama hidup dalam keyakinan bahwa Yerusalem dan Bait Allah merupakan jaminan keamanan. Identitas sebagai umat pilihan perlahan dapat berubah menjadi rasa aman yang palsu. Mereka berharap Tuhan akan selalu berada di pihak mereka, tanpa sungguh-sungguh mempertanyakan apakah kehidupan mereka sendiri masih sesuai dengan kehendak-Nya.
Manusia sering datang mencari jawaban ketika hidup mulai kehilangan arah. Namun, kadang-kadang kita tidak sungguh mencari kebenaran. Kita hanya mencari jawaban yang mengkonfirmasi apa yang sejak awal ingin kita percayai. Kita meminta petunjuk, tetapi diam-diam telah menentukan jalan yang kita inginkan. Kita meminta Tuhan berbicara, tetapi hanya siap mendengarkan selama suara-Nya tidak mengusik kenyamanan kita.
Sahabat Alkitab, bacaan hari ini mengajak kita berefleksi: selama ini, apakah kita benar-benar mencari Tuhan, atau hanya mencari pembenaran? Apakah kita sungguh meminta kehendak-Nya, atau sekadar berharap Dia mengiyakan keputusan yang telah kita buat? Berdoa dan meminta jawaban mungkin tidak selalu sulit. Yang lebih sulit adalah menerima jawaban yang menuntut kita berubah. Sebab pertobatan sering kali dimulai bukan ketika Tuhan memberikan jawaban yang kita inginkan, melainkan ketika kita dengan rendah hati bersedia menerima kebenaran yang mungkin selama ini kita hindari.
























