Ada kalanya kita begitu yakin terhadap sebuah keputusan. Kita berdoa, mempertimbangkannya berulang kali, bahkan merasa memperoleh ketenangan ketika memikirkannya. Namun, keyakinan yang kuat tidak selalu berarti bahwa kita telah mendengar suara Tuhan. Bisa saja, tanpa kita sadari, apa yang sebenarnya kita dengarkan adalah suara keinginan, ketakutan, atau harapan kita pribadi yang termanifestasi dalam keyakinan yang kuat.
Pergumulan semacam inilah yang muncul dalam Yeremia 23. Pada masa Yeremia, banyak nabi berkata, “Aku telah bermimpi!” Mimpi dan pengalaman religius dijadikan dasar untuk berbicara atas nama Tuhan. Namun, Allah menyingkapkan persoalan yang lebih dalam: mereka ternyata menyampaikan “tipu muslihat hatinya sendiri”. Disinilah Yeremia mengungkapkan kritik yang tajam. Bahaya terbesar bukan hanya terletak pada kebohongan, melainkan ketika keinginan manusia dibungkus dengan bahasa agama dan kemudian disampaikan seolah-olah merupakan kehendak Tuhan. Suara manusia diakui sebagai suara Tuhan, dan umat pun perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan keduanya. Karena itu, Tuhan membedakan jerami dari gandum dan menggambarkan firman-Nya seperti api dan palu yang menghancurkan bukit batu. Firman Tuhan tidak selalu hadir untuk menenangkan. Ada kalanya firman itu justru membakar kepalsuan yang kita pertahankan dan memecahkan keyakinan yang terlalu lama kita anggap benar.
Sahabat Alkitab, manusia memang mudah mendengar apa yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Kita dapat begitu akrab dengan suara hati sendiri hingga kesulitan membedakan antara apa yang kita inginkan dan apa yang sungguh Tuhan kehendaki. Maka, cobalah bertanya dalam hati, “Suara siapakah yang sebenarnya sedang kudengarkan?”. Tidak setiap keinginan harus segera diberi nama sebagai kehendak Tuhan. Tidak setiap keyakinan harus dianggap sebagai petunjuk-Nya. Sebab, mengenali suara Tuhan juga membutuhkan kerendahan hati: keberanian untuk menguji diri, mendengar firman dengan jujur, dan bersedia menerima ketika suara-Nya ternyata berbeda dari apa yang kita harapkan.
























