Ada orang yang sejak lama membayangkan jalan hidupnya dengan cukup jelas. Ia memiliki cita-cita, menyusun rencana, dan melangkah dengan keyakinan bahwa masa depannya akan berjalan ke arah tertentu. Namun, hidup tidak selalu mengikuti peta yang telah kita buat. Pada suatu titik, jalan yang diimpikan tidak terbuka, dan ia harus menjalani pekerjaan atau kehidupan yang berbeda dari apa yang pernah dibayangkannya. Yang hilang dalam keadaan seperti itu bukan hanya sebuah cita-cita. Ada masa depan yang pernah dibayangkan, perlahan harus dilepaskan. Tidak mudah berdamai dengan kenyataan bahwa hidup ternyata membawa kita ke jalan yang tidak pernah kita pilih. Pada saat seperti itu, kita mungkin bertanya: jika jalan yang selama ini ku perjuangkan telah berakhir, apakah masih ada masa depan di hadapanku?
Pertanyaan serupa dapat dibayangkan hadir dalam kehidupan orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel. Mereka kehilangan tanah, rumah, kota, bahkan dunia yang selama ini membentuk kehidupan mereka. Secara manusiawi, merekalah kelompok yang tampak paling malang. Sementara itu, mereka yang masih tinggal di Yerusalem mungkin merasa lebih aman dan lebih beruntung. Namun, melalui penglihatan tentang dua keranjang buah ara, Allah justru membalik cara pandang tersebut. Mereka yang dibuang digambarkan sebagai buah ara yang baik, sedangkan mereka yang tetap tinggal dalam ketidaksetiaan digambarkan sebagai buah ara yang buruk.
Di sinilah Yeremia 24 menantang cara kita menilai kehidupan. Apa yang tampak sebagai kehilangan belum tentu berarti Allah telah meninggalkan kita. Sebaliknya, apa yang masih kita miliki belum tentu menjadi tanda bahwa kita sedang berjalan dalam kehendak-Nya. Allah berkata kepada orang-orang buangan, “Aku akan memberi mereka hati untuk mengenal Aku.” Pemulihan ternyata tidak selalu dimulai dengan mendapatkan kembali apa yang hilang, melainkan menerima hati dan cara pandang yang baru untuk mengenal Tuhan.
Sahabat Alkitab, selama menjalani hidup, kita tidak akan sepenuhnya terhindar dari pengalaman kehilangan. Ada jalan yang akhirnya tertutup dan masa depan yang tidak pernah menjadi kenyataan, namun, Yeremia mengingatkan kita bahwa kehilangan bukanlah akhir dari seluruh perjalanan. Barangkali Tuhan tidak selalu mengembalikan kita kepada kehidupan yang dahulu kita bayangkan. Namun, bahkan di jalan yang tidak pernah kita pilih, Dia tetap dapat membentuk hati kita dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan.
























