Ada saat ketika panggilan yang dahulu kita terima dengan sukacita justru terasa begitu berat untuk dijalani. Kita tetap percaya, tetap melayani, tetap berusaha setia, tetapi di dalam hati ada kelelahan yang tidak mudah diungkapkan. Kita mungkin bertanya, “Sampai kapan aku harus menjalani semua ini?”
Yeremia mengenal perasaan itu. Ia dipanggil untuk menyampaikan firman Tuhan, tetapi panggilan itu membuatnya menjadi bahan tertawaan dan mengalami penolakan. Ia bahkan berkata, “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau berbicara lagi demi nama-Nya.” Namun, firman itu terasa seperti api yang menyala-nyala dalam tulang-tulangnya. Ia ingin berhenti, tetapi tidak mampu begitu saja meninggalkan panggilannya. Yeremia tidak menyembunyikan pergumulannya. Ia berani mengeluh kepada Allah, bahkan berkata, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!” Bagi sebagian orang beriman, ungkapan seperti ini mungkin terdengar terlalu keras. Bukankah orang percaya seharusnya selalu bersyukur dan kuat?
Namun, mungkin justru di sinilah kita belajar bahwa iman tidak selalu berarti menyangkal apa yang sedang kita rasakan. Ada kalanya kita lelah, ada kalanya kecewa, ada kalanya kita tidak memahami jalan Tuhan. Mengakui semuanya dengan jujur bukan berarti tidak beriman. Justru, kejujuran dapat menjadi bentuk keberanian untuk tetap membawa seluruh diri kita ke hadapan Allah.
Sahabat Alkitab, adakalanya kita berusaha menyembunyikan luka dibalik kalimat, “Aku baik-baik saja.” Padahal, sesuatu yang disangkal belum tentu hilang. Ia dapat tetap tinggal, perlahan mengendap di dalam diri. Karena itu, mungkin salah satu seni kehidupan beriman adalah belajar berkata jujur kepada Tuhan tentang apa yang sungguh-sungguh terjadi di dalam diri kita. Maka, jika hari ini panggilan, tanggung jawab, atau perjalanan hidup terasa terlalu berat, jangan menyangkalnya. Datanglah kepada Tuhan dengan kejujuran. Katakan kepada-Nya ketika kita lelah, kecewa, takut, bahkan ketika kita ingin berhenti. Sebab di dalam panggilan-Nya, ada penyertaan-Nya.
























