Kebenaran dan makna semakin kabur di masa kini. Paradoksnya adalah hal tersebut terjadi saat dunia tengah diwarnai dengan gegap gempita perkembangan teknologi informasi. Namun justru disitulah kejahatan tidak mau kehilangan panggung. Ia datang menghadirkan suara yang menjerumuskan manusia dan menyesatkan pikir. Beragam informasi hoax menyesatkan manusia yang mudah percaya karena bungkus dari informasi itu sangatlah cantik dan menyenangkan. Perlu hikmat untuk membedakan kebenaran dan kesesatan dalam zaman yang limpah ruah informasi ini.
Dalam perikop yang kita baca saat ini rupanya konflik antara dua suara yang mengaku sebagai kebenaran juga mencuat. Sisi pertama diwakili oleh Hananya bin Azur, seorang nabi dari Gibeon. Ia bernubuat di Bait suci di depan para imam dan rakyat. Ia mengklaim membawa pesan dari Tuhan bahwa dalam waktu dua tahun, kuk Raja Babel akan dipatahkan dan semua barang rampasan Bait Suci serta para tawanan akan dikembalikan.
Disinilah kemudian Yeremia hadir untuk mematahkan pendapat Hananya yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran dari Tuhan. Menariknya ia memulai argumentasinya dengan membenarkan sebuah pengharapan yang sebenarnya terkandung dalam pernyataan Hananya. Ia berkata, “Amin semogalah TUHAN berbuat demikian!” Namun apa yang disampaikan Hananya pada akhirnya adalah sebuah harapan pribadi dan bukan kebenaran yang datangnya dari Tuhan, dari situlah perang argumentasi Yeremia dan Hananya dimulai. Pada akhirnya Tuhan mengintervensi dengan menyatakan apa yang benar yakni Tuhan justru akan menguatkan penghukuman atas Yehuda.
Mendengarkan Hananya rasanya memang akan lebih mudah, karena ia menyampaikan sesuatu yang begitu meneduhkan hati. Berbeda dari seruan Yeremia selama ini yang berfokus pada pertobatan dan apa yang terjadi jika seseorang tidak bertobat. Namun itulah watak dari kebenaran bahwa ia berbeda dengan pikiran positif yang dirangkai sebagai penyejuk kegundahan hati, melainkan bersumber dari firman-Nya yang kadangkala menggelisahkan hati dan mewujud dalam seruan pertobatan yang keras. Itulah kebenaran yang menjadi patokan kita yang asalnya dari Tuhan. Memang tidak selalu menyenangkan dan menggugah hati, tetapi kebenaran-Nya selalu melampaui perasaan pribadi kita. Berhati-hatilah terhadap penyesatan dan informasi yang bertujuan untuk mengacaubalaukan kita.
























